Indeks Harmoni Indonesia indikator tujuan kesbangpol

nahjargenki 8 views 28 slides Oct 21, 2025
Slide 1
Slide 1 of 28
Slide 1
1
Slide 2
2
Slide 3
3
Slide 4
4
Slide 5
5
Slide 6
6
Slide 7
7
Slide 8
8
Slide 9
9
Slide 10
10
Slide 11
11
Slide 12
12
Slide 13
13
Slide 14
14
Slide 15
15
Slide 16
16
Slide 17
17
Slide 18
18
Slide 19
19
Slide 20
20
Slide 21
21
Slide 22
22
Slide 23
23
Slide 24
24
Slide 25
25
Slide 26
26
Slide 27
27
Slide 28
28

About This Presentation

IHAI mengukur ketahanan sosial ekonomi lingkungan


Slide Content

AYUB MUKTIONO
Febr 2025

VARIABEL 2023 DIMENSI VARIABEL ASTACITA 2025
1. Ketersediaan Pangan &
Akses Pangan
EKONOMI
1. Ketahanan Pangan dan Ekonomi
Berkelanjutan
2. Keadilan & Kesejahteraan
2. Peningkatan Ketenagakerjaan dan
Kewirausahaan
3. Pluralisme
SOSIAL
3. Penguatan Kehidupan Sosial yang
Harmonis
4. Pendidikan
4. Penguatan Peran Perempuan, Pemuda,
dan Komunitas Marginal5. Kewarganegaraan
6. Akulturasi Budaya
BUDAYA
5. Pelestarian dan Penguatan Nilai Budaya
Lokal
7. Kearifan Lokal &
Keberagaman
6. Penguatan Akulturasi dan Keberagaman
Budaya
8. Toleransi
KEBERAGAMAAN
- RELIGIUS
7. Moderasi Beragama dan Toleransi
Antarumat Beragama
9. Partisipasi Ormas
Beragama
8. Penguatan Nilai-Nilai Keberagamaan
dalam Kehidupan Sehari-Hari
10.Moderasi Beragama
DIMENSI & VARIABEL PENGUKURAN

Kota YOGYAKARTA
DIKETAHUI
PERKEMBANGAN
PERBAIKAN
PENINGKATAN

DIKETAHUI
WILAYAH MANA YG
PERLU PERHATIAN
LOKUS EDUKASI
dll

TERPETAKAN
POTENSI-NILAI
HARMONI
WILAYAH-WILAYAH

DIKETAHUI WILAYAH
PERSEPSI-RENDAH
PARTISIPASI-RENDAH
AKSEPTABILITAS -
RENDAH

DIKETAHUI VARIABEL
PERSEPSI-RENDAH
PARTISIPASI-RENDAH
AKSEPTABILITAS -
RENDAH

DIKETAHUI PROFESI –
USIA & DIMENSI -
RENDAH

DIKETAHUI WILAYAH
YANG KOMITMEN UTK
SELALU MENJAGA
HARMONI
(khusus)

IMPLEMENTASI utk
SUSUN PROGRAM
PEMBANGUNAN di
DAERAH KEDEPAN
(ekonomi)

IMPLEMENTASI utk
KEBIJAKAN
2

PEMBANGUNAN di
DAERAH KEDEPAN

VARIABEL 2023 DIMENSI VARIABEL ASTACITA 2025
1. Ketersediaan Pangan &
Akses Pangan
EKONOMI
1. Ketahanan Pangan dan Ekonomi
Berkelanjutan
2. Keadilan & Kesejahteraan
2. Peningkatan Ketenagakerjaan dan
Kewirausahaan
3. Pluralisme
SOSIAL
3. Penguatan Kehidupan Sosial yang
Harmonis
4. Pendidikan
4. Penguatan Peran Perempuan,
Pemuda, dan Komunitas Marginal5. Kewarganegaraan
6. Akulturasi Budaya
BUDAYA
5. Pelestarian dan Penguatan Nilai
Budaya Lokal
7. Kearifan Lokal &
Keberagaman
6. Penguatan Akulturasi dan
Keberagaman Budaya
8. Toleransi
KEBERAGAMAAN
- RELIGIUS
7. Moderasi Beragama dan Toleransi
Antarumat Beragama
9. Partisipasi Ormas Beragama 8. Penguatan Nilai-Nilai Keberagamaan
dalam Kehidupan Sehari-Hari
10.Moderasi Beragama
DIMENSI & VARIABEL PENGUKURAN 2025 ASTACITA
9. Makan Bergizi Gratis (MBG)KHUSUS

1.Kebutuhan pangan keluarga mudah terpenuhi setiap hari.
2.Harga bahan pangan di daerah terjangkau oleh masyarakat.
3.Bahan pangan tersedia aman sepanjang tahun tanpa kelangkaan.
4. Lahan pertanian di daerah dimanfaatkan secara optimal.
5.Pemerintah atau komunitas lokal mendukung pertanian yang ramah lingkungan.
6. Energi terbarukan seperti solar panel atau biogas mulai digunakan di daerah.
7.Laut atau perairan di daerah masih terjaga kelestariannya dan mendukung
kehidupan masyarakat.
8.Kegiatan berbasis lingkungan, alternatif pangan seperti penanaman pohon atau
pertanian organik, sering dilakukan oleh masyarakat.
9.Sumber daya alam seperti air, tanah, dan hutan digunakan dengan bijaksana.
10.Program pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan memberikan
manfaat nyata bagi masyarakat.
DIMENSI EKONOMI
X1 ; Ketahanan Pangan & Ekonomi Berkelanjutan

1.Pekerjaan mudah didapatkan di daerah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
2.Pekerjaan yang tersedia mendukung keahlian dan kemampuan masyarakat.
3.Banyak masyarakat yang membuka usaha sendiri di daerah.
4.Pemerintah memberikan dukungan nyata terhadap usaha kecil masyarakat.
5.Pelatihan kerja dan kewirausahaan tersedia dan mudah diikuti oleh masyarakat.
6.Produk dan jasa lokal semakin berkembang dan dikenal masyarakat luas.
7.Masyarakat mudah mendapatkan modal atau bantuan untuk memulai usaha.
8.Kegiatan padat karya menciptakan peluang kerja bagi masyarakat yang
membutuhkan.
9.Inovasi dan ide baru dari masyarakat terus bermunculan untuk meningkatkan
ekonomi lokal.
10.Usaha kecil (UMKM) dan pekerjaan yang ada membantu meningkatkan
kesejahteraan masyarakat di daerah.
DIMENSI EKONOMI
X2 ; Peningkatan Ketenagakerjaan dan Kewirausahaan

1.Masyarakat saling menghormati perbedaan budaya, agama, dan tradisi.
2.Interaksi antarindividu dan kelompok di masyarakat berlangsung secara damai.
3.Kegiatan gotong royong aktif dilakukan untuk menyelesaikan masalah bersama.
4.Konflik atau perselisihan dalam masyarakat jarang terjadi dan mudah
diselesaikan.
5.Masyarakat memiliki kesadaran untuk menghargai hak asasi setiap individu.
6.Perayaan hari besar agama dan budaya berlangsung dengan dukungan seluruh
masyarakat.
7.Masyarakat mendukung dan terlibat dalam kegiatan sosial untuk membantu
sesama.
8.Pemimpin atau tokoh masyarakat aktif mendorong toleransi dan persatuan.
9.Perbedaan pendapat di masyarakat diselesaikan dengan dialog dan musyawarah.
10.Kebijakan pemerintah mendukung kehidupan sosial yang harmonis dan inklusif.
DIMENSI SOSIAL
X3 ; Penguatan Kehidupan Sosial yang Harmonis

1.Perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam kegiatan sosial dan pengambilan
keputusan.
2.Pemuda aktif terlibat dalam program sosial atau kegiatan pembangunan masyarakat.
3.Kelompok marginal merasa diterima dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan masyarakat.
4.Perempuan dan pemuda mendapatkan dukungan untuk mengembangkan potensi mereka.
5.Kegiatan masyarakat mendorong pemberdayaan kelompok rentan, seperti difabel atau
warga lanjut usia.
6.Perempuan aktif dalam kepemimpinan komunitas atau organisasi sosial.
7.Pemuda berperan dalam menjaga dan melestarikan tradisi serta budaya lokal.
8.Kelompok marginal memiliki akses terhadap pelatihan atau program pengembangan diri.
9.Partisipasi perempuan, pemuda, dan komunitas marginal diterima secara positif oleh
masyarakat.
10.Pemerintah mendukung program-program pemberdayaan untuk perempuan, pemuda, dan
komunitas marginal.
DIMENSI SOSIAL
X4 ; Penguatan Peran Perempuan, Pemuda dan Komunitas Marginal

1.Masyarakat aktif melaksanakan tradisi dan adat istiadat di daerah mereka.
2.Seni dan budaya lokal, seperti tarian, musik, atau kerajinan, sering dipertunjukkan di
masyarakat.
3.Generasi muda dilibatkan dalam kegiatan yang melestarikan budaya lokal.
4.Festival budaya lokal diadakan secara rutin dan melibatkan seluruh lapisan
masyarakat.
5.Pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai budaya lokal tetap terjaga.
6.Bahasa daerah digunakan secara aktif dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat.
7.Tempat-tempat bersejarah atau budaya dijaga dan dirawat oleh masyarakat.
8.Pemimpin adat atau tokoh budaya mendapat penghormatan dan dukungan
masyarakat.
9.Nilai-nilai budaya lokal diajarkan di sekolah atau melalui kegiatan pendidikan
informal.
10.Pemerintah mendukung pelestarian budaya melalui kebijakan atau program khusus.
DIMENSI BUDAYA
X5 ; Pelestarian dan Penguatan Nilai Budaya Lokal

1.Masyarakat menerima dengan terbuka pengaruh budaya dari luar yang positif.
2.Kolaborasi antara budaya lokal dan budaya luar sering terlihat dalam kegiatan
masyarakat.
3.Perbedaan budaya di daerah dipandang sebagai kekayaan, bukan sumber konflik.
4.Masyarakat memiliki pemahaman yang baik terhadap budaya dari suku atau agama lain.
5.Perayaan budaya yang mencerminkan keberagaman diadakan dengan melibatkan
berbagai kelompok.
6.Nilai-nilai positif dari budaya lain diintegrasikan tanpa menghilangkan budaya lokal.
7.Kegiatan seni dan budaya yang beragam sering diadakan dan mendapat apresiasi
masyarakat.
8.Komunikasi antarbudaya berlangsung dengan baik tanpa prasangka atau diskriminasi.
9.Generasi muda memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi lokal dan
modernitas.
10. Pemerintah dan masyarakat bekerja sama dalam mendukung keberagaman budaya di
daerah.
DIMENSI BUDAYA
X6 ; Penguatan Akulturasi dan Keragaman Budaya

1.Masyarakat saling menghormati perbedaan keyakinan dan agama.
2.Tempat ibadah dari berbagai agama digunakan secara damai tanpa gangguan.
3.Diskusi atau dialog antarumat beragama sering dilakukan untuk mempererat hubungan.
4.Konflik antarumat beragama jarang terjadi dan jika terjadi, cepat diselesaikan secara
damai.
5.Perayaan hari besar keagamaan berjalan lancar dengan dukungan semua kelompok
masyarakat.
6.Pemuka agama mendorong toleransi dan kerukunan dalam khotbah atau ceramah.
7.Masyarakat terlibat dalam kegiatan bersama lintas agama, seperti gotong royong atau
bakti sosial.
8.Pemerintah atau masyarakat lokal mencegah penyebaran paham keagamaan yang
ekstrem.
9.Media lokal mempromosikan toleransi dan moderasi dalam keberagamaan.
10.Kehidupan sehari-hari masyarakat mencerminkan nilai toleransi tanpa diskriminasi
keagamaan.
DIMENSI KEBERAGAMAAN - RELIGIUS
X7 ; Moderasi Beragama dan Toleransi Antar-umat Beragama

1.Nilai-nilai agama diterapkan dalam aktivitas harian masyarakat, seperti kejujuran dan
tanggung jawab.
2.Kegiatan keagamaan, seperti pengajian atau doa bersama, dilakukan secara rutin.
3.Pemuda aktif terlibat dalam kegiatan keagamaan di lingkungan mereka.
4.Kepedulian terhadap sesama, seperti memberikan bantuan kepada yang membutuhkan,
tinggi di masyarakat.
5.Pendidikan nilai-nilai agama dilakukan secara intensif kepada generasi muda.
6.Masyarakat mendukung program-program sosial yang diinisiasi oleh lembaga
keagamaan.
7.Pemuka agama menjadi panutan dalam mengajarkan nilai-nilai kebaikan.
8.Kegiatan ekonomi masyarakat, seperti perdagangan, dilakukan dengan nilai kejujuran
sesuai ajaran agama.
9.Konflik keluarga atau lingkungan diselesaikan dengan musyawarah berdasarkan nilai
agama.
10.Tempat ibadah digunakan sebagai pusat pendidikan dan pengembangan moral masyarakat.
DIMENSI KEBERAGAMAAN - RELIGIUS
X8 ; Penguatan Nilai-Nilai Keberagamaan dalam Kehidupan
Sehari-hari

KHUSUS
X9 ; Makan siang Bergizi Gratis – anak sekolah & ibu hamil.
•Persentase jumlah sekolah dan siswa yang tercakup dalam program
•Kandungan gizi makanan (protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral) sesuai standar
•Tingkat keamanan pangan (misalnya, bebas dari kontaminasi bakteri, bahan kimia
berbahaya, atau kadaluwarsa)
•Tingkat kepuasan siswa terhadap rasa, variasi menu, dan porsi makanan
•Penurunan angka kekurangan gizi (stunting, wasting, underweight) dan peningkatan
status kesehatan siswa.
•Peningkatan hasil belajar siswa (nilai akademik, partisipasi di kelas, kehadiran)
•Anggaran yang digunakan secara efektif untuk penyediaan makanan
•Tingkat keterlibatan masyarakat setempat dan orang tua
•Ketepatan, di mana makan siang disajikan tepat waktu sesuai jadwal.
•Kemampuan program untuk berjalan secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Tags