Kebijakan moneter dan fungsinya dan tujuan

kholidaldo88 10 views 18 slides May 10, 2025
Slide 1
Slide 1 of 18
Slide 1
1
Slide 2
2
Slide 3
3
Slide 4
4
Slide 5
5
Slide 6
6
Slide 7
7
Slide 8
8
Slide 9
9
Slide 10
10
Slide 11
11
Slide 12
12
Slide 13
13
Slide 14
14
Slide 15
15
Slide 16
16
Slide 17
17
Slide 18
18

About This Presentation

Penjelasan


Slide Content

i
MAKALAH
KONSEP KEBIJAKAN MONETER

Disusun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sistem Perekonomian Indonesia

Dosen Pengampu:
Anisatul Maghfiroh, M.E.




Disusun oleh : Kelompok 3
1. Kholid Moh Aldio (23160206028)
2. Ahmadiya Ulhaq (23160206008)
3. Moh. Arifin (23160206031)


PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL -MUNTAHY
TAHUN 2025

ii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Segala puji bagi allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, kami
panjangkan puja dan puji syukur kami atas kehadiran nya, yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Sistem perekonomian Indonesia
dengan judul “Konsep Kebijakan Moneter”.
Sholawat serta salam kami sampaikan kepada junjungan kita nabi besar muhammad
SAW, beserta para sahabatnya yang telah membawa kita dari alam jahiliyah menuju alam
ilmiyah yakni adanya islam dan iman.
Kami ucapkan terima kasih kepada Ibu. Anisatul Maghfiroh, M.E. selaku dosen
pengampu mata kuliah Sistem perekonomian Indonesia serta pihak-pihak yang telah membantu
dalam penyelesain makalah ini. dalam penyusun tugas atau materi ini tidak sedikit hambatan
yang penulis hadapi.namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusun materi ini
tidak lain berkat bantuan,dorongan,dan bimbingan orang tua,sehingga kendala-kendala penulis
dapat teratasi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan Sumbangan
pemikiran kepada pembaca khususnya kepada para mahasiswakami Sadar bahwa makalah ini
masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada guru pembimbing saya
meminta masukannya dami perbaikan pembuatan makalah kami dari masa yang akan datang
dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Wabillahi taufiq walhidayah wassalamualaikum wr.wb.





Penulis



10 Mei 2025

iii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latang Belakang ....................................................................... .1
B. Rumusan Masalah ................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ..................................................................... 3
BAB II : PEMBAHASAN
A. Definisi kebijajakan moneter……...………………….. …….…4
B. Funsi kebijakan moneter……………………………………… .5
C. Instrumen kebijakan moneter..………..…….………………… 6
D. Kebijakan moneter yang mendorong kebijkan
fiskal………………………………………. ………………..…1 1

BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………1 3
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..1 4

1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebijakan moneter di Indonesia memainkan peran penting dalam mencapai
stabilitas ekonomi dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Sebagai instrumen utama
yang digunakan oleh Bank Indonesia (BI), kebijakan moneter berfokus pada
pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, dan kelancaran sistem
pembayaran.
1
Kebijakan ini tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi
domestik, tetapi juga oleh faktor eksternal seperti perubahan harga komoditas
global, fluktuasi pasar finansial internasional, dan krisis ekonomi yang sering
terjadi. Dalam konteks Indonesia, kebijakan moneter telah melalui berbagai
transformasi seiring dengan dinamika perekonomian yang terus berkembang.
2

Sejarah kebijakan moneter Indonesia dimulai sejak negara ini merdeka, dengan
tantangan besar dalam membangun sistem moneter yang stabil. Pada awalnya,
kebijakan moneter Indonesia lebih mengandalkan sistem pengendalian langsung
dan intervensi pemerintah dalam ekonomi.
3
Namun, seiring berjalannya waktu dan
berbagai krisis yang dihadapi, kebijakan moneter Indonesia mengalami
transformasi, dengan lebih banyak menggunakan instrumen pasar terbuka dan suku
bunga acuan sebagai alat utama untuk mempengaruhi likuiditas dan inflasi.
Transformasi ini mencerminkan perubahan paradigma dalam pengelolaan
kebijakan ekonomi, yang lebih mengedepankan mekanisme pasar dan
transparansi.
4


1
Wijoyo Santoso and Iskandar Simorangkir, “PENGENDALIAN MONETER DALAM SISTEM NILAI TUKAR YANG
FLEKSIBEL (Konsiderasi Kemungkinan Penerapan Inflation Targeting Di Indonesia),” Buletin Ekonomi Moneter Dan
Perbankan 2, no. 2 (2003): 1–42, https://doi.org/10.21098/bemp.v2i2.195.
2
Charles PR Joseph, Arief Hartawan, and Firman Mochtar, “Kondisi Dan Respon Kebijakan Ekonomi Makro Selama
Krisis Ekonomi Tahun 1997-98,” Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan 2, no. 2 (2003): 97–130,
https://doi.org/10.21098/bemp.v2i2.198.
3
J
4
Ruslan, Gilang U Abdullah, and Taufik Enjemani, “Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Dan Ketidakpastian
Ekonomi Sebagai Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Kebijakan Moneter,” MUTAWAZIN (Jurnal Ekonomi Syariah)
5, no. 1 (2024): 58–68, https://doi.org/10.54045/mutawazin.v5i1.1815.

66444
2
Krisis ekonomi, baik yang berasal dari faktor internal maupun eksternal, turut
memengaruhi dinamika kebijakan moneter Indonesia. Krisis finansial 1997-1998,
yang menyebabkan Indonesia terjerumus dalam resesi mendalam, menjadi titik
balik bagi kebijakan moneter Indonesia.
5
Bank Indonesia dan pemerintah harus
merespons dengan kebijakan yang tidak hanya bertujuan untuk menstabilkan inflasi
dan nilai tukar, tetapi juga untuk membangun kembali kepercayaan pasar. Begitu
pula, dalam menghadapi krisis global 2008 dan dampak pandemi COVID-19 pada
2020,
6
Bank Indonesia kembali mengadaptasi kebijakan moneter untuk meredam
dampak ekonomi yang lebih luas.
Dalam jurnal ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai perjalanan kebijakan
moneter di Indonesia, transformasi kebijakan yang terjadi, serta respons terhadap
krisis ekonomi yang pernah melanda. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan
pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana kebijakan moneter Indonesia
beradaptasi dengan tantangan global dan domestik, serta dampaknya terhadap
perekonomian nasional. Melalui analisis ini, diharapkan dapat ditemukan pelajaran
penting bagi penyusunan kebijakan moneter yang lebih efektif di masa depan.

B. Rumusan Masalah
Berdasar pada uraian diatas yang telah dikemukakan sebelumnya, maka
dirumuskan masalah penelitian adalah sebagai berikut :

1. Apa hakikat dari kebijakan moneter ?
2. Apa saja fungsi kebijakan moneter?
3. Apa saja intrumen dalam kebijakan moneter?


5
Ardi Sunardi et al., “Krisis Moneter 1997-1998: Akar Penyebab, Dampak Ekonomi, Dan Kebijakan Penanganan Di
Indonesia,” Sindoro Cendekia Pendidikan 5, no. 6 (2024): 21–30.
6
Andrei Popa, “COVID-19 Pandemic – Economic Impact and Reaction” 4 (2023): 24–35,
https://doi.org/10.53486/icspm2023.03.

66444
3
C. Tujuan Masalah
Untuk mengetahui mengetahui tentang :
• Definisi kebijakan moneter
• Fungsi kebijakan moneter
• Serta instrument dari kebijakan moneter

66444
4

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI KEBIJAKAN MONETER
Kebijakan moneter didefinisikan sebagai semua tindakan yang diambil oleh
bank sentral untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan suku bunga dalam
perekonomian. Menurut Nopirin (1987), kebijakan ini bertujuan untuk mencapai
sasaran pembangunan ekonomi dengan mengatur jumlah uang yang beredar melalui
penambahan atau pengurangan uang dalam sistem. Kebijakan ini dapat dibedakan
menjadi dua jenis: kebijakan moneter ekspansif yang bertujuan untuk
meningkatkan jumlah uang beredar, dan kebijakan moneter kontraktif yang
bertujuan untuk mengurangi jumlah uang beredar.
7

Tujuan utama dari kebijakan moneter adalah untuk mencapai stabilitas ekonomi
dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. Berikut adalah rincian tujuan
tersebut: Menjaga Stabilitas Harga: Kebijakan moneter bertujuan untuk
mengendalikan inflasi agar tetap pada tingkat yang rendah dan stabil. Hal ini
penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan menciptakan lingkungan ekonomi
yang kondusif bagi investasi dan konsumsi.
8

Kebijakan ini berusaha mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
dengan menciptakan kondisi yang mendukung investasi dan konsumsi.
9
Dengan
menyesuaikan suku bunga dan jumlah uang beredar, bank sentral dapat
mempengaruhi aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

7
“Of Economics Household Portfolios and Monetary Policy * Raslan Alzuabi , Sarah Brown , Alexandros Kontonikas ,”
2020.
8
M. Maula Al Arif and Achmad Tohari, “Peranan Kebj Moneter Dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi.Pdf,” Buletin
Ekonomi Moneter Dan ..., 2006.
9
Zakaria Nasir , Yuslinaini , A. Hamid , Zulfan Yusuf, “Pertumbuhan Ekonomi.Pdf,” 2023,
https://journal.lembagakita.org/index.php/emt/article/view/1199/919.

66444
5
Secara keseluruhan, kebijakan moneter merupakan alat vital dalam pengelolaan
ekonomi suatu negara, berfungsi untuk menjaga stabilitas harga, mendorong
pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan kesempatan kerja. Melalui mekanisme
transmisi yang efektif, kebijakan ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap
aktivitas ekonomi masyarakat.

B. FUNGSI KEBIJAKAN MONETER
Kebijakan moneter memiliki peran penting dalam perekonomian suatu
negara. Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral memiliki mandat
untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter guna mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah. Berikut adalah beberapa fungsi utama
kebijakan moneter
10
:
1. Mengendalikan Inflasi
Salah satu fungsi utama kebijakan moneter adalah untuk mengendalikan
tingkat inflasi. Dengan mengatur jumlah uang yang beredar dan suku bunga, BI
dapat menjaga tingkat inflasi dalam kisaran yang ditargetkan. Inflasi yang
terkendali penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas
ekonomi.
11

2. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Melalui kebijakan moneter, BI dapat merangsang aktivitas ekonomi dengan
menurunkan suku bunga, yang pada gilirannya dapat meningkatkan investasi
dan konsumsi. Pertumbuhan ekonomi yang sehat diperlukan untuk menciptakan
lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

10
Ascarya & Purwanto, Edi (Ed.). (2022). Kebanksentralan dan Kebijakan Moneter. (Tangerang Selatan: Universitas
Terbuka.) h.12.
11
Windu Anggara et al., “Economic Stability in Islamic View : Approach to Controlling Inflation,” International Journal
of Science, Technology & Management 4, no. 5 (2023): 1366–72, https://doi.org/10.46729/ijstm.v4i5.914.

66444
6
3. Menjaga Stabilitas Nilai Tukar
BI menggunakan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar
rupiah terhadap mata uang asing. Stabilitas nilai tukar penting untuk
menghindari gejolak di pasar valuta asing yang dapat mempengaruhi
perdagangan internasional dan inflasi.
4. Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan
Kebijakan moneter berperan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan
dengan mengelola risiko-risiko sistemik dan mencegah terjadinya krisis
keuangan. Stabilitas sistem keuangan penting untuk memastikan kelancaran
intermediasi keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
12

5. Meningkatkan Lapangan Pekerjaan
Dengan menciptakan kondisi ekonomi yang stabil dan mendukung
pertumbuhan ekonomi, kebijakan moneter dapat berkontribusi dalam
menciptakan lapangan pekerjaan baru. Lapangan pekerjaan yang meningkat
dapat mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.

C. INSTRUMEN KEBIJAKAN MONETER
Instrumen kebijakan moneter dalam pengendalian peredaran uang adalah
alat-alat atau tindakan yang diambil oleh otoritas moneter untuk mengatur
jumlah uang yang beredar dalam perekonomian guna mencapai tujuan-tujuan
tertentu, seperti menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, dan
mendorong pertumbuhan ekonomi yang seimbang
13
. Instrumen-instrumen ini

12
Ariadne Mael Novariani Putri and Sri Yani Kusumastuti, “Fiscal and Monetary Policy Interaction Post Indonesian
Institutional Transformation: Vector Autoregression Approach,” Kajian Ekonomi Dan Keuangan 6, no. 1 (2024): 17–33,
https://doi.org/10.31685/kh78mn12.
13
Kornitasari, Y., Nabella, R. S., Ismail, M., & Manzilati, A. (2023). Pengantar Ekonomi Moneter Islam. (Universitas
Brawijaya Press). h.38

66444
7
berperan dalam mengatur likuiditas dan peredaran uang dalam masyarakat
dengan cara yang dapat memengaruhi tingkat suku bunga, perputaran uang, dan
aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Berikut beberapa instrumen utama dalam
kebijakan moneter
1. Operasi pasar terbuka
Operasi pasar terbuka merupakan salah satu instrumen vital dalam
alat kebijakan moneter yang digunakan oleh bank sentral dalam upaya
mengendalikan aliran uang dan likuiditas di pasar keuangan
14

Dalam operasi ini, bank sentral dapat membeli atau menjual surat berharga
pemerintah maupun instrumen keuangan lainnya di pasar terbuka. Ketika
bank sentral memutuskan untuk membeli surat berharga, hal ini akan
menyebabkan peningkatan jumlah uang yang beredar di pasar karena bank
sentral membayar dengan uang tunai. Dampaknya, aktivitas ekonomi
cenderung meningkat dan suku bunga jangka pendek memiliki
kecenderungan turun. Sebaliknya, ketika bank sentral menjual surat
berharga, aliran uang di pasar akan menurun, membantu mengurangi
tekanan inflasi dan dapat meningkatkan suku bunga
15
.
Melalui operasi pasar terbuka, bank sentral memiliki kemampuan untuk
mengatur likuiditas pasar serta mengontrol suku bunga guna mencapai
tujuan-tujuan kebijakan moneter yang telah ditetapkan
16
. Penting untuk
dicatat bahwa penggunaan instrumen ini dapat disesuaikan dengan kondisi
ekonomi dan tujuan kebijakan di masing-masing negara.


14
Ibid
15
Priscylia, D. A. (2014). Pengaruh tingkat bunga sertifikat bank indonesia (sbi) dan pembayaran non tunai terhadap
permintaan uang di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 12(2), 106–117.
16
Wardhono, A., Indrawati, Y., Qoriah, C. G., & Nasir, M. A. (2019). Perilaku kebijakan bank sentral di Indonesia.
(Pustaka Abadi). h.103

66444
8
2. Suku bunga
Mekanisme pengaruh suku bunga dasar oleh bank sentral terhadap
perekonomian adalah salah satu aspek penting dalam kebijakan moneter
17
.
Suku bunga dasar adalah tingkat bunga yang ditetapkan oleh bank sentral
sebagai acuan untuk transaksi antarbank dan berperan dalam membentuk
seluruh struktur suku bunga di perekonomian. Ketika bank sentral
menurunkan suku bunga dasar, hal ini menciptakan efek yang berantai
dalam perekonomian.
Penurunan suku bunga dasar berpotensi merangsang aktivitas ekonomi.
Pertama, suku bunga yang lebih rendah mendorong bank-bank untuk
menurunkan suku bunga pinjaman kepada nasabah, yang pada gilirannya
dapat meningkatkan minat dan akses masyarakat untuk meminjam uang.
Pengeluaran konsumen dan investasi perusahaan cenderung meningkat
sebagai akibatnya, karena biaya pinjaman yang lebih rendah mendorong
aktivitas ekonomi yang lebih luas
18
.
Kedua, penurunan suku bunga dapat memiliki dampak pada pasar
keuangan. Investor mungkin akan mencari alternatif yang memberikan hasil
yang lebih tinggi daripada suku bunga yang lebih rendah, sehingga
cenderung mengalokasikan dana mereka ke aset produktif seperti saham
atau properti. Ini dapat berdampak positif pada pasar modal dan mendorong
pertumbuhan ekonomi
19
. Akan tetapi, karena suku bunga tabungan juga
turun, masyarakat yang bergantung pada pendapatan bunga dari tabungan
mereka dapat terpengaruh. Selain itu, penurunan suku bunga dapat memicu
inflasi jika meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa.

17
Soemitra, A. (2017). Bank & lembaga keuangan syariah. (Prenada Media). h. 18
18
Sinaga, A. (2017). Analisis pengaruh tingkat suku bunga (BI rate), bagi hasil, inflasi dan harga emas terhadap jumlah
deposito mudharabah perbankan syariah periode 2010-2015. (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan). h.77
19
Luthfiana, H. (2018). Pengaruh Nilai Tukar, Tingkat Suku Bunga Dan Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Sektor
Properti Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. (Universitas Islam Indonesia). h.17

66444
9
3. Reserve Ratio
Reserve ratio, atau rasio cadangan, adalah persentase tertentu dari
simpanan yang harus dipegang oleh bank sebagai cadangan tunai atau
deposito pada bank sentral
20
. Ketika bank sentral ingin mengatur jumlah
uang yang beredar dalam perekonomian, mereka dapat menaikkan rasio
cadangan, misalnya dari 5% menjadi 20%
21
. Ini mengakibatkan bank harus
menahan lebih banyak uang sebagai cadangan, mengurangi ketersediaan
dana untuk dipinjamkan atau diinvestasikan, dan dapat membantu
mengendalikan inflasi. Sebaliknya, penurunan rasio cadangan akan
mendorong aktivitas ekonomi dengan menyediakan lebih banyak likuiditas
bagi bank untuk memberikan pinjaman atau investasi
22
. Instrumen ini
menjadi penting dalam repertoar kebijakan moneter bank sentral untuk
mengelola peredaran uang dan memengaruhi aktivitas ekonomi secara
keseluruhan.
Konsep Reserve Ratio atau Rasio cadangan terkait erat dengan prinsip-
prinsip dasar ekonomi syariah. Penggunaan instrumen ini untuk mengatur
jumlah uang beredar dalam ekonomi dapat dilihat sejalan dengan prinsip
keadilan, keseimbangan, dan larangan bunga dalam Islam
23
. Dengan
mengatur cadangan yang harus dipegang oleh bank, ekonomi diarahkan
untuk menjaga distribusi keadilan, menghindari praktik bunga yang
dilarang, serta mendorong transparansi, akuntabilitas, dan pemenuhan
kebutuhan masyarakat. Dalam konteks ekonomi syariah, Reserve Ratio
dapat menjadi alat yang mematuhi nilai-nilai etika dan moral Islam dalam

20
Ajuna, L. H. (2017). Kebijakan Moneter Syariah. Al-Buhuts, 13(01), 104–117.
21
Latifah, N. A. (2015). Kebijakan Moneter dalam Perspektif Ekonomi Syariah. Jurnal Ekonomi Modernisasi, 11(2), 124
22
Munir, A. S. (2017). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan perbankan syariah di Indonesia.
Ummul Qura Jurnal Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan, 9(1), 56–68.
23
Anggraini, R., & Putri, D. A. (2020). Kajian Kritis Ekonomi Syariah Dalam Menelisik Kebijakan Moneter Sebagai
Upaya Penyelamatan Perekonomian Ditengah Pandemi Covid-19. Jurnal BONANZA: Manajemen Dan Bisnis, 1(2), 80–97.

66444
10
mengelola peredaran uang dan mencapai tujuan ekonomi yang
berkelanjutan.
4. Moral suasion
Moral suasion, atau persuasi moral, merupakan suatu mekanisme di
mana bank sentral berupaya membujuk bank-bank untuk meningkatkan
permintaan kredit sebagai bagian dari tanggung jawab mereka, terutama
saat ekonomi berada dalam keadaan depresi atau lesu
24
. Dampak dari
tindakan ini adalah peningkatan pemberian kredit oleh bank-bank, yang
pada gilirannya akan menghasilkan aliran uang ke dalam ekonomi.
Tindakan ini dapat merangsang aktivitas ekonomi, membantu mengurangi
tekanan depresi ekonomi, dan memicu pertumbuhan dengan mempercepat
perputaran uang di pasar. Meskipun Moral suasion tidak memiliki kekuatan
hukum yang mengikat, namun ia mencerminkan upaya bank sentral untuk
memengaruhi tindakan bank-bank dan merangsang dinamika ekonomi.
Hal tersebut berkaitan dengan prinsip-prinsip etika ekonomi dan
tanggung jawab sosial dalam ajaran Islam. Meskipun tidak secara langsung
merujuk pada "Moral suasion", prinsip-prinsip seperti keadilan,
keseimbangan, bantuan kepada yang membutuhkan, serta amal usaha dan
pengabdian terhadap masyarakat, menjadi landasan moral yang mendukung
tindakan bank-bank dalam meningkatkan permintaan kredit saat ekonomi
mengalami depresi. Ajaran Islam mendorong bank- bank untuk
berkontribusi lebih aktif dalam situasi sulit, mengambil peran dalam
mendukung pertumbuhan ekonomi dan membantu masyarakat dalam upaya
mengatasi kesulitan ekonomi
25
. Meskipun konsep "Moral suasion" sendiri
tidak ditemukan secara eksplisit dalam sumber hukum Islam, prinsip-prinsip
tersebut memberikan dasar moral yang kuat bagi bank-bank untuk berperan

24
Ibid, Ajuna, L. H. (2017).
25
Ibid

66444
11
dalam merespon perubahan ekonomi demi kepentingan bersama dan
kesejahteraan Masyarakat
26
.

D. Kebijakan Moneter Yang Mendorong Kebijakan Fiskal
Kebijakan moneter dapat mendukung kebijakan fiskal melalui berbagai
mekanisme yang saling melengkapi, terutama dalam situasi ekonomi yang
menantang
27
. Berikut adalah beberapa contoh konkret dari sinergi antara kebijakan
moneter dan fiskal di Indonesia :

1. Program Burden Sharing: Pembelian Surat Utang Negara (SUN)
Pada tahun 2025, Bank Indonesia (BI) berencana membeli sekitar Rp150 triliun
SUN di pasar sekunder untuk menggantikan obligasi yang jatuh tempo dari program
"burden sharing" yang dilaksanakan antara 2020–2022. Program ini bertujuan
untuk mendukung pembiayaan defisit anggaran pemerintah tanpa menambah beban
utang baru. BI juga berkomitmen untuk melakukan pembelian tambahan jika
diperlukan, sesuai dengan kebutuhan likuiditas dan stabilitas pasar keuangan.

2. Kebijakan Moneter Akomodatif untuk Mendukung Stimulus Fiskal
Selama pandemi COVID-19, pemerintah Indonesia meluncurkan Program
Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan alokasi anggaran mencapai Rp695,2
triliun pada tahun 2020, yang kemudian meningkat menjadi Rp744,7 triliun pada
tahun 2021. Bank Indonesia mendukung program ini dengan menurunkan suku
bunga acuan (BI-7DRR) ke level terendah sepanjang sejarah, yakni 3,5% pada

26
Kornitasari, Y., Nabella, R. S., Ismail, M., & Manzilati, A. (2023). Pengantar Ekonomi Moneter Islam. (Universitas
Brawijaya Press)
27
Sudirman, W. (2011), Kebijakan Fiskal dan Moneter: Teori dan Empirikal, (Prenada Media)

66444
12
Februari 2021, untuk mendorong pemulihan ekonomi. Selain itu, BI membeli SUN
melalui skema burden sharing untuk mendukung pembiayaan defisit anggaran
pemerintah.

3. Sinergi dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi Makro
Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia secara rutin melakukan koordinasi
untuk menyusun bauran kebijakan (policy mix) yang mempertimbangkan stabilitas
ekonomi dan momentum pertumbuhan. Misalnya, BI menurunkan suku bunga
acuan dan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) untuk mendorong pembiayaan,
sementara pemerintah meningkatkan belanja sektor pendidikan dan infrastruktur
untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

4. Koordinasi dalam Pengendalian Inflasi dan Nilai Tukar
Dalam menghadapi inflasi pangan yang tinggi, BI bersama pemerintah melakukan
gerakan nasional pengendalian inflasi pangan dengan operasi pasar dan kerja sama
antardaerah. Selain itu, BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi
di pasar valuta asing dan penyesuaian suku bunga acuan. Kebijakan ini membantu
menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pemulihan ekonomi nasional.
28









28
Rankuty, D. M. (2024), Teori Kebijakan Moneter, Fiskal, dan Perdagangan Internasional, (Tahta Media).

66444
13
BAB III
PENUTUP


A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Kebijakan moneter didefinisikan sebagai semua tindakan yang diambil
oleh bank sentral untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar dan
suku bunga dalam perekonomian.
2. Kebijakan moneter memiliki peran penting dalam perekonomian suatu
negara. Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral memiliki
mandat untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter guna
mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Berikut adalah beberapa
fungsi utama kebijakan moneter yaitu : Mengendalikan Inflasi, Mendorong
Pertumbuhan Ekonomi, menjaga stabilitas nilai tukar, menjaga stabilitas
keuangan dan meningkatkan lapangan pekerjaan.
3. Instrumen kebijakan moneter dalam pengendalian peredaran uang adalah
alat-alat atau tindakan yang diambil oleh otoritas moneter untuk mengatur
jumlah uang yang beredar dalam perekonomian guna mencapai tujuan-
tujuan tertentu, seperti menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, dan
mendorong pertumbuhan ekonomi yang seimbang. Instrumen-instrumen ini
berperan dalam mengatur likuiditas dan peredaran uang dalam masyarakat
dengan cara yang dapat memengaruhi tingkat suku bunga, perputaran uang,
dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Berikut beberapa instrumen
utama dalam kebijakan moneter

66444
14
DAFTAR PUSTAK A



“Of Economics Household Portfolios and Monetary Policy * Raslan Alzuabi , Sarah
Brown , Alexandros Kontonikas ,” 2020.
Ajuna, L. H. (2017). Kebijakan Moneter Syariah. Al-Buhuts, 13(01),
Anggara, Windu, Nabil Shawab, M. Shabri Abd. Majid, and Isnaini Harahap.
“Economic Stability in Islamic View : Approach to Controlling Inflation.”
International Journal of Science, Technology & Management 4, no. 5
(2023): 1366–72. https://doi.org/10.46729/ijstm.v4i5.914.
Anggraini, R., & Putri, D. A. (2020). Kajian Kritis Ekonomi Syariah Dalam
Menelisik Kebijakan Moneter Sebagai Upaya Penyelamatan Perekonomian
Ditengah Pandemi Covid-19. Jurnal BONANZA: Manajemen Dan Bisnis,
1(2),
Ariadne Mael Novariani Putri, and Sri Yani Kusumastuti. “Fiscal and Monetary
Policy Interaction Post Indonesian Institutional Transformation: Vector
Autoregression Approach.” Kajian Ekonomi Dan Keuangan 6, no. 1 (2024):
17–33. https://doi.org/10.31685/kh78mn12.
Arif, M. Maula Al, and Achmad Tohari. “Peranan Kebj Moneter Dalam Menjaga
Stabilitas Ekonomi.Pdf.” Buletin Ekonomi Moneter Dan ..., 2006.
Ascarya. “201,” n.d., 283 –315. https://www.bmeb -
bi.org/index.php/BEMP/article/download/360/332.
Joseph, Charles PR, Arief Hartawan, and Firman Mochtar. “Kondisi Dan Respon
Kebijakan Ekonomi Makro Selama Krisis Ekonomi Tahun 1997-98.”
Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan 2, no. 2 (2003): 97–130.
https://doi.org/10.21098/bemp.v2i2.198.
Kornitasari, Y., Nabella, R. S., Ismail, M., & Manzilati, A. (2023). Pengantar
Ekonomi Moneter Islam. Universitas Brawijaya Press.
Latifah, N. A. (2015). Kebijakan Moneter dalam Perspektif Ekonomi Syariah.
Jurnal Ekonomi Modernisasi, 11(2),
Luthfiana, H. (2018). Pengaruh Nilai Tukar, Tingkat Suku Bunga Dan Inflasi
Terhadap Indeks Harga Saham Sektor Properti Yang Terdaftar Di Bursa
Efek Indonesia. Universitas Islam Indonesia.
Munir, A. S. (2017). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan
perbankan syariah di Indonesia. Ummul Qura Jurnal Institut Pesantren
Sunan Drajat (INSUD) Lamongan, 9(1),
Nasir , Yuslinaini , A. Hamid , Zulfan Yusuf, Zakaria. “Pertumbuhan
Ekonomi.Pdf,” 2023.
https://journal.lembagakita.org/index.php/emt/article/view/1199/919.

66444
15
Popa, Andrei. “COVID-19 Pandemic – Economic Impact and Reaction” 4 (2023):
24–35. https://doi.org/10.53486/icspm2023.03.
Priscylia, D. A. (2014). Pengaruh tingkat bunga sertifikat bank indonesia (sbi) dan
pembayaran non tunai terhadap permintaan uang di Indonesia. Jurnal
Ekonomi Pembangunan, 12(2),
Rankuty, D. M. (2024), Teori Kebijakan Moneter, Fiskal, dan Perdagangan
Internasional, (Tahta Media).
Ruslan, Gilang U Abdullah, and Taufik Enjemani. “Mekanisme Transmisi
Kebijakan Moneter Dan Ketidakpastian Ekonomi Sebagai Faktor Yang
Mempengaruhi Efektivitas Kebijakan Moneter.” MUTAWAZIN (Jurnal
Ekonomi Syariah) 5, no. 1 (2024): 58 –68.
https://doi.org/10.54045/mutawazin.v5i1.1815.
Santoso, Wijoyo, and Iskandar Simorangkir. “PENGENDALIAN MONETER
DALAM SISTEM NILAI TUKAR YANG FLEKSIBEL (Konsiderasi
Kemungkinan Penerapan Inflation Targeting Di Indonesia).” Buletin
Ekonomi Moneter Dan Perbankan 2, no. 2 (2003): 1 –42.
https://doi.org/10.21098/bemp.v2i2.195.
Sinaga, A. (2017). Analisis pengaruh tingkat suku bunga (BI rate), bagi hasil,
inflasi dan harga emas terhadap jumlah deposito mudharabah perbankan
syariah periode 2010-2015. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Medan.
Soemitra, A. (2017). Bank & lembaga keuangan syariah. Prenada Media.
Sudirman, W. (2011), Kebijakan Fiskal dan Moneter: Teori dan Empirikal,
(Prenada Media)
Sunardi, Ardi, Wilda Nur Afiah, Siti Nuranisya Fadlah, and Eko Ribawati. “Krisis
Moneter 1997-1998: Akar Penyebab, Dampak Ekonomi, Dan Kebijakan
Penanganan Di Indonesia.” Sindoro Cendekia Pendidikan 5, no. 6 (2024):
21–30.
Wardhono, A., Indrawati, Y., Qoriah, C. G., & Nasir, M. A. (2019). Perilaku
kebijakan bank sentral di Indonesia. Pustaka Abadi.
Tags