KELOMPOK 1_ LKM SESI 2. b Indonesia.docx

RezaArdiansyah42 5 views 10 slides Oct 24, 2025
Slide 1
Slide 1 of 10
Slide 1
1
Slide 2
2
Slide 3
3
Slide 4
4
Slide 5
5
Slide 6
6
Slide 7
7
Slide 8
8
Slide 9
9
Slide 10
10

About This Presentation

B Indonesia


Slide Content

LEMBAR KERJA MAHASISWA (LKM)
TUTORIAL SESI KE-2
Mata Kuliah: Desain Kurikulum Pendidikan Sekolah Dasar Untuk Pembangunan Berkelanjutan
Topik: Hakikat, Landasan, Prinsip, dan Prosedur Pengembangan Kurikulum untuk
Pembangunan Berkelanjutan (PB)
I. IDENTITAS MAHASISWA
Butir Data Isian Mahasiswa
Nama Mahasiswa 1. Octavianita Lili Rohmah
2. Nanda Tri Kusumawati
3. Siti Nuryah
4. Ayu Megaoctavia
Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 1. 857720681
2. 857720635
3. 857720707
4. 857720642
Semester / Kelas Semester 9 / B
Tanggal Pengerjaan 19 Oktober 2025
II. PETUNJUK PENGGUNAAN LKM
Selamat mengerjakan, Bapak/Ibu! LKM ini dirancang untuk membantu Anda mempraktikkan
konsep pengembangan kurikulum secara kontekstual.
1.Alat dan Sumber: Siapkan bahan ajar Sesi 2, alat tulis/komputer, dan akses internet
(untuk referensi isu Pembangunan Berkelanjutan lokal).
2.Sintaks Pembelajaran: Aktivitas di LKM ini mengikuti tahapan Project-Based Learning
(PjBL) secara ringkas, menuntut Anda tidak hanya memahami, tetapi juga
mengaplikasikan pengetahuan secara sistematis.
3.Cara Menjawab: Jawablah semua pertanyaan dan instruksi pada kolom yang tersedia
secara mandiri dan komprehensif.
III. SINTAKS PEMBELAJARAN TERINTEGRASI (PjBL)

A. TAHAP 1: MEMAHAMI & MEMBANGUN KONTEKS ( Start with the
Essential Question)
Tujuan Pembelajaran Khusus yang Didukung: Menjelaskan hakikat, landasan, dan prinsip-
prinsip umum kurikulum.
Anda telah mempelajari materi ajar mengenai Hakikat Kurikulum, Landasan, dan Prinsip-
prinsip umum pengembangannya. Saat ini, tantangan terbesar kurikulum SD adalah
menjembatani pengetahuan (konvensional) dengan aksi (PB) di tengah disrupsi digital.
Aktivitas 1.1: Menganalisis Paradigma Baru Kurikulum
Pertanyaan Mendasar:
Jika kurikulum Sekolah Dasar saat ini harus menciptakan "Warga Digital Bertanggung Jawab
yang Peduli Lingkungan," prinsip pengembangan umum mana yang paling krusial untuk
diterapkan, dan mengapa? Jelaskan dengan menghubungkan minimal tiga landasan
pengembangan kurikulum.
Prinsip Paling Krusial Alasan (Hubungkan dengan PB, Abad 21,
dan Digital)
Jawaban Mahasiswa: Prinsip Relevansi, yang sering dibagi
menjadi relevansi eksternal (kesesuaian
dengan tuntutan masyarakat dan dunia
nyata) dan relevansi internal (kesesuaian
antar komponen kurikulum), menjadi
pondasi utama untuk dua tujuan utama
tersebut yaitu Menciptakan Warga Digital
Bertanggung Jawab dan Menciptakan
Warga yang Peduli Lingkungan
Penerapan Prinsip Relevansi secara efektif
harus didukung oleh minimal tiga landasan
utama pengembangan kurikulum:
1. Landasan Sosiologis (Kebutuhan
Masyarakat)
Hubungan: Prinsip Relevansi bersandar
kuat pada Landasan Sosiologis, yang
memandang bahwa kurikulum harus
mencerminkan nilai-nilai, kebutuhan, dan
tantangan yang ada dalam masyarakat.
2. Landasan Filosofis (Tujuan Pendidikan)
Hubungan: Landasan Filosofis

memberikan arah dan tujuan akhir
pendidikan, yang kemudian diterjemahkan
oleh Prinsip Relevansi ke dalam materi dan
kegiatan yang sesuai.
3. Landasan Psikologis (Perkembangan
Peserta Didik)
Hubungan: Prinsip Relevansi memastikan
materi yang disajikan relevan dengan
tingkat perkembangan kognitif, afektif, dan
psikomotorik peserta didik sesuai
Landasan Psikologis.
Aktivitas 1.2: Cek Pemahaman Konsep
Jawablah pertanyaan berikut berdasarkan pemahaman Anda mengenai materi:
1.Jelaskan perbedaan mendasar antara landasan Filosofis dan landasan Sosiologis dalam
pengembangan kurikulum, dan berikan satu contoh isu PB yang relevan untuk masing-
masing landasan!
Jawaban Mahasiswa:
1. Landasan Filosofis berfokus pada penentuan tujuan akhir pendidikan, hakikat manusia yang
ingin dibentuk, dan nilai-nilai dasar yang akan ditanamkan. Ini berkaitan dengan "apa yang
penting dan benar" dalam hidup dan pengetahuan.
2. Landasan Sosiologis berfokus pada tuntutan, kebutuhan, dan kondisi nyata masyarakat
serta kebudayaan yang ada. Ini berkaitan dengan "bagaimana pendidikan dapat
mempersiapkan individu menjadi anggota masyarakat yang efektif" dan mewariskan budaya.
Contoh Isu PB (Pengembangan Kurikulum) yang Relevan
1. Landasan Filosofis: Penentuan Profil Lulusan
Isu PB: Apakah kurikulum harus lebih menekankan pada pengembangan kemampuan berpikir
kritis dan pemecahan masalah (Progresivisme/Rekonstruktivisme) atau lebih fokus pada
penguasaan ilmu pengetahuan esensial yang abadi dan nilai-nilai moral universal
(Perenialisme/Esensialisme)?
2. Landasan Sosiologis: Adaptasi terhadap Perubahan Sosial dan Teknologi
Isu PB: Bagaimana kurikulum merespons perkembangan masif teknologi digital dan kebutuhan
pasar kerja yang sangat cepat berubah, seperti munculnya profesi berbasis kecerdasan buatan
(AI)?
2.Sebutkan dan jelaskan dua Prinsip Khusus pengembangan komponen kurikulum yang
wajib diterapkan untuk merealisasikan keterampilan Kolaborasi (salah satu 4C Abad ke-
21) dan kaitannya dengan isu PB!
Jawaban Mahasiswa:
1. Prinsip Pengorganisasian Isi Berbasis Tugas Kompleks (Project-Based Content
Organization)

Prinsip ini menuntut komponen Isi/Materi kurikulum disusun bukan hanya berdasarkan topik
terpisah, tetapi diorganisir di seputar Proyek (Project) atau Masalah (Problem) yang autentik
dan interdisipliner (melibatkan lebih dari satu mata pelajaran). Ini memastikan pembelajaran
diarahkan pada output yang membutuhkan integrasi pengetahuan.
Kaitan dengan Kolaborasi & Isu PB:
Realisasi Kolaborasi: Tugas yang kompleks atau proyek menuntut pembagian kerja dan
interdependensi positif. Siswa harus mengandalkan keahlian anggota tim lain, menegosiasikan
ide, dan menyelesaikan konflik, yang merupakan esensi dari kolaborasi di dunia kerja.
Isu PB (Pengembangan Kurikulum): Isu utama adalah "Fragmentasi Materi vs. Integrasi."
Kurikulum tradisional cenderung memisahkan mata pelajaran. Prinsip ini mengatasi isu
tersebut dengan memaksa perancangan kurikulum untuk mengintegrasikan berbagai
kompetensi (misalnya, matematika, sains, dan komunikasi) dalam satu proyek kolaboratif.
2. Prinsip Penilaian Autentik yang Memprioritaskan Proses Kelompok (Authentic Group
Process Assessment)
Prinsip ini mengharuskan komponen Penilaian (Evaluasi) dalam kurikulum tidak hanya menilai
hasil akhir individu, tetapi secara spesifik menilai proses kerja tim menggunakan instrumen
otentik (misalnya, rubrik observasi saat diskusi, penilaian sejawat/ peer assessment, dan jurnal
refleksi kolaborasi).
Kaitan dengan Kolaborasi & Isu PB:
Realisasi Kolaborasi: Penilaian ini memastikan bahwa keterampilan lunak (soft skills)
kolaborasi—seperti komunikasi, kepemimpinan, dan penyelesaian masalah antar pribadi—
dianggap sama pentingnya dengan hasil akademis. Siswa termotivasi untuk aktif berkolaborasi
jika prosesnya juga dinilai.
Isu PB (Pengembangan Kurikulum): Isu utama adalah "Prioritas Hasil vs. Prioritas Proses."
Kurikulum sering terjebak dalam penilaian kognitif individu (ujian). Prinsip ini mengatasi isu
tersebut dengan mewajibkan sistem penilaian untuk secara akuntabel mengukur dan memberi
bobot pada perilaku kolaboratif, menjadikannya kompetensi yang wajib dikuasai, bukan hanya
kegiatan sampingan.
B. TAHAP 2: MENGAPLIKASIKAN & MERANCANG TINDAK LANJUT
(Design a Plan for the Project)
Tujuan Pembelajaran Khusus yang Didukung: Menjelaskan prinsip-prinsip khusus dan
langkah-langkah pengembangan kurikulum untuk menjawab tantangan PB, Abad 21, dan Era
Digital.
Kasus Nyata: Sekolah Inovatif "SD Pelita Alam"
SD Pelita Alam berada di daerah pesisir yang sering mengalami masalah abrasi dan
penumpukan sampah plastik. Sekolah ini bercita-cita mengembangkan kurikulum
operasionalnya agar isu PB (khususnya isu sampah dan lingkungan laut) terintegrasi ke dalam
seluruh mata pelajaran, sekaligus memanfaatkan gawai (gadget) yang dibawa siswa sebagai

sarana belajar (Era Digital).
Tugas Anda (Proyek Mini):
Sebagai konsultan ahli kurikulum, susunlah draf awal Prosedur Pengembangan Kurikulum
(Langkah 1 sampai 4) untuk SD Pelita Alam.
Sintaks PjBL & Langkah Pengembangan
Kurikulum
Instruksi Kerja (Aktivitas Mahasiswa)
Langkah 1: Analisis Kebutuhan &
Konteks
Tentukan minimal 3 data/informasi spesifik
yang harus dikumpulkan SD Pelita Alam di
tahap ini untuk memastikan kurikulumnya
relevan dengan PB, Abad 21, dan Digital.
Jawaban Mahasiswa: 1. Analisis Kebutuhan Belajar Murid Terkait
Isu Lokal (PB & Isu Lingkungan)
2. Inventarisasi Kepemilikan dan Kompetensi
Penggunaan Gawai Siswa (Digital & Abad 21)
3. Peta Kompetensi Guru dalam Integrasi Isu
Lokal dan Alat Digital (PB & Digital)
Langkah 2: Perumusan Tujuan Rumuskan 1 (satu) Tujuan Pembelajaran
(TP) yang secara jelas mengintegrasikan 3
hal (PB, Abad 21, dan Digital) sebagai hasil
dari pengembangan kurikulum ini.
Jawaban Mahasiswa (Contoh TP): TP : Peserta didik secara kolaboratif (Abad
21 - Kolaborasi) mengidentifikasi dan
menganalisis dampak penumpukan
sampah plastik dan abrasi di lingkungan
pesisir (Isu Lokal/Konten), kemudian
merancang solusi kreatif (Abad 21 -
Kreativitas/Kritis) yang dipresentasikan
dalam bentuk Infografis, Video Pendek,
atau Kampanye Daring menggunakan
gawai pribadi (Digital & PB-Produk
Diferensiasi) sesuai dengan minat dan
gaya belajar masing-masing.
1. PB : dalam bentuk Infografis, Video
Pendek, atau Kampanye Daring
menggunakan gawai pribadi sesuai
dengan minat dan gaya belajar masing-

masing.
2. Abad 21 : secara kolaboratif
mengidentifikasi dan menganalisis
dampak merancang solusi kreatif
3. Digital : dipresentasikan dalam bentuk
menggunakan gawai pribadi.
Langkah 3: Perancangan Isi/Materi Jelaskan bagaimana isu "Sampah Plastik
Pesisir" dapat diintegrasikan ke dalam dua
komponen kurikulum (misalnya, IPA dan
Seni Budaya). Sebutkan Prinsip Khusus
yang Anda gunakan di langkah ini.
Jawaban Mahasiswa: Prinsip Khusus
yang Digunakan: Integrasi Materi di IPA:
Integrasi Materi di Seni Budaya:
1. Integrasi di IPA (Fokus: Analisis Sains &
Pemecahan Masalah)
Aspek : Integrasi Singkat
Tujuan : Memahami dampak lingkungan
dan solusi sains terhadap sampah.
Aktivitas : "Investigasi & Eksperimen:
Mengklasifikasi jenis plastik di pantai,
mempelajari proses daur ulang, dan
menganalisis dampak mikroplastik pada
ekosistem."
Keterampilan : Berpikir Kritis dan
Pemecahan Masalah (merumuskan solusi
berbasis data).
2. Integrasi di Seni Budaya (Fokus:
Ekspresi Visual & Kritik Sosial)
Aspek : Integrasi Singkat
Tujuan : Mengubah isu menjadi ekspresi
artistik dan pesan sosial.
Aktivitas : "Seni Daur Ulang & Digital:
Membuat karya instalasi dari sampah
plastik sebagai kritik lingkungan, atau
mendesain Infografis Digital (Digital) untuk
kampanye penyadartahuan."
Keterampilan : Kreativitas dan Komunikasi
(menyampaikan pesan melalui karya
visual).
Langkah 4: Penetapan Proses
Pembelajaran
Usulkan 1 (satu) Strategi Pembelajaran
(misalnya PjBL atau PBL) dan jelaskan
bagaimana guru akan mengintegrasikan
gawai digital siswa untuk mendukung

tujuan PB tersebut (contoh kongkret).
Jawaban Mahasiswa: Strategi
Pembelajaran: Integrasi Digital:
Integrasi PBL dan Gawai Digital untuk
Tujuan PB (Contoh: Pengurangan Jejak
Plastik)
1. Strategi Pembelajaran:
PBL menuntut siswa bekerja dalam
kelompok untuk jangka waktu tertentu
guna memecahkan masalah nyata dan
menghasilkan produk konkret. Proyek
yang diusulkan adalah "Mengurangi Jejak
Plastik Sekolahku", yang mendukung
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (PB)
12: Konsumsi dan Produksi yang
Bertanggung Jawab.
2. Peran Gawai Digital (Ponsel/Tablet):
Penelitian dan Analisis Data Lapangan:
Guru menginstruksikan siswa
menggunakan gawai untuk mengumpulkan
data. Siswa akan mengambil foto sampah
dan mencatat lokasi serta jenisnya
menggunakan aplikasi Google Forms atau
Spreadsheet yang diakses secara real-
time. Ini memungkinkan tim untuk segera
menganalisis data mentah tentang jenis
plastik apa yang paling mendominasi di
sekolah.
Kolaborasi dan Review Bersama: Gawai
berfungsi sebagai pusat kolaborasi. Tim
menggunakan Google Docs untuk
menyusun laporan dan membuat draf ide
secara bersamaan, memastikan setiap
anggota tim berkontribusi. Diskusi tim
dapat terjadi melalui platform ini,
mengasah keterampilan kolaborasi 4C.
Publikasi dan Advokasi Aksi PB: Untuk
aksi nyata, gawai digunakan sebagai alat
produksi konten. Siswa membuat
infografis atau video kampanye singkat
yang berisi temuan data dan solusi yang
mereka usulkan (misalnya, membuat
"Bank Sampah" atau melarang
penggunaan sedotan plastik sekali pakai).
Konten ini kemudian dipublikasikan di
website atau media sosial sekolah untuk

mengadvokasi perubahan kebijakan
internal, menghubungkan hasil belajar
dengan dampak nyata pada lingkungan.
C. TAHAP 3: MEREFLEKSIKAN & MENGEVALUASI ( Evaluate the
Experience)
Tujuan Pembelajaran Khusus yang Didukung: Meninjau proses dan hasil belajar serta
merencanakan perbaikan.
Setelah menyusun draf pengembangan kurikulum mini untuk SD Pelita Alam, mari kita
refleksikan proses belajar Anda:
1.Kesulitan atau tantangan terbesar apa yang Anda hadapi saat mencoba menghubungkan
secara utuh Prinsip Kurikulum, Keterampilan Abad ke-21, dan isu Pembangunan
Berkelanjutan ke dalam langkah-langkah pengembangan kurikulum?
Jawaban Mahasiswa:
Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah Kompleksitas Operasionalisasi Lintas Disiplin
(mengubah konsep ideal menjadi tindakan nyata) dan Keterbatasan Konteks Data Spesifik.
Kompleksitas Operasionalisasi: Sulit merancang langkah-langkah kurikulum yang secara
sistematis dan terukur mengintegrasikan nilai-nilai PB (seperti keadilan sosial atau perubahan
iklim) ke dalam setiap komponen kurikulum (tujuan, materi, dan evaluasi) sambil sekaligus
menilai proses keterampilan 4C (seperti kolaborasi) secara autentik dan standar.
Keterbatasan Data Kontekstual: Kurikulum harus relevan dengan isu PB lokal (misalnya,
masalah air di satu daerah). Saya hanya memiliki data umum, bukan konteks sosial-ekonomi
spesifik di setiap lokasi sekolah, sehingga sulit membuat rekomendasi yang benar-benar utuh
dan implementatif.
2.Jika Anda adalah Kepala Sekolah SD Pelita Alam, elemen manakah dari draf kurikulum
yang Anda susun di atas yang menurut Anda paling rentan gagal saat diimplementasikan
guru di kelas? Apa saran perbaikan Anda?
Jawaban Mahasiswa:
Titik Kegagalan Utama
Komponen penilaian ini rentan gagal karena beban kerja dan subjektivitas. Guru cenderung
kembali menilai hasil akhir individu (ujian) karena:
Beban Waktu: Merancang dan menerapkan rubrik yang detail untuk mengukur kontribusi,
komunikasi, dan penyelesaian konflik setiap siswa dalam kelompok memakan waktu yang
sangat banyak dan dianggap tidak efisien.
Kekhawatiran Subjektivitas: Guru merasa sulit memberikan nilai yang adil untuk keterampilan
lunak (soft skills) seperti kolaborasi tanpa terlihat subjektif, sehingga mereka menghindari
penilaian berbasis proses.

Saran Perbaikan (Langkah Konkret)
Untuk mengatasi hal ini, saya akan fokus pada simplifikasi dan penguatan prosedur bagi guru:
Sederhanakan Rubrik: Wajibkan penggunaan rubrik minimalis yang hanya fokus pada 2-3
indikator kolaborasi esensial (misalnya: Partisipasi, Mendengarkan Aktif, dan Saling Bantu),
sehingga mudah dan cepat diamati guru.
Wajibkan Observasi Terjadwal: Tetapkan prosedur "Observasi Kolaborasi Cepat" (quick-check)
yang wajib dilakukan guru minimal dua kali selama proyek berjalan, menggunakan lembar cek
sederhana untuk memastikan proses kolaborasi diamati, bukan hanya diasumsikan.
Pelatihan Intensif: Berikan pelatihan yang fokus pada modeling (simulasi) cara guru menjadi
fasilitator sekaligus pengamat yang efisien, sehingga mereka merasa percaya diri dalam
menilai proses tanpa menambah beban administrasi yang besar.
IV. PENUTUP DAN CATATAN
Catatan Tutor (Opsional):
●Bagian ini diisi oleh Tutor setelah LKM dikumpulkan.
Cek Pemahaman Diri Mahasiswa:
Beri tanda cek ($\checkmark$) pada kolom yang sesuai:
Pernyataan Sudah Paham (5) Cukup Paham (3) Perlu Belajar Lagi
(1)
Saya mampu
menjelaskan
Prinsip Umum
Kurikulum
(Relevansi,
Fleksibilitas, dll.)

Saya mampu
menjelaskan
Prinsip Khusus
komponen
kurikulum untuk PB
dan Abad 21

Saya mampu
menyusun

langkah/prosedur
pengembangan
kurikulum secara
sistematis.
Semangat! Anda telah berhasil mempraktikkan proses penting dalam merancang
pendidikan yang responsif terhadap tantangan zaman. Ingat, kurikulum yang baik
adalah kurikulum yang hidup dan terus beradaptasi. Sampai jumpa di Sesi Tutorial
berikutnya!