PINDAI.ORG – Wisata Sumur / 22 September 2015
!
Halaman!4!|!7!
!
terdiri dari dua saf, 20 panel, dan dua diorama, adalah Selasar D. Selasar sebelumnya, Selasar B
dan C, garing karena hanya berisi foto-foto flat tentang peran besar Soeharto di peristiwa
Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Operasi Trikora 1962.
Di Selasar D berbeda. Dari 20 panel, ada 14 panel diperuntukkan untuk Partai Komunis
Indonesia (PKI), SATU-SATUNYA partai yang istimewa di hati Soeharto, melampaui Golkar
dengan watak kader-kader terkininya.
Anda jangan mengeluh jika di Selasar D ini menjadi tempat pemberhentian utama para
pengunjung yang lain, termasuk puluhan anak kecil dari SD 2 Sedayu, SD Brongkol, dan SD
Ngablak Turi serta belasan pengunjung dari Bali yang juga sedang berdarmawisata memburu
sensasi seperti saya pada pekan kedua September. Yang membuat selasar panjang ini menarik,
selain berfoto, tentu saja merasakan enigma kemarahan begitu busuknya sumur yang digali PKI
itu. Lebih sial lagi dan menabrak “pamali” orang Jawa, sumur tua berisi mayat-mayat jenderal
berbudi itu ditutupi PKI dengan cara ditanami pohon pisang.
Selasar D ini begitu panjang dan menjadi pokok utama Memorial ini karena memang di
sumur inspirasinya (buku Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya), bab “G.30.S./PKI” menjadi
bab terbanyak halamannya, lebih-kurang 15 halaman. Kalau ditambah dengan bab berikutnya
yang masih sepembahasan, jadinya 20 halaman. Bab-bab lain dari dari 102 bab buku ini
umumnya 5-7 halaman. Yang terbanyak kedua hanya bab “Akar Saya dari Desa” yang
menghabiskan 13 halaman.
Memorial ini seperti mendegradasi, selain PKI, pencipta sumur-buruk itu adalah
Angkatan Udara yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma. Dan sumur-
buruk itu bernama “Lubang Buaya” yang secara administratif masuk dalam kawasan Pondok
Gede, Jakarta Timur saat itu, sebelum dilimpahkan ke Kecamatan Cipinang seperti saat ini.
Dari namanya saja, “Lubang Buaya”, sudah meruapkan suasana horor. Ketika ditambah
drama satu babak di malam jahanam yang direngkuh dengan macam-macam istilah, “Lubang
Buaya” pun bertiwikrama menjadi teror.
Maka bukan ujug-ujug jika perihal sumur ini yang menjadi scene awal yang dipilih Arifin
C. Noer dalam film Pengkhianatan G 30 S/PKI dengan suara echo yang gaib dari dalam sumur:
"Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pancasila tidak mungkin
dipatahkan hanya dengan mengubur kami dalam sumur ini. Lubang Buaya, 1 Oktober 1965”.
Setelah suara itu, score bikinan Embi diperdengarkan. Sumur dan score itu adalah duo penebar
teror di film bergenre “hantu” ini.
Sebagai orang Jawa yang lahir pada 8 Juni 1924 di kampung terpencil semacam Kemusuk,
Soeharto percaya betul makna sumur. Dalam spiritual Jawa, sumur adalah sumber kehidupan,
juga dari mana rezeki didapatkan. Maka dari itulah, sumur tidak boleh ditutup. Bahkan yang
sudah ditutup, perlu digali lagi.
Sumur sakti di Lubang Buaya bukan saja menghapus segala dosa penggelapan senjata
Soeharto saat bekerja di Pangdam Diponegoro. Tetapi sumur yang sudah “ditutup” cakra dan
“ditanami” pohon pisang itu digali kembali karena membawa keberuntungan memberikannya
kekuasaan maha absolut. Sumur itu kemudian tak hanya menjadikan partai palu arit sebagai
“bahaya laten” hingga setengah abad pada 2015 ini, tapi juga merontokkan “keperkasaan”