jiptummpp-gdl-ajengkarim-46879-3-babii.pdf

azhari80 6 views 24 slides Oct 28, 2024
Slide 1
Slide 1 of 24
Slide 1
1
Slide 2
2
Slide 3
3
Slide 4
4
Slide 5
5
Slide 6
6
Slide 7
7
Slide 8
8
Slide 9
9
Slide 10
10
Slide 11
11
Slide 12
12
Slide 13
13
Slide 14
14
Slide 15
15
Slide 16
16
Slide 17
17
Slide 18
18
Slide 19
19
Slide 20
20
Slide 21
21
Slide 22
22
Slide 23
23
Slide 24
24

About This Presentation

Elektrolit Gas Darah


Slide Content

5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komposisi Tubuh
Tubuh manusia terdiri atas cairan dan zat padat. Zat padat menyusun 40 %
tubuh manusia seperti protein, lemak, mineral, karbohidrat, material organik dan
non organic, 60 % sisanya adalah cairan. Pembagian 60 % dari komposisi cairan,
20 % merupakan cairan ekstraselular dan 40 % nya adalah cairan intraselular
(Corwin, 2009). Menurut J Brochek, komposisi tubuh: 62,4% Air, 16,4% Protein,
5,9% Mineral, 15,3% Lemak, 84,7 % Massa lemak bebas atau Free Fat Mass
(FFM). Sedangkan menurut Gilbert B Forber komposisi tubuh adalah jumlah
seluruh dari bagian tubuh. Bagian tubuh terdiri dari adiposa dan massa jaringan
bebas lemak (Lisa, 2009).
Sementara menurut WHO tubuh manusia dibagi menjadi 4 macam komposisi
yang komplek yang terdiri dari:
1. Komposisi atomik. Berat badan merupakan akumulasi sepanjang hidup
dari 6 elemen utama yaitu: oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, kalsium,
dan fosfor. Kurang dari 2 % berat badan terdiri dari sulfur, kalium,
natrium, klorida, magnesium dan 40 elemen lain yang secara normal
terdapat dalam jumlah kurang dari 10 gram.
2. Komposisi molekolar. Elemen terbagi dalam komponen molekular yang
dikelompokkan dalam 5 kategori besar, yaitu: lemak, protein, glikogen,
air, dan mineral. Tingkat molekular ini secara praktis seringkali dibagi
atas: lemak dan massa bebas lemak. Komposisi ini menyusun dasar untuk
sel yang fungsional.

6

3. Komposisi selular. Komposisi ini terdiri dari 3 komponen: sel, cairan
ekstrasel dan bagian padat ekstrasel. Massa sel dibagi lagi atas
lemak(komponen molekular) dan bagian yang aktif secara metabolik yaitu
massa sel tubuh. Sehingga pada akhirnya akan terdiri dari body cell mass,
cairan ekstrasel dan solid ekstrasel.
4. Komposisi jaringan dan organ. Sel akan membentuk jaringan dan organ
tubuh, seperti jaringan adiposa, otot skelet, tulang, kulit, jantung, dan
organ visceral lainnya. Jaringan dan organ tubuh akan membentuk tubuh
manusia yang merupakan perpaduan 5 komponen tubuh, yaitu atomik,
molekular, selular, jaringan dan organ serta tubuh secara keseluruhan.
Komposisi tubuh diukur untuk mendapatkan persentase lemak, tulang, air,
dan otot dalam tubuh. Pengukuran komposisi tubuh juga ditujukan untuk
mendeteksi kebutuhan tubuh terhadap asupan makanan serta mendapatkan
informasi yang relevan terhadap upaya pencegahan dan penanganan penyakit
(Arisman, 2011).
2.1.1 Massa Lemak Tubuh
Lemak merupakan sumber nutrisi yang menyumbangkan 60% dari
total energi yang dibutuhkan pada saat beristirahat dan juga dibutuhkan
dalam jumlah lebih besar saat berolahraga. Massa lemak terdistribusi tidak
merata dalam tubuh kita bergantung pada jenis kelamin, hormonal,
lingkungan, Genetik, usia, etnis dan aktifitas fisik. Lemak disimpan dari
tubuh dan berasal dari makanan yang dikonsumsi yang disebut dengan
lemak cadangan. Lemak cadangan dapat terdistribusi di jaringan bawah kulit
sebagai lemak Subkutan serta di sekitar alat-alat Visceral yang terdapat

7

didalam rongga dada dan rongga perut sebagai lemak Visceral. (Sudibjo,
2010). Massa lemak tubuh dikategorikan sebagai berikut:
Tabel 2.1 Kategori Massa Lemak Tubuh
Umur (tahun) Kategori
Laki-laki 17-39 Underfat (≤10)
Standard (11-20)
Overfat (21-26)
Obese (27-45)
40-59 Underfat (≤11)
Standard (12-22)
Overfat (23-27)
Obese (28-45)
>60 Underfat (≤13)
Standard (14-24)
Overfat (25-29)
Obese (30-45)
Perempuan 17-39 Underfat (≤20)
Standard (21-34)
Overfat (35-39)
Obese (40-45)
40-59 Underfat (≤21)
Standard (22-35)
Overfat (36-40)
Obese (41-45)
>60 Underfat (≤22)
Standard (23-36)
Overfat (37-41)
Obese (42-45)

2.1.2 Massa non lemak Tubuh
Massa bebas lemak biasa disebut Fat Free Mass (FFM), terdiri dari
tulang, otot, organ dan cairan (Sudibjo, 2012). Jaringan otot dibentuk oleh
otot skeletal, otot jantung dan otot polos. Jaringan epitel membungkus
bagian permukaan dari organ yang berongga (Ayvas et al, 2011). Mineral
berperan dalam berbagai tahap metabolisme, terutama sebagai kofaktor

8

dalam aktivitas enzim-enzim. Yang termasuk mineral makro antara lain:
natrium, klorida, kalium, kalsium, fosfor, magnesium, dan sulfur (Sitompul,
2009). Cairan tubuh terdiri dari air dan elektrolit. Cairan tubuh dibedakan
atas cairan ekstrasel dan intrasel. Cairan ekstrasel meliputi plasma dan
cairan interstisial (Yaswir dan Ferawati, 2012).
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi komposisi tubuh
Komposisi tubuh, termasuk massa lemak tubuh dapat berubah dan
berbeda pada tiap individu. Komposisi tubuh terdiri dari empat komponen
utama, yaitu jaringan lemak tubuh total (total body fat), jaringan bebas
lemak (fat-free mass), mineral tulang (bone mineral), dan cairan tubuh
(body water). Dua komponen komposisi tubuh yang paling umum diukur
adalah jaringan lemak tubuh total dan jaringan bebas lemak (Williams,
2007). Komposisi tubuh dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain:
1. Usia
Efek usia signifikan pada masa pertumbuhan dan perkembangan karena
terjadi proses pembentukan otot dan jaringan tubuh lain, sedangkan pada
usia dewasa massa otot mulai berkurang yang dapat disebabkan oleh
penurunan aktivitas fisik (Williams, 2007). Pengaruh usia terhadap
komposisi tubuh menyebabkan perubahan komposisi massa bebas lemak.
Pada massa lemak, persentasenya masih tetap namun terjadi redistribusi
dari lemak subkutan ke lemak Viseral (WHO, 2011). Pada perempuan
Free Fatty Mass (FFM) meningkat pada usia 15 tahun dan sangat
meningkat di usia sekitar 45-54 tahun. Rata-rata FFM pada usia di atas 85

9

tahun akan mengalami penurunan sekitar 14,3% dari rata-rata FFM
tertinggi (Kyle et al, 2001).
2. Jenis Kelamin
Terdapat perbedaan komposisi tubuh yang kecil antara perempuan dan
laki-laki sebelum usia pubertas. Namun, pada usia pubertas perbedaan
menjadi sangat besar dimana mulai saat pubertas, perempuan memiliki
lebih banyak deposit lemak, sedangkan pada laki-laki terbentuk lebih
banyak jaringan otot (Williams, 2007).
3. Nutrisi
Nutrisi dapat mempengaruhi komposisi tubuh dalam jangka waktu
singkat, seperti pada saat kekurangan air dan kelaparan ataupun dalam
jangka waktu lama, seperti pada chronic overeating yang dapat
meningkatkan simpanan lemak tubuh. Laporan hasil beberapa penelitian di
Amerika Serikat menunjukkan bahwa kebanyakan remaja kekurangan
vitamin dan mineral dalam makanannya antara lain folat, vitamin A dan E,
Fe, Zn, Mg, kalsium dan serat. Hal ini lebih nyata pada perempuan
dibanding lelaki, sebaliknya tentang asupan makanan yang berlebih (lemak
total, lemak jenuh, kolesterol, garam dan gula) terjadi lebih banyak pada
lelaki daripada perempuan (IDAI, 2009).
4. Aktivitas fisik
Gaya hidup Sedentary dan perkembangan teknologi, media elektronik
menjadi penyebab berkurangnya aktivitas fisik sehingga terjadi penurunan
keluaran energi (Tiala, Tanudjaja dan Kalangi, 2013).

10

Penelitian yang dilakukan oleh Adhityawarman (2007), didapatkan
bahwa semakin tinggi aktivitas fisik maka persen lemak tubuh yang
mewakili komposisi tubuh semakin kecil.
2.2 Total Body Water (TBW)
2.2.1 Definisi TBW
Cairan tubuh total atau total body water (TBW) adalah persentase dari
berat air dibandingkan dengan berat badan total, bervariasi menurut
kelamin, umur, dan kandungan lemak tubuh. Air membentuk sekitar 60%
dari berat seorang pria dan sekitar 50% dari berat badan wanita. Air
didistribusikan antara dua kompartemen yang dipisahkan oleh membran sel.
Pada orang dewasa kira-kira 40% berat badannya atau 2/3 dari TBW nya
berada di cairan intrasel atau intracellular fluid (ICF) dan sisanya 1/3 dari
TBW atau 20% berada cairan ekstra sel atau extraxellular fluid (ECF).
Cairan ekstrasel terbagi lagi kedalam kompartemen cairan intravaskular
(IVF) sebesar 5% dari TBW dan cairan interstisial (ISF) sebesar 15%
(Gambar 2.1). Sebesar 1-2% tergolong kedalam cairan transeluler seperti
cairan serebrospinal, intraokular dan sekresi saluran cerna dan kesemua
bagian ini memiliki komposisi elektrolit masing-masing (Surya, 2011).

11



Total cairan tubuh mengambil 55-72% massa tubuh, beragam menurut
jenis kelamin, umur dan kadar lemak mengambil bagian antara intraseluler
dan ekstraseluler. Cairan ekstra seluler yang merupakan 1/3 total cairan
tubuh, terdiri dari cairan plasma intravaskuler, dan cairan interstisiil
ekstravaskuler (Jufrrie, 2004).
Individu yang sehat memiliki perubahan TBW yang kecil disebabkan
karena pertumbuhan, peningkatan atau penurunan berat badan dan kondisi
seperti kehamilan maupun menyusui. TBW memiliki perubahan yang
berbeda pada masing-masing individu dikarenakan berbagai macam faktor
(Campbell et al, 2004).
TBW tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan sampai berusia 12
tahun, dan setelah itu laki-laki lebih banyak kandungan air tubuhnya
dibandingkan perempuan. TBW antar individu tergantung dari komposisi
massa tubuh aktif (lean body mass). Laki-laki mempunyai massa tubuh aktif
lebih tinggi dibandingkan perempuan, sehingga kadar air tubuh laki-laki
akan lebih tinggi. TBW laki-laki relatif konstan pada usia remaja dan mulai
Gambar 2.1 Distribusi Cairan Tubuh
Guyton, 2012

12

berkurang pada usia sekitar 70-80 tahun, sedangkan TBW pada perempuan
relatif konstan pada usia dewasa muda dan berkurang secara dramatis pada
usia setelah 70 tahun dikarenakan lebih rendahnya komposisi massa bebas
lemak (fat-free mass) dan meningkatnya lemak tubuh (Briawan, 2011).
2.2.2 Keseimbangan cairan
1) Asupan cairan
Asupan cairan merupakan jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh
manusia. Secara fisiologis, manusia sudah dibekali dengan respon
untuk memasukkan cairan ke dalam tubuh. Respon haus merupakan
refleks yang secara otomatis menjadi perintah kepada tubuh
memasukkan cairan. Pusat pengendali rasa haus berada di dalam
hipotalamus otak (Pranata, 2013). Asupan (intake) cairan untuk kondisi
normal pada orang dewasa adalah ± 2.400-3.200 cc per hari. Asupan
cairan dapat langsung berupa cairan atau ditambah dari makanan lain
(Tabel 2.2). Apabila terjadi ketidakseimbangan volume cairan tubuh
dimana asupan cairan kurang atau adanya perdarahan, maka curah
jantung menurun, menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah
(Anas, 2009).
2) Pengeluaran cairan
Pengeluaran (output) cairan sebagai bagian dalam mengimbangi
asupan cairan pada orang dewasa, dalam kondisi normal adalah ± 2.300
cc (Tabel 2.2). Jumlah air yang paling banyak keluar berasal dari
eksresi ginjal (berupa urine), sebanyak ±1.500 cc per hari pada orang
dewasa. Peningkatan jumlah dan kecepatan pernapasan, demam,

13

keringat, muntah, dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan
secara berlebihan (Anas, 2009). Hasil pengeluaran cairan adalah:
a) Ginjal
Merupakan pengatur utama keseimbangan cairan yang menerima
170 liter darah untuk disaring setiap hari. Produksi urine untuk
semua usia adalah 1 ml/kg/jam. Pada orang dewasa produksi urine
sekitar 1,5 liter/hari. Jumlah urine yang diproduksi oleh ginjal
dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron (Tarwoto dan Wartonah,
2010).
b) Kulit
Hilangnya cairan melalui kulit diatur oleh saraf simpatis yang
merangsang aktivitas kelenjar keringat. Zat terlarut utama dalam
keringat adalah natrium, klorida, dan kalium. Kehilangan keringat
yang nyata dapat bervariasi dari 0 sampai 1000 ml atau lebih setiap
jam, tergantung pada suhu lingkungan. Kehilangan air yang terus
menerus melalui evaporasi (kurang lebih 500 ml/hari) terjadi melalui
kulit sebagai perspirasi tidak–kasat mata Insensible Water Loss
(IWL) merupakan kehilangan air dari tubuh tanpa kita rasakan.
Kehilangan tersebut pada orang dewasa sekitar 6 ml/kgBB/24jam.
IWL bisa melalui keringat, udara pernapasan, dan eliminasi (Pranata,
2013). Sedangkan menurut Tarwoto dan Wartonah (2010) Insensible
Water Loss (IWL) sekitar 15-20 ml/24jam.

14

c) Paru-paru
Saat melakukan ekspirasi, tidak hanya CO2 yang kita keluarkan,
tetapi unsur air juga ikut keluar bersama karbondioksida. Jika kita
menghembuskan napas di depan kaca, maka kaca tersebut akan
mengembun. Itulah sebagai bukti bahwa udara ekspirasi
mengandung air. IWL dari udara pernapasan sekitar ± 600 ml setiap
harinya. Akan tetapi, jumlah tersebut bisa meningkat terkait
perubahan frekuensi dan kedalaman pernapasan (Pranata, 2013)
d) Gastrointestinal
Dalam kondisi normal cairan yang hilang dari gastrointestinal
setiap hari sekitar 100-200 ml. perhitungan IWL secara keseluruhan
adalah 10-15 cc/kgBB/24 jam (Tarwoto dan Wartonah, 2010).
Tabel 2.2 Asupan dan Pengeluaran Air Rata-Rata Harian
Asupan (Rata-rata) Pengeluaran (Rata rata)
Air (ml)
Air minum = 1.400-1800 Urine = 1400-1800
Air dalam makanan = 700-1.800 Feses = 100
air dalam oksidasi = 300-400 Kulit = 300-500
Paru-paru = 600-800
Total =2.400-3.200 Total = 2.400-3.200

2.2.3 Faktor yang mempengaruhi TBW
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan air seseorang,
antara lain jenis kelamin, usia, persen lemak tubuh, aktivitas fisik dan suhu
lingkungan.

Anas (2009)

15

1) Jenis kelamin
Total cairan tubuh pada laki-laki muda sekitar 60% dari BB
sementara pada wanita adalah 50% dari BB. Hal ini terjadi karena
laki-laki memiliki otot (kaya akan cairan) daripada wanita (Wiseman,
2002). Oleh karena itu, kebutuhan air pada laki-laki lebih banyak
dibanding wanita.
Menurut Bredbenner et al (2009), rata-rata konsumsi cairan untuk
laki-laki adalah ± 922 ml, sedangkan pada perempuan ± 581 ml atau
secara umum konsumsi cairan rata-rata pada laki-laki lebih besar
daripada perempuan.
2) Umur
Komposisi air pada nenoatus lebih banyak daripada dewasa yakni
75-80% dengan proporsi extracellular fluid (ECF) lebih banyak
daripada dewasa. Saat lahir, proporsi cairan intersisil tiga kali lebih
besar daripada dewasa. Saat usia 12 bulan, akan terjadi penurunan
cairan tubuh sampai 60% setara dengan nilai cairan tubuh pada
dewasa. Persentase TBW dalam tubuh menurun secara signifikan
sejalan dengan pertambahan usia. Usia 60 tahun, TBW hanya turun
sampai 50% dari BB khususnya pada laki-laki yang berkaitan dengan
peningkatan lemak (Bellisle et al, 2010)
3) Persen lemak tubuh
Jumlah cairan tubuh total ± 55-60% dari BB, persentase tersebut
berhubungan juga dengan jumlah lemak tubuh, jenis kelamin dan
umur. Namun, jumlah lemak tubuh memberikan pengaruh besar

16

terhadap jumlah cairan tubuh. Kandungan air dalam sel otot lebih
tinggi dibandingkan dengan sel lemak, sehingga total cairan tubuh
pada orang gemuk (obese) lebih rendah daripada orang yang tidak
obese. Pada orang gemuk, perbandingan kandungan air dengan lemak
adalah 50% : 50%, orang kurus 67% : 7%, sementara pada orang yang
normal 60% : 16% (Karsin, 2004).
4) Aktivitas fisik
Menurut Depdiknas (2008) aktivitas fisik adalah gerakan tubuh
karena otot meningkatkan pengeluaran tenaga dan energi atau kalori.
Aktivitas fisik antara lain adalah akitivitas waktu kerja, waktu
senggang dan aktivitas sehari-hari, sedangkan latihan fisik adalah
aktivitas fisik yang direncanakan dan dilakukan dengan terstruktur
(Adisapoetra, 2008 dalam Rosmaida, 2011). Penelitian di Amerika
pada orang dewasa menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki
hubungan dengan intake air putih dan total asupan air, yakni semakin
tinggi aktivitas fisiknya maka semakin tinggi pula jumlah asupan air
dan total asupan airnya (Kant et al, 2009).
5) Suhu lingkungan
Suhu lingkungan juga mempengaruhi kebutuhan cairan dan elektrolit
seseorang. Disaat suhu lingkungan mengalami peningkatan, maka
keringat akan lebih banyak dikeluarkan untuk menjaga kelembaban kulit
dan mendinginkan permukaan kulit yang panas. Ion natrium dan klorida
juga dilepaskan bersamaan dengan keringat. Sedangkan pada kondisi
suhu lingkungan dingin, respon tubuh kita berbeda. Saat itu, pori-pori

17

tubuh mengecil dan sedikit untuk memproduksi keringat karena kulit kita
sudah lembab. Akan tetapi, berbeda di ginjal dimana aldosteron akan
menurun. Sehingga urine yang dieksresikan akan lebih banyak. Hal ini
merupakan kompensasi tubuh untuk menjaga regulasi cairan dan
elektrolit dalam tubuh. Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan
cairan dan elektrolit tersebut diperlukan asupan yang adekuat (Pranata,
2013).
6) Diet
Diet seseorang berpengaruh terhadap intake cairan dan elektrolit.
Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar
protein dan lemak sehingga serum albumin dan cadangan protein akan
menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses
keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema
(Pranata, 2013)
7) Stress
Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel,
konsentrasi darah dan glikolisis otot, mekanisme ini dapat
menimbulkan retensi sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan
produksi ADH dan menurunkan produksi urine (Tarwoto dan
Wartonah, 2010).
8) Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan
cairan dan elektrolit tubuh Misalnya, trauma seperti luka bakar akan
meningkatkan kehilangan air melalui insensible water lost (IWL),
penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses

18

regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, pasien dengan
penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan
intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya
secara mandiri (Pranata, 2013)
2.3 Remaja
2.3.1 Definisi remaja
Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut Adolescene, berasal dari
bahasa latin Adolescere yang artinya tumbuh kembang untuk mencapai
kematangan. Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang
sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual)
sehingga mampu bereproduksi (Sitompul, 2010).
Remaja di definisikan sebagai periode manusia hidup mulai dari usia
11-21 tahun. Pada periode ini manusia mengalami perubahan besar dalam
hal biologi, emosi, sosial dan kognitif dari anak-anak menuju dewasa serta
kematangan secara fisik, emosi dan kognitif (Brown, 2005).
Masa remaja adalah masa peralihan, ketika individu tumbuh dari masa
anak-anak menjadi individu yang memiliki kematangan. Pada masa
tersebut, ada dua hal penting menyebabkan remaja melakukan pengendalian
diri. Dua hal tersebut adalah, pertama, hal yang bersifat eksternal, yaitu
adanya perubahan lingkungan, dan kedua adalah hal yang bersifat internal,
yaitu karakteristik di dalam diri remaja yang membuat remaja relatif (Fitria,
2014).
Menurut World Health Organization (WHO), remaja adalah mereka
yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa.

19

Batasan usia remaja menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia
(Depkes RI) adalah antara 10 sampai 19 tahun dan belum kawin. Remaja
adalah anak usia 10-20 tahun yang merupakan usia antara masa kanak-
kanak dan masa dewasa dan sebagai titik awal proses reproduksi (Mutfika,
2011).
2.3.2 Tahapan remaja
Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.
Remaja pada masa ini mengalami masa pubertas yaitu terjadinya
pertumbuhan yang cepat, timbul ciri-ciri seks sekunder, dan tercapai
fertilitas. Perubahan psikososial yang menyertai pubertas disebut adolesen.
Adolesen adalah masa dalam kehidupan seseorang dimana masyarakat tidak
lagi memandang individu sebagai seorang anak, tetapi juga belum diakui
sebagai seorang dewasa dengan segala hak dan kewajibanya (Kusuma,
2014).
Perkembangan remaja dalam perjalananya dibagi menjadi tiga fase,
yaitu fase remaja awal (Early Adolescene): umur 10-14 tahun; fase
pertengahan (Middle Adolescene): umur 15-17 tahun; dan fase akhir (Late
Adolescene) umur 18-21 tahun.
1) Masa remaja awal (Early Adolescene)
Remaja pada masa ini mengalami pertumbuhan fisik dan seksual
dengan cepat. Pikiran difokuskan pada keberadaanya dan pada
kelompok sebaya. Identitas terutama difokuskan pada perubahan fisik
dan perhatian pada keadaan normal. Perilaku seksual remaja pada masa
ini lebih bersifat menyelidiki, dan tidak membedakan. Sehingga kontak

20

fisik dengan teman sebaya adalah normal. Remaja pada masa ini
berusaha untuk tidak bergantung pada orang lain. Rasa penasaran yang
tinggi atas diri sendiri menyebabkan remaja membutuhkan privasi
(Kusuma, 2014). Perkembangan seksualnya mengalami pematangan
sehingga seringkali terangsang secara seksual. Rangsangan ini
diakibatkan oleh faktor internal yaitu meningkatnya kadar testosteron
pada laki-laki dan estrogen pada remaja perempuan (Soetjiningsih,
2004)
2) Masa remaja pertengahan (Middle adolescene)
Remaja pada fase ini mengalami masa sukar baik untuk dirinya
sendiri maupun orang dewasa yang berinteraksi dengan dirinya. Proses
kognitif remaja pada masa ini lebih rumit. Melalui pemikiran
operasional formal, remaja pertengahan mulai bereksperimen dengan
ide, memikirkan apa yang dapat dibuat dengan barang barang yang ada,
mengembangkan wawasan, dan merefleksikan perasaan kepada orang
lain. Remaja pada fase ini berfokus pada masalah identitas yang tidak
terbatas pada aspek fisik tubuh. Remaja pada fase ini mulai
bereksperimen secara seksual, ikut serta dalam perilaku beresiko, dan
mulai mengembangkan pekerjaan diluar rumah (Kusuma, 2014). Rata-
rata kecepatan pertumbuhan pada masa remaja pertengahan anak
perempuan dengan puncak pertumbuhan cepat pada usia 11,5 tahun
dengan kecepatan tertinggi 8,3 cm pertahun dan kemudian melambat
dan berhenti pada usia 16 tahun. Rata-rata anak laki-laki pertumbuhan
cepatnya mulai memuncak pada usia 13,5 tahun dengan 9,5 cm

21

pertahun, kemudian melambat dan berhenti pada usia 18 tahun
(Mutfika, 2011).
3) Masa remaja akhir (Late Adolescene)
Remaja pada fase ini ditandai dengan pemikiran operasional formal
penuh, termasuk pemikiran mengenai masa depan baik pendidikan,
kejuruan dan seksual. Remaja akhir biasanya lebih berkomitmen pada
pasangan seksualnya daripada remaja pertengahan. Konflik yang
dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan yang
mereka alami pada berbagai dimensi yaitu biologis, kognitif, moral dan
psikologis (Kusuma, 2014). Selama periode ini remaja berusaha
memantapkan tujuan dan mengembangkan Sense of Personal Identity.
Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam
kelompok teman sebaya dan orang dewasa (Muftika, 2011). Tahap
terakhir perkembangan payudara, penis, dan rambut kemaluan pada usia
17-18 tahun pada 95% pria dan wanita juga menjadi ciri dalam tahapan
ini (Soetjiningsih, 2004).
Kesimpulan secara umum pada ciri-ciri yang dimiliki remaja
berdasarkan uraian diatas adalah sebagai berikut : terjadi pematangan
fisik-biologik, meningkatnya empati sesamanya, meningkatnya
keinginan untuk bebas dari ketergantungan, suka mengganggu
sesamanya, meningkatnya hubungan dengan teman sebayanya,
meningkatnya orientasi seksual, memasuki masa menahan birahi, dan
masa mencoba-coba aktifitas seksual (Kemenkes, 2011 ; Siswianti
2012).

22

2.3.3 Perubahan fisik remaja
Fisik atau tubuh manusia merupakan system organ yang kompleks dan
sangat mengagumkan. Organ-organ yang terdapat padah tubuh manusia
terbentuk pada periode prenatal (dalam kandungan). Perkembangan fisik
individu meliputi empat aspek, yaitu system saraf, otot-otot yang
mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik, kelenjar
endokrin yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru serta
struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat dan proporsi tubuh
(Ramadan, 2013).
Perubahan fisik yang terjadi pada periode pubertas berlangsung
dengan sangat cepat dalam sekuens yang teratur dan berkelanjutan. Tinggi
badan anak laki-laki bertambah kira-kira 10 cm per tahun, sedangkan pada
perempuan kurang lebih 9 cm per tahun. Secara keseluruhan pertambahan
tinggi badan sekitar 25 cm pada anak perempuan dan 28 cm pada anak laki-
laki. Pertambahan tinggi badan terjadi dua tahun lebih awal pada anak
perempuan dibanding anak laki-laki. Puncak pertumbuhan tinggi badan
(peak height velocity) pada anak perempuan terjadi sekitar usia 12 tahun,
sedangkan pada anak laki-laki pada usia 14 tahun. Pada anak perempuan,
pertumbuhan akan berakhir pada usia 16 tahun sedangkan pada anak laki-
laki pada usia 18 tahun (Batubara, 2010).
Berat badan (BB) juga sering digunakan untuk menyatakan
pertumbuhan. Berat badan remaja perempuan sebelum pacu tumbuh sekitar
2 kg pertahun, saat masuk usia pacu tumbuh rata-rata kenaikan berat badan
sekitar 3 – 3,5 kg pertahun. Puncak peningkatan berat badan remaja

23

perempuan pada usia 18 tahun dengan peningkatan sebanyak 8 kg pertahun.
Pacu tumbuh otot tertinggal 3-6 bulan dari pacu tumbuh berat badan
(Soetjiningsih, 2004).
Dalam perkembangan seksualitas remaja, ditandai dengan dua ciri
yaitu ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder (Harefa, 2013).
Karateristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ
reproduksi sedangkan karateristik seksual sekunder mencakup perubahan
dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin. Misalnya pada remaja
putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-
rambut pubis, pembesaran buah dada dan pinggul. Sedangkan pada remaja
laki-laki mengalami mimpi basah yang biasanya terjadi pada umur 10-15
tahun, bahu melebar, pinggul menyempit, pertumbuhan rambut disekitar alat
kelamin, ketiak, dada, tangan dan kaki, kulit lebih tebal dan produksi
keringat lebih banyak (Putri, 2009).
2.4 Antropometri
2.4.1 Definisi antropometri
Antropometri berasal dari kata anthropos yang berarti Man (orang)
dan Metron yang berarti ukur. Antropometri adalah studi tentang
pengukuran individu manusia untuk mengetahui variasi fisik manusia.
Antropometri berkembang sebagai ilmu yang mempelajari klasifikasi dan
identifikasi perbedaan ras dan jenis kelamin (Yagain, Pai, Kalthur, Chetan,
dan Hemalatha, 2012)
Antropometri meliputi penggunaan secara hati-hati dan teliti dari
titik-titik pada tubuh untuk pengukuran, posisi spesifik dari subjek yang

24

ingin diukur dan penggunaan alat yang benar. Pengukuran yang dapat
dilakukan pada manusia secara umum meliputi pengukuran massa, panjang,
tinggi, lebar, dalam, circumference (putaran), curvatur (busur), pengukuran
jaringan lunak (lipatan kulit). Pada intinya pengukuran dapat dilakukan pada
tubuh secara keseluruhan maupun membagi tubuh dalam bagian yang
spesifik (Herawati, 2011).
2.4.2 Tujuan antropometri
Tujuan antropometri menurut National Health and Nutrition
Examination Surveys (NHANES) adalah untuk mengumpulkan data
pengukuran tubuh yang berkualitas dengan menggunakan prosedur yang
baku dan alat yang sudah terkalibrasi dengan tepat (CDC, 2007).
Antropometri adalah pengukuran yang digunakan untuk menentukan
keadaan gizi seseorang yang digambarkan salah satunya melalui IMT. IMT
adalah cara yang sederhana untuk memantau status gizi. Status gizi optimal
merupakan cara untuk menghindari malnutrisi karena status gizi yang baik
merupakan salah satu dasar pembentuk sumber daya manusia yang
berkualitas (Indra dan Wulandari, 2013).
2.4.3 Pengukuran Antropometri
Pengukuran antropometri antara lain untuk mengetahui Indeks Massa
Tubuh (IMT) dengan mengukur berat badan (BB), tinggi badan (TB) saat
berdiri, panjang tubuh (PB) saat berbaring (Arini, 2010). Indeks Massa
Tubuh (IMT) direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk
menentukan status gizi (Hartono, 2011). Berikut tabel klasifikasi berat
badan berdasarkan IMT :

25

Tabel 2.3 Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan IMT
Klasifikasi IMT
Underweight <18,50
Normal 18,5 – 24,9
Overweight 25,0-29,9
Obese >30,0

2.4.4 Pengukuran ukuran-ukuran antropometris
a. Berat Badan (BB)
Pengukuran BB dilakukan menggunakan timbangan yang diukur
dalam posisi berdiri di atas timbangan badan tanpa sepatu dan pakaian
yang minimum dengan satuan kilogram (Kg) (CDC, 2007)
b. Tinggi Badan (TB)
1. Pengukuran tinggi dengan berdiri merupakan penilaian ukuran tinggi
badan yang maximal. Penilaian ini digunakan untuk anak di atas usia 2
tahun atau lebih tua yang dapat berdiri tanpa membutuhkan bantuan.
Pengukuran dilakukan dalam posisi berdiri tegak (boleh bersandar), kaki
rapat, kepala dalam posisi dataran Frankfurt, dan menggunakan
antropometer dengan satuan centimeter (cm) salah satunya dapat diukur
dengan menggunakan pengukur tinggi badan MIC health scale. (CDC,
2007).


(CDC, 2015)

26



Gambar 2.2
Posisi Pengukuran Tinggi Badan yang Benar
2.4.5 Pengukuran TBW dengan BIA
BIA merupakan suatu metode untuk mengukur komposisi tubuh yang
non invasif, aman, dan mudah digunakan. Prinsip BIA adalah mengukur
perubahan arus listrik jaringan tubuh yang didasarkan pada asumsi bahwa
jaringan tubuh adalah merupakan konduktor silinder ionik dimana lemak
bebas ekstrasellular dan intrasellular berfungsi sebagai resistor dan
kapasitor. Arus listrik dalam tubuh adalah jenis ionik dan berhubungan
dengan jumlah ion bebas dari garam, basa dan asam, juga berhubungan
dengan konsentrasi, mobilitas, dan temperatur medium. Jaringan terdiri dari
sebagian besar air dan elektrolit yang merupakan penghantar listrik yang
baik, sementara lemak dan tulang merupakan penghantar listrik yang buruk
(Sungkar, 2010).
(CDC, 2007)

27

Pada tubuh yang sehat terdapat sel membrane yang mempunyai
lapisan lipid yang bersifat non konduktif diantara dua molekul protein yang
bersifat konduktif. Lapisan lipid ini bersifat soluble terhadap air sehingga
air, ion-ion dan bahan-bahan kimia lainnya dapat keluar masuk sel. Dengan
kata lain, tubuh mempunyai sifat kelistrikan, di mana tubuh merupakan
suatu konduktor yang baik dan suatu sirkuit biologis. Hubungan antara total
body water dan pengukuran elektrik diteliti pertaa kali oleh Thomasett pada
tahun 1962 (Irina, 2010).



2.5 Hubungan TBW dengan kesehatan tubuh
Perubahan komposisi dan volume cairan tubuh seperti gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit disebabkan oleh berbagai macam keadaan
atau penyakit. Sebagian besar gangguan ini disebabkan oleh penyakit saluran
cerna (Juffrie, 2004). Diare merupakan penyakit saluran cerna berupa buang air
besar yang tidak nomal dengan tinja yang encer dan frekuensinya lebih banyak
dari biasanya. Akibat dari adanya diare tersebut akan menyebabkan dehidrasi
Gambar 2.3 Standing BIA
(Brian, 2011)

28

dimana keseimbangan cairan terganggu (Rhinsilva, 2010). Kehilangan cairan
dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan menurunnya total cairan tubuh
(Kaslow, 2010).
Terlalu banyak mengonsumsi air juga akan berdampak tidak baik. Efek
samping yang mungkin timbul akibat minum air dalam jumlah terlalu banyak
adalah timbul rasa mual, selain itu konsumsi air yang berlebih akan
mempengaruhi keseimbangan elektrolit yang dapat menyebabkan tubuh tidak
berfungsi dengan baik. Efek lain yang muncul antara lain gangguan ginjal dan
timbul sakit kepala, pandangan kabur ataupun kejang (Wardlaw, 2007).
Tags