A. Definisi Definisi farmakokinetik yang lain adalah bagian dari ilmu farmakologi yang mempelajari tentang nasib obat di dalam tubuh meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Adapun definisi yang lebih jelas adalah sebagai berikut, farmakokinetik adalah bagian dari ilmu farmakologi yang khusus mempelajari perubahan konsentrasi obat dan metabolitnya di dalam darah dan jaringan sebagai fungsi dari waktu sebagai hasil dari proses yang dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, transport, biotransformasi (metabolisme), distribusi dan ekskresi.
Farmakodinamik merupakan bagian dari ilmu farmakologi yang mempelajari bagaimana suatu obat itu bekerja menghasilkan efek farmakologi yang diinginkan. Sedangkan menurut medical dictionary dijelaskan bahwa farmakodinamik adalah suatu bagian dari ilmu farmakologi yang mempelajari bagaimana aksi atau efek obat pada makhluk hidup
B. Farmakokinetik Dasar Studi farmakokinetik mencakup baik pendekatan eksperimental dan teoritis. Aspek eksperimental farmakokinetik meliputi pengembangan teknik sampling biologis, metode analitik untuk pengukuran obat dan metabolit dan prosedur yang memfasilitasi pengumpulan dan manipulasi data. Aspek teoritis meliputi pengembangan model farmakokinetik yang memprediksi disposisi obat setelah pemakaian obat. Disposisi obat setelah pemakaian obat dalam tubuh dapat diuraikan ke dalam beberapa tahapan yaitu absorpsi, distribusi, metabolime dan ekskresi (ADME).
Absorpsi adalah suatu proses pemindahan obat dari tempat absorpsi menuju ke sirkulasi sistemik (darah) . Jadi target absorpsi adalah obat sampai di sirkulasi sitemik (darah), terutama untuk obat-obat yang diberikan secara ekstravaskuler seperti oral, intramuskular, sub kutan, intra tekal, intra dermal, rektal dan topikal. Dijelaskan pula bahwa sebelum obat diabsorpsi obat harus dapat dilepaskan dulu dari formulanya. Terdapat beberapa mekanisme absorpsi obat diantaranya difusi pasif, transport konektif, transport aktif, transport terfasilitasi, transport pasangan ion dan endositosis (pinositosis).
Distribusi adalah kemampuan obat melintasi membran sehingga bisa menuju ke tempat aksinya. Distribusi obat sangat tergantung di antaranya pada permeabilitas membran.Dalam gambar dapat dijelaskan bahwa hanya obat yang bebas saja yang bisa melintasi membran sehingga bisa terdistribusi sampai target aksinya (reseptor) maupun sampai pada jaringan. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa ikatan protein plasma sangat mempengaruhi distribusi obat, di mana obat yang sudah terikat protein plasma akan mengakibatkan obat tersebut tidak mampu melintasi membran/tidak dapat terdistribusi ke tempat aksinya dan memunculkan efek.
Penurunan konsentrasi dalam plasma setelah pemakaian obat diakibatkan oleh eliminasi/penghilangan obat dari tubuh. Eliminasi sebagian besar dari tubuh melibatkan proses metabolisme dan ekskresi. Pengetahuan tentang fraksi obat yang dieliminasi melalui metabolisme dan fraksi obat yang dieliminasi melalui ekskresi merupakan informasi yang bermanfaat untuk meramalkan apakah suatu perubahan dalam eliminasi obat kemungkinan dipengaruhi oeh penyakit renal, hepatik atau interaksi obat-obat.
Metabolisme obat sebagian besar terjadi di liver, dan di liver uga dapat terjadi perubahan obat dari bentuk yang tidak aktif (prodrug) menjadi bentuk yang aktif. Terdapat dua fase reaksi metabolisme di hepar yaitu reaksi fase I oleh Sitokrom P450 dan reaksi fase II. Pada reaksi fase I terdapat beberapa jenis reaksi diantaranya hidrolisis, oksidasi, reduksi, demetilasi, metilasi dan dehidrogenase alkohol. Enzim reaksi fase I ditemukan dalam beberapa kompartemen subseluler termasuk sitoplasma (alkohol dan aldehide dehydrogenase) dan mitokondria (monoamine oksidase dan keton reduktase). Sedangkan pada reaksi fase II akan menghasilkan senyawa yang lebih polar, terdapat beberapa tipe reaksi fase II di antaranya glisin konjugasi, glukoronida konjugasi, dan sulfat konjugasi. Dan juga semua enzim yang berperan dalam metabolisme xenobiotik. Gambar menjelaskan bagaimana jalur metabolisme obat (Ristchel & Kearns, 2009).
Ekskresi obat merupakan eliminasi akhir atau hilangnya obat dari tubuh. Proses ini bisa terjadi melalui, paru-paru yaitu dikeluarkan melalui nafas, saliva, keringat juga air susu. Empedu yaitu dikeluarkan melalui faeses dengan melalui sirkulasi hepatik serta eliminasi melalui ginjal merupakan dua jalur utama ekskresi
Jalur ekskresi obat selengkapnya dapat dilihat pada gambar dibawah. Dapat dijelaskan bahwa ekskresi obat bisa melalui intestin, keringat (melalui pori-pori kulit), ginjal (melalui urine), paru-paru, air susu ibu, saliva dan empedu.
C. Model Farmakokinetik Model farmakokinetik digunakan sebagai salah satu upaya untuk menyederhanakan stuktur tubuh manusia atau hewan yang begitu kompleks sehingga mempermudah menerangkan nasib obat (ADME) di dalam tubuh. Model farmakokinetik merupakan model matematika yang menggambarkan hubungan antara dosis dan konsentrasi obat dalam setiap individu. Parameter farmakokinetik adalah suatu besaran matematika yang diturunkan dari model berdasar atas pengukuruan kadar obat/metabolitnya dalam tiap kali sampling. Terdapat dua parameter yaitu parameter primer dan parameter sekunder. Parameter primer adalah parameter yang tidak tergantung pada parameter model yang lain dan hanya dipengaruhi oleh kondisi fisiologis pasien. Parameter sekunder adalah parameter yang dipengaruhi oleh parameter primer.
Suatu model dapat didasarkan secara empiris, fisiologis, atau kompartemental. Model empiris adalah praktis tetapi tidak terlalu bermanfaat dalam menjelaskan mekanisme proses sesungguhnya dimana obat diabsorpsi, didistribusi dan dieliminasi dalam tubuh. Model yang didasarkan pada fisiologisjuga memiliki beberapa keterbatasan, karena homogenisasi jaringan tidak praktis untuk subyek manusia, konsentrasi obat di dalam liver dapat diestimasi dengan mengetahui rasio ekstraksi liver untuk obat yang didasarkan pada pengetahuan fisiologis dan komposisi biokimia dari organ-organ tubuh
Model kompartemental dinilai sebagai model yang sangat sederhana dan berguna dalam farmakokinetik. Obat yang diberikan secara intra vena bolus akan terdistribusi secara cepat dalam cairan tubuh dapat diasumsikan suatu bak yang berisi satu volume cairan yang berkesetimbangan dengan obat secara cepat. Dan disebut sebagai model satu kompartemen terbuka (dapat dilihat pada gambar dibawah)
Model Mammilary. Model Mammilary merupakan model yang paling umum digunakan dalam farmakokinetik. Model Mammilary merupakan suatu sistem yang berhubungan sangat erat, karena seseorang dapat mengestimasi jumlah obat dalam berbagai kompartemen setelah obat dimasukkan ke dalam suatu kompartemen tertentu. Gambar 7 adalah beberapa model kompartemen yang digambarkan dengan model Mammilary
Model Caternary. Model Caternary terdiri atas kompartemenkompartemen yang bergabung satu dengan yang lain menjadi satu deretan kompartemen. Oleh karenanya model Caternary tidak dapat dipakai pada sebagian besar organ yang fungsional dalam tubuh yang secara langsung berhubungan dengan plasma. Karenanya model ini jarang digunakan. Gambar 8 merupakan model kompartemen yang digambarkan dalam model Caternary.
Pada gambar 9, diuraikan bahwa setelah suatu bentuk sediaan obat sebelum mencapai target aksinya akan mengalami beberapa fase biofarmasetik (Liberasi, Disolusi, Absorpsi) dan fase farmakokinetika (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme dan Ekskresi). Setelah obat mencapai target site nya obat akan menghasilkan respon terapi. Akan tetapi jika terjadi perubahan fisiologis pasien maka akan mempengaruhi parameter farmakokinetik obat yang pada akhirnya memerlukan suatu dosis penyesuaian obat, sehingga optimalisasi terapi dapat tercapai.
Berikut adalah faktor-faktor fisiologis yang berubah sehingga memicu penyesuaian dosis obat di antaranya: Faktor penderita : usia pasien, pada pasien geriatri dan pediatri tentunya memiliki pH lambung yang berbeda, waktu pengosongan lambung yang berbeda, kondisi flora usus yang berbeda. Faktor Obat: bentuk sediaan obat, dosis obat, cara penggunaan obat, interaksi obat, toleransi, dan sifat fisika-kimia obat, diantaranya adalah kelarutan, stabilitas, koefisien partisi, pKa, asam, basa, ester, kompleks garam, bobot molekul.
Faktor penyakit : status (derajat) penyakit juga turut mengakibatkan perubahan dalam parameter farmakokinetika obat. Komplikasi penyakit, karena apabila penyakit yang diderita pasien lebih kompleks maka akan banyak obat yang dikonsumsi oleh pasien dan sangat memungkinkan terjadinya interaksi obat. Faktor organ : fungsi organ terutama yang berperan di dalam proses metabolisme dan eliminasi obat. Perfusi organ ginjal dan hepar sangat mempengaruhi eliminasi obat dan bersihan obat dari tubuh, metabolisme jaringan, sisa obat dalam jaringan. Adanya gangguan pada kedua organ utama tersebut akan mempengaruhi metabolisme dan ekskresi obat, yang pasti parameter primer akan berubah dan secara otomatis parameter sekunder juga berubah
D. Rangkuman 1. Farmakokinetik merupakan bagian dari ilmu farmakologi yang mempelajari tentang nasib obat di dalam tubuh yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. 2. Farmakokinetik menggunakan model matematika untuk menguraikan proses-proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi, dan memperkirakan besarnya kadar obat dalam plasma sebagai fungsi dari besarnya dosis, interval pemberian dan waktu. 3. Model farmakokinetik-farmakodinamik disusun untuk mengkaitkan kadar obat dalam plasma dengan konsentrasi obat pada target aksi obat dan menetapkan intensitas dan pelajaran obat. 4. Farmakodinamik merupakan bagian dari ilmu farmakologi yang mempelajari bagaimana suatu obat itu bekerja menghasilkan efek farmakologi yang diinginkan. Farmakodinamik disebut juga suatu bagian dari ilmu farmakologi yang mempelajari bagaimana aksi atau efek obat pada makluk hidup. 5. Farmakokinetika klinik merupakan kinetika obat yang diaplikasikan dalam pengobatan pasien.
6. Farmakokinetik klinik merupakan penerapan metode farmakokinetik untuk terapi obat yang mencakup suatu pendekatan multidisiplin untuk strategi pemberian dosis yang optimal individual yang didasarkan pada kondisi penyakit pasien dan pertimbangan spesifik pasien. 7. Tujuan dari farmakokinetik klinik adalah agar tercapai optimalisasi terapi individual penderita, termasuk dalam hal ini : meningkatkan efikasi tanpa toksisitas (efek samping) dan meminimalisasi toksisitas (efek samping) tanpa mengorbankan efikasi. 8. Disposisi obat setelah pemakaian obat dalam tubuh dapat diuraikan ke dalam beberapa tahapan yaitu absorpsi, distribusi, metabolime dan ekskresi (ADME). 9. Absorpsi adalah suatu proses pemindahan obat dari tempat absorpsi menuju ke sirkulasi sistemik (darah). Terdapat beberapa mekanisme absorpsi obat di antaranya difusi pasif, transport konektif, transport aktif, transport terfasilitasi, transport pasangan ion dan endositosis (pinositosis). 10. Karakteristik obat yang mempengaruhi absorpsi obat seperti derajat ionisasi, berat molekul, kelarutan dan formulasinya. Dan terdapat juga faktor yang mempengaruhi absorpsi obat berkaitan dengan pasien seperti, rute pemberian obat, pH lambung dan juga waktu pengosongan lambung. Hal-hal tersebut harus diperhatikan dalam farmakokinetik klinik sehingga bisa ditetapkan pengaturan dosis secara individual agar tercapai optimalisasi terapi.
11. Distribusi adalah kemampuan obat melintasi membran sehingga bisa menuju ke tempat aksinya, sangat tergantung diantaranya pada permeabilitas membran, ikatan protein plasma sangat mempengaruhi distribusi obat. 12. Eliminasi sebagian besar dari tubuh melibatkan proses metabolisme dan ekskresi. Pengetahuan tentang fraksi obat yang dieliminasi melalui metabolisme dan fraksi obat yang dieliminasi melalui ekskresi merupakan informasi yang bermanfaat untuk meramalkan apakah suatu perubahan dalam eliminasi obat kemungkinan dipengaruhi oleh penyakit renal, hepatik atau interaksi obat-obat. 13. Metabolisme obat sebagian besar terjadi di liver, dan di liver juga dapat terjadi perubahan obat dari bentuk yang tidak aktif (prodrug) menjadi bentuk yang aktif. Terdapat dua fase reaksi metabolisme di hepar yaitu reaksi fase I oleh Sitokrom P450 dan reaksi fase II. 14. Ekskresi obat merupakan eliminasi akhir atau hilangnya obat dari tubuh. Proses ini bisa terjadi melalui paru-paru yaitu dikeluarkan melalui nafas, saliva, keringat juga air susu. Empedu yaitu dikeluarkan melalui feses denganmelalui sirkulasi hepatik serta eliminasi melalui ginjal merupakan dua jalur utama ekskresi. 15. Model farmakokinetik merupakan model matematika yang menggambarkan hubungan antara dosis dan konsentrasi obat dalam setiap individu. 16. Parameter farmakokinetik adalah suatu besaran matematika yang diturunkan dari model berdasar atas pengukuran kadar obat/metabolitnya dalam tiap kali sampling. Terdapat dua parameter yaitu parameter primer dan parameter sekunder. 17. Model farmakokinetik dapat didasarkan secara empiris, fisiologis, atau kompartemental.
18. Model empiris adalah praktis tetapi tidak terlalu bermanfaat dalam menjelaskan mekanisme proses sesungguhnya dimana obat diabsorpsi, diidstribusi dan dieliminasi dalam tubuh. Model yang didasarkan pada fisiologis juga memiliki beberapa keterbatasan, karena homogenisasi jaringan tidak praktis untuk subyek manusia, konsentrasi obat di dalam liver dapat diestimasi dengan mengetahui rasio ekstraksi liver untuk obat yang didasarkaan pada pengetahuan fisiologis dan komposisi biokimia dari organ-organ tubuh. Model kompartemental dinilai sebagai model yang sangat sederhana dan berguna dalam farmakokinetik. 19. Model Mammilary merupakan model yang paling umum digunakan dalam farmakokinetik. Model Mammilary merupakan suatu sistem yang berhubungan sangat erat, karena seseorang dapat mengestimasi jumlah obat dalam berbagai kompartemen setelah obat dimasukkan ke dalam suatu kompartemen tertentu. 20. Model Caternary terdiri atas kompartemen-kompartemen yang bergabung satu dengan yang lain menjadi satu deretan kompartemen. Oleh karenanya model Caternary tidak dapat dipakai pada sebagian besar organ yang fungsional dalam tubuh yang secara langsung berhubungan dengan plasma. Karenanya model ini jarang digunakan. 21. Perubahan fisiologis akan mengakibatkan perubahan parameter farmakokinetik primer, hal ini merubah parameter sekunder dan penggunaan kliniknya juga berubah. Karenanya, diperlukan penyesuaian dosis untuk pasien yang fungsi fisiologisnya berubah. 22. Perubahan fungsi fisiologis dipengaruhi oleh penderita, karena usia pasien akan mempengaruhi kondisi organ vital sehingga perlu penyesuaian dosis. Selain itu juga karena perbedaan berat badan, massa otot, jenis kelamin juga turut mempengaruhi._x0002_
23. Bentuk sediaan obat, dosis obat, cara penggunaan obat, interaksi obat, toleransi, dan sifat fisika-kimia obat, di antaranya adalah kelarutan, stabilitas, koefisien partisi, pKa, asam, basa, ester, kompleks garam, bobot molekul, juga merupakan faktor yang turut memicu penyesuaian dosis. 24. Kondisi pasien, termasuk status gizi pasien akan mempengaruhi jumlah obat bebas sehingga merupakan faktor pemicu penyesuaian dosis. 25. Status (derajat) penyakit juga turut mengakibatkan perubahan dalam parameter farmakokinetika obat.
KADAR OBAT DALAM PLASMA
A. Arti Penting Kadar Obat Dalam Plasma Parameter farmakokinetik diperoleh berdasar data penetapan kadar obat/metabolitnya dalam cairan hayati, dengan kata lain konsentrasi obat merupakan unsur penting dalam penentuan farmakokinetik individual/populasi. Konsentrasi obat dapat ditentukan dalam berbagai cairan hayati seperti, darah, urine, saliva, dan juga air susu ibu
B. Kurva Kadar Obat Vs Waktu Sampling Pasien yang memperoleh obat dalam dosis tertentu diambil darahnya pada waktu tertentu, selanjutnya kadar obat dalam plasma ditetapkan. Konsentrasi obat dalam tiap cuplikan plasma digambar pada koordinat kertas grafik rektanguler terhadap waktu pengambilan cuplikan plasma. Selama obat mencapai sirkulasi sitemik, konsentrasi obat dalam plasma akan naik sampai maksimum. Pada umumnya absorpsi obat terjadi lebih cepat daripada eliminasi. Selama obat diabsorpsi ke dalam sirkulasi sistemik, obat didistribusikan ke semua jaringan dalam tubuh dan juga secara serentak dieliminasi.
C. Penetapan Kadar Obat Dalam Darah Pertama, harus dipertimbangkan manfaat dan risikonya. Sebelum dilakukan penetapan kadar obat dalam darah perlu dipelajari terlebih dahulu ada tidaknya hubungan antara kadar obat dalam darah dengan efek farmakologi dan toksikologinya. Alergi, respon mual/muntah tidak dapat dikaitkan dengan kadar obat dalam darah dan efek farmakologinya. Kedua, penetapan kadar obat didalam darah tidak cukup dilakukan sekali sampling saja, karena tidak dapat diperoleh profil yang lengkap. Karenanya maka terkadang hal ini bisa mengganggu kenyamanan pasien.
Ketiga, di klinik pengambilan darah untuk penetapan kadar obat pasien menemui sejumlah kendala, diantaranya mahal, memerlukan ijin dokter penanggungjawab pengobatan. Disamping itu juga terdapat kendala teknis untuk melakukan analisis penetapan kadar obat dalam darah, seperti reagen dan alat-alat yang lengkap
D. Intepretasi Klinik Terhadap Kadar Obat Dalam Darah Intepretasi klinik dari data kadar obat dalam darah harus melibatkan pertimbangan medis dan kondisi pasien termasuk respon toksisitas maupun farmakologinya. Profil absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi obat, fisiologik pasien dan kepekaan reseptor juga perlu diperhatikan dalam interpretasi klinik terhadap kadar obat dalam darah Intepretasi dilakukan dengan membandingkan kadar obat dalam darah yang teramati dengan kadar obat dalam range terapi. Jika kadar obat dalam darah di atas KTM maka bisa dilakukan evaluasi terhadap gejala toksisitas pasien.
Parameter farmakokinetik diperoleh berdasarkan pada data penetapan kadar obat/metabolitnya dalam cairan hayati, dengan kata lain konsentrasi obat merupakan unsur penting dalam penentuan farmakokinetik individual/populasi.
Konsentrasi obat dapat ditentukan dalam berbagai cairan hayati seperti, darah, urine, saliva dan juga air susu ibu. Pengukuran kadar obat dalam plasma menggunakan metode analisis hayati yang sudah tervalidasi, sehingga dihasilkan informasi yang akurat untuk pemantauan farmakokinetik dan klinis
Dosis obat linier terhadap konsentrasi obat dalam plasma, konsentrasi obat dalam plasma linier dengan konsentrasi obat dalam reseptor. Dan konsentrasi obat dalam reseptor inilah yang menghasilkan efek terapi maupun sebaliknya toksisitas.
Penetapan kadar obat dalam darah sangat penting dalam farmakokinetik klinik, walaupun terdapat kendala yang harus diperhatikan. Interpretasi kadar obat dalam darah juga memperhatikan faktor fisologis dan patofisiologis pasien, serta dosis yang diberikan.
Diharapkan kadar obat berada dalam range terapi yang dikehendaki, atau berada diantara Konsentrasi Toksik Minimum (KTM) dan Konsentrasi Efek Minimum (KEM). Jika kadar obat kurang dari range terapi atau dibawah KEM, maka perhatikan apakah bentuk sediaan obat salah,kepatuhan pasien tidak ada atau bahkan bioavailabilitas obat kurang dan lain-lain.
Apabila kadar obat sudah berada dalam range terapi tetapi belum tercapai kesembuhan, perlu dilihat apakah ada interaksi obat dan berkurangnya kepekaan reseptor obat. Perbedaan kepekaan reseptor di tiap-tiap individu, dapat diatasi dengan melakukan pemeriksaan kadar obat dalam plasma, sehingga pengaturan dosis individu dapat dilakukan.
Penyakit, makanan maupun obat lain dapat menyebabkan interaksi dengan obat, dan akhirnya mempengaruhi fungsi fisiologis organ tubuh. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan penetapan kadar obat dalam plasma sehingga perubahan-perubahan tersebut dapat diatasi. Jika perlu dilakukan penyesuaian dosis berdasar kadar obat dalam darah yang diinginkan, data kadar obat terukur dan dosis obat yang diberikan.
Kurva kadar obat dalam plasma (Cp) Vs waktu (t) dapat dijelaskan dalam dua aspek yaitu aspek farmakologi dan aspek farmakokinetik. Aspek farmakologi kurva Cp Vs t dikaitkan dengan KTM yang merupakan konsentrasi terkecil obat dalam plasma yang menimbulkan efek toksik dan KEM yang merupakan konsentrasi terkecil obat dalam plasma yang menimbukan efek terapetik.
Dengan mengetahui KTM dan KEM dalam kurva konsentrasi obat Vs t maka dapat diketahui mula kerja obat (onset) yang merupakan waktu yang dibutuhkan konsentrasi obat dalam plasma mencapai KEM, dan lama kerja obat (durasi) merupakan selisih waktu mula kerja obat dan waktu yang diperlukan obat turun ke KEM lagi. Sedangkan intensitas obat menggambarkan efek farmakologi sampai maksimum.
Obat yang memiliki daerah terapi/indeks terapi sempit adalah sekelompok obat yang memiliki batasan antara KTM dan KEM yang sempit (< 2) perlu mendapatkan perhatian agar pengaturan dosis dapat mempunyai efek terapi seperti yang diharapkan
Banyak hal yang harus dipertimbangkan di dalam melakukan penetapan kadar obat di dalam darah, diantaranya pertama, harus dipertimbangkan manfaat dan resikonya, kedua, penetapan kadar obat dalam darah tidak cukup dilakukan sekali sampling saja, karena tidak dapat diperoleh profil yang lengkap. Ketiga, karena di klinik pengambilan darah untuk penetapan kadar obat pasien menemui sejumlah kendala, diantaranya mahal, memerlukan ijin dokter penanggungjawab pengobatan. Disamping itu juga terdapat kendala teknis untuk melakukan analisis penetapan kadar obat dalam darah, seperti reagen dan alat-alat yang lengkap.
Interpretasi klinik dari data kadar obat dalam darah harus melibatkan pertimbangan medis dan kondisi pasien termasuk respon toksisitas maupun farmakologinya. Profil absorpsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi obat, fisiologik pasien dan kepekaan reseptor juga perlu diperhatikan dalam interpretasi klinik terhadap kadar obat dalam darah.
Interpretasi dilakukan dengan membandingkan kadar obat dalam darah yang teramati dengan kadar obat dalam range terapi. Jika kadar obat dalam darah di atas KTM maka bisa dilakukan evaluasi terhadap gejala toksisitas pasien. Perhatikan juga adanya interaksi dengan obat lain sehingga memungkinkan terjadinya peningkatan kadar obat dalam plasma.
Apabila kadar obat dibawah KEM, maka terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan seperti, kepatuhan pasien, bagaimana bioavailabilitas obatnya dan parameter farmakokinetik.
Terkadang juga ditemui kasus bahwa kadar obat sudah berada di dalam range terapi akan tetapi kenyataannya pasien tetap tidak sembuh. Maka sebaiknya dilihat lagi apakah ada kemungkinan interaksi obat ataukah berkurangnya sensitivitas reseptor obat (terjadi toleransi ataupun takifilaksis).
PARAMETER FARMAKOKINETIK DALAM REGIMEN DOSIS
Parameter farmakokinetik adalah suatu besaran yang diturunkan dari pengukuran kadar obat dalam plasma dalam tiap kali sampling. Parameter farmakokinetik ada dua yaitu parameter primer dan parameter sekunder. Parameter primer merupakan parameter yang nilainya langsung dipengaruhi oleh faktor hayati sedangkan parameter sekunder merupakan parameter yang dipengaruhi oleh parameter primer.
Adanya perubahan faal fisiologis tubuh akan mengakibatkan parameter primer berubah dan parameter sekunder otomatis juga berubah. Karenanya setiap adanya perubahan fisiologis tubuh maka harus dilakukan penyesuaian dosis/regimen dosis.
Bioavailabilitas menunjukkan fraksi obat dari dosis obat yang mencapai peredaran darah sistemik dalam bentuk aktif, jika diberikan secara iv maka F = 1. Sedangkan jika diberikan secara oral maka F kurang dari 1. Volume distribusi (Vd) menunjukkan volume penyebaran obat dalam tubuh dengan kadar plasma atau serum dengan kata lain Vd adalah volume yang dibutuhkan untuk obat menyebar secara homogen pada darah, plasma dan cairan plasma.
Waktu paruh adalah waktu yang diperlukan untuk turunnya kadar obat dalam plasma atau serum pada fase eliminasi (setelah fase resorpsi dan distribusi) menjadi separuhnya. Klirens atau bersihan menggambarkan volume darah yang dibersihkan dari obat tiap satuan waktu (ml/menit). Pada model satu kompartemen, tubuh dianggap terdiri dari satu kompartemen, yaitu kompartemen sentral. Pada plot data kadar obat darah (Cp) Vs waktu sampling (t) pada kertas grafik semilog akan menghasilkan kurva berupa garis lurus suatu kurva monofase
Pada model dua kompartemen, tubuh dianggap terdiri dari dua kompartemen sentral dan kompartemen perifer atau tepi. Yang termasuk kompartemen sentral adalah jaringan atau organ tubuh yang mempunyai afinitas sama terhadap obat dan mempunyai perfusi atau aliran darah yang sama, meskipun jaringan atau organ tersebut tidak berdekatan secara anatomis atau fisiologis, yaitu darah atau plasma, cairan ekstravaskuler, jaringan dengan perfusi cepat. Dalam kompartemen sentral ini obat terdistribusi secara cepat segera terjadi kesetimbangan
Perubahan sistem tubuh faal biokimiawi maka akan mengakibatkan perubahan parameter primer dan selanjutnya parameter sekunder juga akan berubah. Regimen dosis dimaksudkan agar konsentrasi obat berada di reseptor sehingga terapi menjadi optimal. Dan tidak terjadi toksisitas maupun under dosis. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam regimen dosis, yaitu penentuan dosis awal, dan frekuensi pemberian obat.
Regimen dosis dapat ditinjau kembali jika terjadi perubahan profil farmakokinetik obat dan terjadi permasalahan farmakodinamik obat. Berikut adalah beberapa hal yang harus dipertimbangkan didalam regimen dosis. Pertama, penentuan dosis awal. Kedua, frekuensi pemberian obat
Regimen dosis dapat ditinjau kembali jika, pertama kemungkinan terjadi perubahan profil farmakokinetik obat (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme dan Ekskresi obat berubah). Hal ini bisa terjadi apabila bentuk sediaan obat memiliki bioavailabilitas yang kurang, adanya metabolisme presistemik, malabsorpsi (gangguan pada sistem gastrointestinal), atau mungkin karena ketidakpatuhan pasien. Kedua, kemungkinan terjadi permasalahan farmakodinamik obat, seperti berkurangnya sensitifitas reseptor, munculnya toleransi (maka dosis sebaiknya dinaikkan), takifilaksis (obat harus diganti), interaksi obat di reseptor obat (interval penggunaan obat diatur atau salah satu obat diganti), atau bahkan karena kondisi patologis yang tidak diketahui.