ELA PRATIWI - JURNAL PPG 2024 MODUL 3.pdf

nanangsudarwoko96 11 views 13 slides Oct 27, 2024
Slide 1
Slide 1 of 13
Slide 1
1
Slide 2
2
Slide 3
3
Slide 4
4
Slide 5
5
Slide 6
6
Slide 7
7
Slide 8
8
Slide 9
9
Slide 10
10
Slide 11
11
Slide 12
12
Slide 13
13

About This Presentation

jurnal pendidikan


Slide Content

JURNAL
PEMBELAJARAN
MODUL 3
PENGANTAR PENDIDIKAN
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

LPTK
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH
SUMATERA
UTARA
2024
“Keragaman Peserta Didik“

NAMA : ELA PRATIWI, S.Pd.
NO. UKG : 202588806762
BIDANG STUDI : PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA





A. KONSEP KERAGAMAN PESERTA DIDIK
Bagaimana dapat merancang kelas yang bisa memenuhi kebutuhan peserta didik
secara adil? Keragaman menjadi hal yang penting karena:
● Keragaman peserta didik di dalam kelas adalah kepastian,
● Keragaman menjadi landasan yang kaya akan perspektif,
● Keragaman menjadi penunjang lingkungan belajar yang optimal,
● Keragaman menjadi bagian dari interaksi sosial, dan
● Keragaman mendukung perkembangan peserta didik.
Keragaman peserta didik adalah perbedaan-perbedaan yang ada di antara peserta didik
dalam suatu lingkungan pendidikan. Keragaman peserta didik dapat berbentuk dalam
berbagai aspek namun tidak terbatas pada latar belakang sosial, budaya, kemampuan,
kebutuhan pembelajaran, bakat dan karakteristik lain. Penerapan keragaman peserta
didik dalam pembelajaran adalah mengakui bahwa setiap peserta didik merupakan
individu yang unik dengan kebutuhan, potensi, dan karakteristik yang berbeda. Sebagai
guru profesional, seni dalam pembelajaran adalah ketika kita memiliki kepekaan pada
perkembangan dan keragaman peserta didik sehingga keunikan menjadi kekuatan
dalam merancang pembelajaran yang menyenangkan.

B. JENIS-JENIS KERAGAMAN PESERTA DIDIK


Gambar: Pemetaan Keragaman Peserta Didik
KERAGAMAN PESERTA DIDIK
DAN PENDIDIKAN INKLUSIF

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

❖ Keragaman Gaya Belajar dan Tipe Kecerdasan
Keragaman gaya belajar dan tipe kecerdasan merupakan perbedaan cara individu
memproses, mengorganisir, dan mengintegrasikan informasi baru dalam konteks
pembelajaran.
1. Verbal Linguistik: Mahir berbahasa baik bahasa tulis maupun bahasa lisan,
unggul dalam kegiatan seperti menulis, mendongeng ataupun berbicara.
Implementasi: diskusi kelompok, memberikan kesempatan untuk membaca
bersama, berdiskusi, pembuatan cerita/mendongeng, dan menyampaikan
informasi melalui presentasi lisan.
2. Auditori: lebih suka belajar dengan mendengar, menyerap informasi lebih baik
dengan mendengar daripada membaca atau melihat, cenderung menyukai
pembicaraan.
Implementasi: mendengarkan penjelasan guru dengan baik, mengingat
informasi melalui ucapan atau musik, belajar dengan mendengarkan rekaman
suara atau podcast.
3. Naturalis: Peka terhadap alam, kemampuan mengategorikan elemen
lingkungan, memiliki ketertarikan yang kuat terhadap alam, hewan tanaman
ataupun sistem ekologi.
Implementasi: pembelajaran lapangan, observasi terhadap fenomena alam
atau lingkungan sekitar, simulasi atau model lain untuk memahamkan konsep-
konsep alam.
4. Kinestetik: Memiliki kesadaran tubuh yang baik. Atlet, penari, dan pengrajin
seni seringkali menunjukkan kecerdasan ini.
Implementasi: simulasi atau aktivitas fisik untuk membantu memahami konsep,
memberikan kesempatan untuk melakukan eksperimen atau proyek dan
kegiatan yang melibatkan gerakan fisik, dan juga dapat memanfaatkan
permainan edukatif yang melibatkan gerakan.
5. Interpersonal: Memiliki pemahaman yang mendalam tentang emosi, motivasi,
dan niat orang lain, menjadikan peserta didik dengan kecerdasan ini memiliki
keunggulan dalam interaksi sosial, berperan sebagai pemimpin, dan
merancang resolusi konflik.
Implementasi: mendorong belajar dalam tim, memfasilitasi diskusi kelompok
ataupun bekerjasama dalam proyek, memberikan tugas model kolaboratif,
mempergunakan bermain peran ataupun simulasi untuk memahamkan pada
dinamika sosial.

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

6. Interpersonal: Berhubungan dengan kesadaran diri, introspeksi, dan
kecerdasan emosional. Peserta didik dengan kecerdasan ini memiliki
pemahaman mendalam tentang emosi, pikiran dan motivasi mereka sendiri.
Implementasi: memberikan anjuran pada mereka untuk menulis jurnal atau
refleksi pribadi, memberikan tugas atau proyek mandiri dan memungkinkan
refleksi diri, mendorong untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis
aspirasi pribadi dan melibatkan peserta didik dalam kegiatan yang membantu
mereka memahami diri sendiri.
7. Eksistensial: Peserta didik dengan kecerdasan ini memiliki pemahaman
mendalam dalam filsafat dan eksistensial, seperti makna hidup dan kondisi
manusia.
Implementasi: memfasilitasi diskusi tentang tujuan hidup dan makna eksistensi,
mengeksplorasi dan mengapresiasi keberagaman dan bagaimana pandangan
dunia terhadap keberagaman, dorong proyek yang mampu memberikan
pemahaman terkait makna hidup, dan fasilitasi pemahaman tentang karir dan
tujuan hidup.
8. Logis Matematis: Melibatkan penalaran logis, pemecahan masalah, dan
operasi matematika. Peserta didik dengan kecerdasan ini memiliki
kemampuan analitis dan berpikir kritis.
Implementasi: pendekatan problem-solving dan penerapan konsep matematika
dalam konteks nyata.
9. Visual Spasial: Peserta didik yang lebih suka menggambar, visualisasi ruang,
dan dapat memvisualisasikan ide atau konsep dengan lebih baik, memiliki
kemampuan orientasi ruang yang baik.
Implementasi: penggunaan diagram/grafik/peta konsep untuk memahamkan
peserta didik terhadap informasi, lebih suka membaca atau menulis catatan,
menyerap informasi melalui pengamatan visual seperti presentasi atau video.

❖ Keragaman Kebutuhan Khusus
Kebutuhan khusus peserta didik merujuk pada situasi dimana peserta didik
memerlukan penyesuaian khusus dalam pembelajaran karena adanya kondisi
disabilitas atau keadaan khusus lainnya. Terkait dengan kebutuhan khusus,
pengkategoriannya juga terbagi dalam dua kondisi, yaitu:

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

1. Kebutuhan Khusus Permanen
Merujuk dari UU RI Nomor 8 Tahun 2016 Bab II terkait Ragam Penyandang
Disabilitas, yang mengategorikan disabilitas menjadi empat kategori, fisik (dan
motorik), disabilitas intelektual, disabilitas mental dan disabilitas sensorik, maka
berikut penjelasannya:
Gambar: Pemetaan Disabilitas Permanen

a) Disabilitas Fisik (dan Motorik): Berbagai kondisi disabilitas fisik dan motorik
mempengaruhi mobilitas dan fungsi fisik/terganggunya fungsi gerak. Ini
termasuk kondisi seperti cerebral palsy/CP, lumpuh/layu, paraplegi, distrofi
otot, cedera tulang belakang, atau kehilangan anggota tubuh/amputasi dan
juga orang kecil.
b) Disabilitas Intelektual: Perilaku adaptif dan fungsi intelektual yang terbatas
adalah tanda disabilitas intelektual. Termasuk dalam kategori ini adalah
kondisi Down Syndrome (DS), lambat belajar dan disabilitas grahita.
Penyandang disabilitas intelektual memerlukan dukungan tambahan untuk
keterampilan hidup mandiri, pembelajaran, dan komunikasi.
c) Disabilitas Mental: untuk disabilitas mental terdapat dua pembagian,
pertama adalah faktor psikososial, termasuk dalam kategori ini adalah kondisi
seperti OCD Obsessive-Compulsive Disorder, skizofrenia, bipolar, depresi,
anxiety dan gangguan kepribadian. Individu dengan disabilitas mental sering
distigma dan didiskriminasi, yang dapat menghambat mereka untuk
mendapatkan pekerjaan, sekolah, dan perawatan medis.

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Kedua adalah disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan
interaksi sosial diantaranya autis dan hiperaktif.
d) Disabilitas Sensorik: Disabilitas sensorik adalah gangguan pada salah satu
atau kedua indra. Orang yang mengalami gangguan penglihatan dapat
dikategorikan hanya melihat sebagian (low vision) atau buta (blind/buta total),
sementara orang yang mengalami gangguan pendengaran juga termasuk
kategori disabilitas sensorik baik yang memiliki sisa pendengaran tuli sebagian
maupun yang tuli total.

Selain itu, terdapat juga kondisi dalam kategori berkebutuhan khusus yang
memerlukan pelayanan khusus adala kondisi kemampuan yang diatas rata-rata
yakni cerdas istimewa berbakat Istimewa, yaitu yaitu Giftedness atau Cerdas
Istimewa juga merupakan bagian dari pada kebutuhan khusus intelektual yang
memerlukan akomodasi dalam pembelajaran melalui pembelajaran yang
berdiferensiasi untuk menyeimbangkan kompetensi intelektual yang jauh
diatas/melebihi peserta didik lain.

2. Kebutuhan Khusus Temporer
Kebutuhan khusus temporer, juga dikenal sebagai disabilitas jangka pendek,
mengacu pada kondisi yang menghalangi seseorang untuk melakukan aktivitas
tertentu dalam jangka waktu terbatas. Jenis disabilitas ini dapat termasuk, tetapi
tidak terbatas pada:
a) Kebutuhan emosional dan psikologis (kebutuhan khusus emosional
dan psikologis): peserta didik yang mendapatkan perawatan terus-
menerus dapat mengalami gejala yang mirip dengan gangguan kesehatan
mental, seperti serangan panik, insomnia, dan kecemasan berat. Gejala-
gejala ini dapat sementara menghambat kemampuan mereka untuk
berfungsi secara normal.
b) Physical Disabilities (berkebutuhan khusus fisik): peserta didik yang
mendapatkan perundungan fisik dapat mengalami cedera yang membatasi
mobilitas atau kemampuan fisik mereka, misalnya karena kecelakaan atau
kondisi sakit untuk sementara waktu, yang membuat mereka diklasifikasikan
sebagai penyandang disabilitas sementara secara fisik bisa sampai
mengalami hambatan gerak anggota tubuh.
c) Cognitive Disabilities: Stres dan trauma yang terus menerus yang
disebabkan oleh perundungan dapat mengganggu fungsi kognitif,

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

mengganggu daya ingat, rentang perhatian, dan kemampuan peserta didik
untuk memecahkan masalah.

Dengan mengakui dan mengakomodasi kebutuhan orang dengan disabilitas
temporer, kita dapat meningkatkan empati, mengurangi stigma, dan
meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan mereka. Hal tersebut dapat
dilakukan melalui advokasi yang dapat membantu kebijakan dan inisiatif
masyarakat menjadi lebih inklusif.

Pendidik dan masyarakat dapat membuat solusi yang mendukung peserta didik
temporer ini dengan memahami kompleksitas disabilitas sementara. Ini akan
memastikan bahwa pembelajaran berlanjut dengan cara yang inklusif dan
mendukung perkembangan seluruh peserta didik.

C. AKOMODASI YANG LAYAK DALAM PEMBELAJARAN
Akomodasi yang layak berdasarkan Permendikbudristek No. 48 Tahun 2023 dan dapat
diterapkan dalam pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang
beragam, yaitu:

❖ Aksesibilitas Ruang Belajar
Ruang belajar sebaiknya memperhatikan aksesibilitas yang dapat diakses dan
membuat nyaman untuk seluruh peserta didik tanpa terkecuali.

❖ Fleksibilitas Proses Pembelajaran
Fleksibilitas proses pembelajaran dalam pendidikan inklusif merujuk pada
kemampuan dan kesiapan sistem pendidikan untuk menyesuaikan dan
menyelaraskan metode, materi, dan lingkungan pembelajaran dengan
keberagaman peserta didik. Berikut merupakan bentuk fleksibilitas proses
pembelajaran:
1. Ragam Gaya Belajar
2. Diferensiasi Instruksional
3. Penggunaan Teknologi Inklusif
4. Pembelajaran Kolaboratif
5. Adaptasi pada Kebutuhan Khusus.
6. Evaluasi yang Beragam
7. Desain Ruang Belajar yang Inklusif

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

❖ Fleksibilitas Bentuk Materi Pembelajaran
Fleksibilitas bentuk materi pembelajaran merujuk pada kemampuan untuk
menyajikan informasi dan materi pembelajaran dalam berbagai bentuk, format, dan
media. Berikut adalah beberapa aspek penting dari fleksibilitas bentuk materi
pembelajaran:
1. Media pembelajaran: penggunaan berbagai media pembelajaran, termasuk
gambar, video, animasi, dan rekaman suara, untuk mendukung berbagai gaya
belajar.
2. Format materi: fleksibilitas dalam menyediakan materi dalam berbagai format,
seperti teks cetak, dokumen digital, rekaman audio, atau kombinasi visual-
audio.
3. Interaktivitas: penggunaan elemen interaktif, simulasi, atau aktivitas
pembelajaran online yang memungkinkan peserta didik terlibat secara
langsung.
4. Modul pembelajaran: penyusunan materi pembelajaran dalam modul- modul
yang dapat diakses secara terpisah, memungkinkan fleksibilitas dalam proses
belajar.
5. Keragaman sumber belajar, pilihan bahan bacaan: menyediakan bahan
bacaan yang bervariasi dan dapat dipilih sesuai minat dan tingkat kesulitan
peserta didik.
6. Pilihan bahasa: materi dalam berbagai bahasa untuk mendukung peserta didik
dengan kebutuhan bahasa khusus.
7. Aksesibilitas: memastikan materi dapat diakses dengan mudah melalui
perangkat teknologi, dan menyediakan alternatif untuk peserta didik dengan
kebutuhan khusus.
8. Penyesuaian tingkat kesulitan: menyesuaikan tingkat kesulitan materi atau
tugas agar sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
9. Peta konsep dan grafik: memasukkan peta konsep, grafik, dan ilustrasi untuk
memvisualisasikan konsep-konsep pembelajaran.
10. Forum diskusi dan kolaborasi: mendorong partisipasi peserta didik melalui
forum diskusi, kegiatan kolaboratif, dan platform interaktif.
11. Panduan tahapan pembelajaran: panduan langkah demi langkah untuk
memandu peserta didik melalui proses pembelajaran.
12. Penilaian yang beragam: menggunakan metode penilaian yang beragam,
seperti ujian tertulis, proyek, presentasi, dan portofolio.

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

13. Adaptasi untuk kebutuhan khusus: menyesuaikan materi untuk memenuhi
kebutuhan peserta didik dengan kondisi khusus atau kebutuhan khusus.

❖ Fleksibilitas Waktu dan Evaluasi Pembelajaran
Berikut adalah beberapa aspek penting dari fleksibilitas waktu dan evaluasi dalam
konteks kelas inklusif:
1. Fleksibilitas waktu
a) Durasi Pelajaran
b) Jadwal pembelajaran
c) Pembelajaran mandiri
d) Perencanaan belajar berdiferensiasi.
e) Konseling dan dukungan.
2. Fleksibilitas Evaluasi
a) Metode penilaian beragam.
b) Pilihan tugas.
c) Penilaian formatif.
d) Penyesuaian tingkat kesulitan.
e) Perencanaan evaluasi individual.
f) Evaluasi kolaboratif.
g) Waktu tambahan pada evaluasi.
h) Penyesuaian format ujian.

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

D. REFLEKSI
Setelah saya mempelajari modul pengantar Pendidikan anak berkebutuhan khusus ini
sangatlah menarik dan penting untuk dipelajari oleh seorang guru, karena keragamaan
peserta didik di lingkungan sekolah sangatlah berbeda-beda. Keunikan yang mereka
miliki dengan kebutuhan, potensi, dan karakteristik yang berbeda butuh arahan dan
bimbingan dari seorang guru. Dan guru harus siap untuk melayani keragaman peserta
didik pada saat pembelajaran dikelas. Tetapi ada tantangan-tantangan yang saya
hadapi dalam menghadapi keragaman peserta didik, diantaranya :
1. Mengakomodasi gaya belajar peserta didik yang berbeda dengan penggunaan
metode pengajaran yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan keragaman gaya
belajar peserta didik.
2. Keterbatasan pengetahuan guru dalam mengimplementasikan strategi secara
inklusif agar proses pembelajaran berjalan efektif.
3. Fasilitas pembelajaran yang inklusif terbatas dan memanfaatan keragaman peserta
didik sebagi sumber pembelajaran yang berharga.
4. Penyusunan penilaian yang relevan, adil, dan kreatif sehinggan memerlukan
pemikiran yang mendalam dan teliti.
5. Pada saat fokus menangani permasalahan peserta didik berkebutuhan khusus di
kelas, peserta didik yang lain serasa terabaikan.
6. Beberapa siswa memiliki kemampuan yang lebih tinggi dan memerlukan materi
yang lebih menantang, sementara siswa lainnya mungkin membutuhkan bantuan
ekstra dan pendekatan yang lebih individual.
7. Guru harus menemukan cara yang kreatif dan efektif untuk menjaga siswa tetap
fokus dan terlibat dalam proses pembelajaran.

Hal menarik yang saya temukan saat mendalami keragaman peserta didik ini adalah:
1. Saya semakin tertarik mendalami materi ini agar termotivasi mendidik anak-anak
yang memiliki berkebutuhan khusus.
2. Peserta didik semakin akrab dan nyaman dengan gurunya, melihat kemajuan dari
tiap peserta didik yang sebelumnya belum baik menjadi semakin lebih baik dalam
hal menghadapi kesulitan dan tantangan yang mereka hadapi, sehingga menjadi
pengalaman yang sangat berharga bagi saya.
3. Manajemen kelas menjadi lebih kondusif dan inklusif, karena antara guru dan
peserta didik saling bekerjasama dengan baik.
4. Menyadari bahwa setiap peserta didik membutuhkan perhatian khusus tanpa
membeda-membedakan satu sama lain. Serta peserta didik yang memiliki

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

berkebutuhan khusus dapat dijadikan sumber belajar agar saya dapat lebih
memahami keragaman peserta didik dari pengalaman yang saya dapatkan.

Dengan pemahaman yang baik, inovasi dan dengan kesabaran dalam menghadapi
tantangan ini, guru dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang positif dan
bermakna bagi semua siswa di dalam kelas.

Adapun perubahan-perubahan yang saya rasakan setelah mempelajari keragaman
peserta didik ini, diantaranya:
1. Kemampuan keterampilan guru semakin meningkat dalam hal pengelolaan kelas,
terutama pengelolaan kelas yang lebih inklusif dan menyesuaikan dengan metode
pembelajaran yang adil dan efektif.
2. Keakraban antara guru dan peserta didik semakin dekat, sehingga peserta didik
merasa lebih nyaman berinteraksi, merasa lebih diperhatikan dan merasa dihargai
dalam lingkungan yang inklusif.
3. Guru merasa terbantu dalam hal memberikan penilaian terhadap peserta didik,
terutama pada penilaian formatif dan pembelajaran yang berkelanjutan dari pada
hasil akhir.
4. Adanya semangat dan motivasi guru untuk terus mengembangkan dan
menerapkan praktik yang mendukung keragaman peserta didik.

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

E. UMPAN BALIK TEMAN SEJAWAT

Nama Guru : Reni, S.Pd.


Nama Guru : Haleoni Pertiwi, S.Pd.


Nama Guru : M. Sopian, S.Pd

ELA PRATIWI - 202588806762 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

F. DOKUMENTASI
Tags