Retorika Aristoteles, Pluralisme , dan Administrasi Publik Oleh Anthony Deforest Molina & Michael W. Spicer Disusun ulang dalam format presentasi profesional
Daftar Isi 1. Pendahuluan 2. Konsep Retorika Aristoteles 3. Hubungan Retorika dan Etika 4. Retorika sebagai Alat Analisis Politik 5. Peran Retorika dalam Administrasi Publik 6. Kritik terhadap Pendekatan Positivistik 7. Perspektif Dwight Waldo dan Pemikiran Aristotelian 8. Pandangan Kontemporer terhadap Retorika 9. Pluralisme Nilai dalam Administrasi Publik 10. Ketidaksesuaian dan Ketidakbandingan Nilai 11. Konflik Nilai dan Dilema Etika 12. Relevansi Retorika Aristotelian 13. Penerapan dalam Pengambilan Keputusan Publik 14. Manfaat Retorika bagi Administrator Publik 15. Kesimpulan
Pendahuluan Artikel ini membahas bagaimana konsep retorika Aristoteles dapat diterapkan dalam konteks administrasi publik modern, khususnya dalam menghadapi pluralisme nilai dan dilema etika .
Konsep Retorika Aristoteles Retorika menurut Aristoteles adalah seni berbicara yang bertujuan mempengaruhi orang lain. Ia menekankan pentingnya ethos ( karakter ), pathos ( emosi ), dan logos ( logika ) dalam persuasi .
Hubungan Retorika dan Etika Aristoteles memandang retorika tidak hanya sebagai alat komunikasi , tetapi juga sebagai sarana moral dan etika dalam mencari kebenaran bersama di ruang publik .
Retorika sebagai Alat Analisis Politik Retorika berperan dalam membantu masyarakat memahami isu politik dan etika . Ia memungkinkan diskusi rasional tanpa menghilangkan perbedaan nilai .
Retorika dalam Administrasi Publik Retorika memberikan kerangka untuk memahami bagaimana administrator publik berkomunikasi , membuat keputusan , dan menyeimbangkan nilai-nilai yang bertentangan .
Kritik terhadap Pendekatan Positivistik Pemikir seperti Herbert Simon menekankan pendekatan ilmiah dan kuantitatif . Namun , pendekatan ini dikritik karena mengabaikan dimensi nilai dan etika dalam administrasi publik .
Perspektif Dwight Waldo Waldo menegaskan bahwa administrasi publik tidak bisa dilepaskan dari nilai dan moralitas . Ia mengusulkan pendekatan Aristotelian yang menekankan kebijaksanaan praktis ( phronesis ).
Pandangan Kontemporer terhadap Retorika Penulis modern seperti Wright & Hart menekankan bahwa tidak semua hal penting dapat diukur secara ilmiah . Pendekatan retorika membantu memahami realitas sosial yang kompleks .
Pluralisme Nilai Pluralisme nilai berarti adanya banyak nilai yang sama-sama penting namun tidak selalu sejalan . Dalam administrasi publik , hal ini menimbulkan dilema antara efisiensi , keadilan , dan kebebasan .
Ketidaksesuaian dan Ketidakbandingan Nilai Beberapa nilai tidak dapat dibandingkan secara langsung . Hal ini membatasi peran rasionalitas dan menuntut kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan .
Konflik Nilai dan Dilema Etika Administrator publik sering menghadapi situasi di mana setiap pilihan memiliki konsekuensi moral. Pendekatan retorika membantu menimbang dan menjustifikasi keputusan secara etis .
Relevansi Retorika Aristotelian Retorika Aristotelian menekankan keseimbangan , deliberasi , dan kemampuan menilai situasi spesifik . Pendekatan ini sejalan dengan realitas pluralistik dalam pemerintahan modern.
Penerapan dalam Pengambilan Keputusan Dengan memahami audiens dan konteks sosial , administrator publik dapat mengomunikasikan kebijakan secara lebih efektif dan etis .
Manfaat Retorika bagi Administrator Publik 1. Meningkatkan kemampuan persuasi . 2. Memperkuat komunikasi etis . 3. Membantu memahami nilai-nilai masyarakat . 4. Mendorong transparansi dan partisipasi publik .
Kesimpulan Retorika Aristotelian relevan bagi administrasi publik karena membantu memahami , menyeimbangkan , dan mengkomunikasikan nilai-nilai yang bertentangan secara bijak dan etis .