PINDAI.ORG – Menari di Medan yang Riuh / 28 Desember 2015
Halaman 4 | 7
penerbit-penerbit arus utama merilis lebih banyak buku perjalanan bertipe panduan dengan
kemasan populer, The Journeys bisa dibilang sebuah hal baru.
“Dibandingkan tulisan jurnalistik lain saya, di The Journeys saya menulis lebih personal, lebih
ada perenungannya. Saat Windy mengajak berkontribusi, saya mau saja. Saya suka tulisan
perjalanan yang mengajak pembacanya ikut merenung. Mungkin karena saya mulai tua.” Farid
terkekeh.
KAMI bertemu Windy Ariestanty untuk kali pertama setahun lalu. Saat itu ia mengisi kelas
penulisan narasi perjalanan di toko buku kecil kami di Pasar Santa. Kami ingat ia muncul
dengan rambut yang baru saja dicat biru. “Ini bagus untuk memulai percakapan, terutama
dalam perjalanan,” katanya sambil tertawa.
Jika Farid Gaban bisa dibilang angkatan senior, Windy Ariestanty adalah generasi lebih baru
dan lebih memfokuskan kerja kepenulisannya pada narasi perjalanan. Ia menulis buku
perjalanan pertamanya, Life Traveler (2011), dan menjadi nominasi dalam Anugerah Pembaca
Indonesia 2012 kategori nonfiksi. Ia menghabiskan sepuluh tahun kariernya sebagai editor di
GagasMedia dan ikut menggagas ‘Writing Table’, sebuah kelas penulisan yang berpindah-
pindah dari satu kota ke kota lain.
Kami bertemu kembali dengan Windy di sebuah kedai kopi yang ramai di Jakarta. Sambil
tertawa, ia menyebut kata “riuh” untuk menggambarkan situasi skena penulisan perjalanan saat
ini.
Jumlah buku perjalanan yang terbit dan blog yang aktif semakin banyak. Di toko buku pun,
buku perjalanan dengan gaya narasi mulai lebih banyak ditemukan ketimbang jenis panduan.
Namun, sebaliknya, belum banyak kemajuan dalam hal pendekatan tema dan kualitas
penulisan. Kami berpikir, dalam dekade terakhir ini, penulis buku perjalanan dengan
kedalaman dan kualitas tulisan yang diakui baik masih belum bergeser dari karya-karya
Agustinus Wibowo.
Ketiga karya Agustinus—Selimut Debu (2010), Garis Batas (2011), dan Titik Nol (2013), tidak
hanya membuat pembaca mengenal lebih dekat dimensi-dimensi kehidupan di Afghanistan,
Kazakhstan, atau India, tapi juga mendorong pembaca melihat lebih dalam pencarian Agustinus
akan identitas diri dan makna rumah untuknya.
Menurut Windy, tujuan penulisan perjalanan bukan semata untuk membuat pembaca ingin
pergi ke tempat yang ditulis. Tulisan perjalanan meminjamkan mata kepada pembaca, sehingga
pembaca dapat turut serta merasakan apa yang dirasakan penulis, meresapi cara pandang yang
ditawarkan, dan mendapatkan ‘rasa’ dari tempat yang diceritakan. Sebuah tempat memiliki
banyak dimensi yang bisa digali dan ditampilkan. Untuk itu penulis harus merupakan pengamat
yang baik, memiliki kepekaan yang tinggi, dan punya sudut pandang yang kuat.
Beberapa waktu lalu, kami membaca novel perjalanan karya Teju Cole, Everyday Is for the
Thief, yang mampu membawa pembaca merasakan kekerasan keseharian di Lagos. Berjalan di
jalanannya yang ramai tanpa berani membuat kontak mata, berada di warung internet dengan
pemuda-pemuda yang mengirimkan surat elektronik ke seluruh dunia dengan kedok
menawarkan pembagian warisan, atau berada di ruangan yang sesak di pusat kota Lagos saat
listrik padam di tengah malam, sementara di sudut lain seorang bayi menangis meraung-raung.
“Hal ini tidak mudah,” ujar Windy. “Si penulis harus terus berlatih dan rajin mengamati.”
Kami teringat sebuah tulisan Windy dari kunjungannya ke Bromo. Ia tidak bercerita tentang
keindahan sama sekali; ia menulis interaksinya dengan Marsiti, seorang ibu lanjut usia warga
desa di kaki gunung. Interaksi yang ditampilkan sederhana soal bagaimana Marsiti mengajari