LTM Presentasi Fokus Grup 2 Promkes.pptx

EgiPermadi 0 views 24 slides Oct 06, 2025
Slide 1
Slide 1 of 24
Slide 1
1
Slide 2
2
Slide 3
3
Slide 4
4
Slide 5
5
Slide 6
6
Slide 7
7
Slide 8
8
Slide 9
9
Slide 10
10
Slide 11
11
Slide 12
12
Slide 13
13
Slide 14
14
Slide 15
15
Slide 16
16
Slide 17
17
Slide 18
18
Slide 19
19
Slide 20
20
Slide 21
21
Slide 22
22
Slide 23
23
Slide 24
24

About This Presentation

Tugas promosi Kesehatan


Slide Content

Natashia Jeannet Christy 2506666104 Veni Jumiati 2506666262 Egi Permadi 2506666003 Ryane Adinda Putri Hariyati 2506666193 Fransiska Marchelina 2506666041 Selvya Muqitasyari 2406465833 Syifa nurul hikmah 2506666423 KELOMPOK FG 2 PROMOSI KESEHATAN KASUS HIPERTENSI

PENDAHULUAN Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama di masyarakat karena prevalensinya yang tinggi dan perannya sebagai faktor risiko utama penyakit kardiovaskular seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal. Secara global, hipertensi dianggap sebagai silent killer yang menyumbang angka morbiditas dan mortalitas yang besar, sehingga pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat menjadi prioritas kesehatan masyarakat (World Health Organization [WHO], n.d.). Kepatuhan konsumsi obat antihipertensi merupakan faktor penentu keberhasilan pengendalian tekanan darah jangka panjang. Perawat berperan tidak hanya pada pemberian obat tetapi juga pada edukasi, konsultasi, pemantauan efek samping, dan penguatan kepatuhan pasien. Intervensi keperawatan berbasis promosi kesehatan seperti konseling, penyuluhan kelompok, serta pendekatan self-management terbukti dapat meningkatkan kesadaran pasien usia ≥50 tahun tentang pentingnya pengendalian hipertensi, memfasilitasi kepatuhan minum obat, dan mengurangi risiko komplikasi jangka panjang (Hinkle, Cheever, & Overbaugh, 2021).

KASUS FG 2 Seorang perempuan, Ny. Y berusia 50 th datang ke Puskesmas dengan keluhan nyeri tengkuk. Saat dilakukan pengkajian, hasil pengukuran tekanan darah Ny. Y 160/90 mmHg. Ny. Y senang mengonsumsi ikan asin dan tidak mengontrol penggunaan garam. Namun jika kecapekan Ibu Y sering merasakan nyeri di tengkuk, saat itu terjadi Ibu Y hanya beristirahat saja hingga membaik. Ibu Y tidak rutin kontrol kondisi kesehatannya karena merasa tidak ada keluhan dan takut meminum obat terus menerus. Ibu Y tidak tahu banyak mengenai penyakit yang dialaminya namun ingin mengetahui lebih lanjut terkait penyakit dan penanganan yang dapat dilakukan.

PENGKAJIAN 3) Pemeriksaan Fisik Saat dilakukan pengkajian di dapatkan tekanan darah Ny. Y 160/90 mmHg, perlu dilakukan beberapa pemeriksaan fisik dan penunjang yang lebih mendalam untuk melengkapi data pemeriksaan fisik pasien. 4) Health Belief Ny. Y mengatakan tidak rutin kontrol kondisi kesehatan karena merasa tidak ada keluhan dan takut minum obat terus menerus. Ny.Y mengatakan tidak tahu banyak mengenai penyakit yang dialaminya namun ingin mengetahui lebih lanjut terkait penyakit dan penanganan yang dapat dilakukan. 1) Identitas Nama pasien : Ny. Y Usia : 50 tahun 2) Keluhan Utama Ny. Y mengatakan tidak rutin kontrol kondisi kesehatan karena merasa tidak ada keluhan dan takut minum obat terus menerus . Ny. Y mengeluh nyeri tengkuk , keluhan sering dialami terutama saat kecapekan dan hanya beristirahat saja hingga keluhan membaik . Ny. Y mengatakan senang mengkonsumsi ikan asin dan tidak mengontrol penggunaan garam. RIWAYAT KEPERAWATAN

Data Subjektif Ny. Y mengatakan tidak rutin kontrol kondisi kesehatan karena merasa tidak ada keluhan dan takut minum obat terus menerus. Ny. Y mengatakan tidak tahu banyak mengenai penyakit yang dialaminya namun ingin mengetahui lebih lanjut terkait penyakit dan penanganan yang dapat dilakukan. Ny.Y mengeluh nyeri tengkuk, keluhan sering dialami terutama saat kecapekan dan hanya beristirahat saja hingga keluhan membaik Ny. Y mengatakan senang mengonsumsi ikan asin dan tidak mengontrol penggunaan garam 2. Data Objektif Saat dilakukan pengkajian di dapatkan tekanan darah Ny. Y 160/90 mmHg, perlu dilakukan beberapa pemeriksaan fisik dan penunjang yang lebih mendalam untuk melengkapi data pemeriksaan fisik pasien. Faktor penyebab Pada kasus, Ny.Y mengatakan senang mengkonsumsi ikan asin dan tidak mengontrol penggunaan garam. Ny. Y juga mengatakan tidak rutin kontrol kondisi kesehatannya karena merasa tidak ada keluhan dan takut minum obat terus menerus. Siapa saja yang berisiko terkena masalah kesehatan tersebut Menurut laporan Kementerian Kesehatan (2024), yang merujuk pada data Survei Kesehatan Indonesia 2023 dan studi kohor PTM 2011-2021, hipertensi menduduki posisi sebagai faktor risiko kematian keempat tertinggi di Indonesia dengan kontribusi sekitar 10,2 % (Kementerian Kesehatan RI, 2024). Prevalensi hipertensi meningkat seiring usia, dengan sekitar 52,5% orang dewasa berusia 40–59 tahun dan 71,6% berusia 60 tahun ke atas menderita kondisi ini, berdasarkan data tahun 2021-2023, National Institutes of Health (NIH). ANALISA DATA PENGKAJIAN

PENGKAJIAN Karakteristik yang tertera pada kasus Klien Ny. Y berusia 50 tahun dan masuk dalam kelompok usia dewasa yang didefinisikan sebagai usia 18–59 tahun. (Kementerian Kesehatan RI, n.d.), sementara menurut Buku keperawatan Kozier & Erb’s Fundamentals of Nursing menjabarkan pembagian usia pada rentang dewasa (young, middle-aged, older), yaknia young adult 20–40 tahun, middle-aged 40–64 tahun, dan older adult ≥65 tahun.” (Berman, Snyder, & Frandsen, 2019). Menurut prevalensi, hipertensi meningkat seiring usia, dengan sekitar 52,5% orang dewasa berusia 40–59 tahun dan 71,6% berusia 60 tahun ke atas menderita kondisi ini, berdasarkan data tahun 2021-2023, National Institutes of Health (NIH). Pada kasus didapatkan Ny. Y mengatakan tidak rutin kontrol kondisi kesehatan karena merasa tidak ada keluhan dan takut minum obat terus menerus serta tidak tahu banyak mengenai penyakit yang dialaminya namun ingin mengetahui lebih lanjut terkait penyakit dan penanganan yang dapat dilakukan. Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa salah satu tantangan utama pengendalian hipertensi di Indonesia adalah rendahnya kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat secara teratur, yang berdampak pada sulitnya mencapai target pengendalian tekanan darah (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Upaya peningkatan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi menjadi bagian penting strategi nasional pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (Kementerian Kesehatan RI, 2021). Ny.Y mengeluh nyeri tengkuk, keluhan sering dialami terutama saat kecapekan dan hanya beristirahat saja hingga keluhan membaik. Ny. Y juga mengatakan senang mengkonsumsi ikan asin dan tidak mengontrol penggunaan garam. Pada pengkajian didapatkan data tekanan darah Ny. Y 160/90 mmHg.

KARAKTERISTIK DALAM KESIAPAN BELAJAR 1.. Kesiapan Fisik/Psikomotor Tidak ada hambatan 2. Kesiapan Emosi/Afektif Tidak rutin kontrol kondisi kesehatannya karena merasa tidak ada keluhan dan takut meminum obat terus menerus 3. Kesiapan Kognitif Tidak tahu banyak mengenai penyakit yang dialaminya namun ingin mengetahui lebih lanjut 4. Kesiapan Komunikasi Antusias dan bersedia terlibat secara aktif 5. Cara komunikasi Komunikasi pada orang dewasa (Generativitas vs Stagnasi) sesuai dengan teori perkembangan psikososial menurut Erik Erikson

ANALISA DATA

ANALISA DATA

DIAGNOSA KEPERAWATAN KETIDAKPATUHAN BERHUBUNGAN DENGAN KETIDAKADEKUATAN PEMAHAMAN (D.0114) NYERI KRONIS BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN METABOLIC (D.0078) MANAJEMEN KESEHATAN TIDAK EFEKTIF BERHUBUNGAN DENGAN KURANG TERPAPAR INFORMASI (D.0116).

PERENCANAAN PROMOSI KESEHATAN Melakukan edukasi terkait kondisi kesehatan Ny. Y yang mengeluh nyeri tengkuk, senang mengkonsumsi ikan asin dan tidak mengontrol penggunaan garam. Ny. Y juga mengatakan tidak rutin kontrol kondisi kesehatannya karena takut minum obat terus menerus, dan Ny. Y tidak tahu banyak tentang penyakit yang dialaminya namun ingin mengetahui lebih lanjut terkait penyakit dan penanganannya. TOPIK PROMOSI KESEHATAN

Individu : Perempuan berusia 50 tahun bernama Ny. Y SASARAN PROMOSI KESEHATAN TUJUAN UMUM TUJUAN KHUSUS Setelah dilakukan edukasi selama 45 menit Ny. Y mampu memahami terkait manajemen penyakit hipertensi Mampu menjelaskan pengertian hipertensi Mampu menjelaskan penyebab hipertensi Mampu menjelaskan komplikasi hipertensi Mampu menjelaskan mengenai kepatuhan minum obat, manfaat minum obat, dampak tidak minum obat dan cara meningkatkan kepatuhan minum obat

IMPLEMENTASI A. Manajemen Kesehatan Tidak Efektif Implementasi : Perawat memberikan penyuluhan dengan bahasa sederhana , menggunakan media visual tentang hipertensi , serta mengundang pasien untuk mengikuti kelas edukasi kesehatan rutin. Pasien menunjukkan manajemen kesehatan tidak efektif karena kurangnya pengetahuan dan kebiasaan tidak rutin kontrol . Perawat berperan memberikan edukasi mengenai hipertensi , faktor risiko ( misalnya konsumsi garam berlebih , kurang olahraga , dan stres ), serta bahaya komplikasi bila tidak dikendalikan (stroke, infark miokard , gagal ginjal ). Edukasi dilakukan dengan bahasa sederhana , menggunakan media visual (poster atau booklet) agar mudah dipahami . Selain itu , perawat mengundang pasien untuk berpartisipasi dalam program edukasi kelompok tentang hipertensi , sehingga pasien memperoleh dukungan sosial dan motivasi dari pasien lain. Intervensi ini termasuk NIC Health Education dan NOC Knowledge: Hypertension Management, dengan target pasien mampu menjelaskan penyakit dan menunjukkan kemauan untuk melakukan kontrol kesehatan secara rutin.

IMPLEMENTASI B. Nyeri Kronis Implementasi: Perawat memonitor skala nyeri secara teratur, mengajarkan teknik pernapasan dalam untuk relaksasi. Langkah awal adalah melakukan manajemen nyeri secara teratur. Perawat membantu pasien mengenali skala nyeri dengan instrumen standar, memantau faktor pencetus seperti aktivitas berlebihan, serta memberikan intervensi nonfarmakologis berupa kompres hangat, teknik relaksasi pernapasan dalam. Selain itu, pasien dilatih untuk mengatur ritme aktivitas sehari-hari agar tidak terlalu berat dan memberikan waktu istirahat yang cukup. Implementasi ini sejalan dengan NIC Pain Management dan NOC Pain Level, dengan target penurunan intensitas nyeri serta peningkatan kemampuan pasien dalam mengontrol gejala secara mandiri.

IMPLEMENTASI C. Ketidakpatuhan Minum Obat Implementasi: Perawat mendiskusikan ketakutan pasien terhadap penggunaan obat jangka panjang, memberikan testimoni kasus positif, serta melibatkan keluarga sebagai pengingat dan pendukung. Pasien mengungkapkan ketakutan untuk mengonsumsi obat secara terus-menerus. Perawat mendiskusikan pentingnya penggunaan antihipertensi jangka panjang dalam mencegah komplikasi fatal, menjelaskan efek positif kepatuhan obat, serta mengatasi ketakutan pasien dengan komunikasi terapeutik. Untuk membantu kepatuhan, perawat menyusun strategi sederhana seperti penggunaan jadwal minum obat, alarm di ponsel, atau kalender pengingat. Keluarga dilibatkan sebagai pengawas dan pendukung utama. Intervensi ini termasuk NIC Medication Management dan NOC Compliance: Medication Regimen, dengan target pasien mampu meminum obat sesuai jadwal dan tidak lagi menolak terapi rutin.

SATUAN ACARA PENYULUHAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN DENGAN HIPERTENSI Topik : Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Hipertensi Hari/tanggal : Selasa/ 7 Oktober 2025 Tempat : Jl. Mangga No 7 Sasaran : Ny. Y Tujuan Khusus : Mampu menjelaskan pengertian hipertensi Mampu menjelaskan penyebab hipertensi Mampu menjelaskan komplikasi hipertensi Mampu menjelaskan mengenai kepatuhan minum obat, manfaat minum obat, dampak tidak minum obat dan cara meningkatkan kepatuhan minum obat Tujuan Umum : Setelah dilakukan edukasi selama 45 menit Ny. Y mampu memahami terkait manajemen penyakit hipertensi ANALISA DATA DATA SUBJEKTIF Ny. Y mengatakan tidak rutin kontrol kondisi kesehatan karena merasa tidak ada keluhan dan takut minum obat terus menerus. Ny. Y mengatakan tidak tahu banyak mengenai penyakit yang dialaminya namun ingin mengetahui lebih lanjut terkait penyakit dan penanganan yang dapat dilakukan. Ny.Y mengeluh nyeri tengkuk, keluhan sering dialami terutama saat kecapekan dan hanya beristirahat saja hingga keluhan membaik Ny. Y mengatakan senang mengonsumsi ikan asin dan tidak mengontrol penggunaan garam DATA OBJEKTIF Saat dilakukan pengkajian di dapatkan tekanan darah Ny. Y 160/90 mmHg, perlu dilakukan beberapa pemeriksaan fisik dan penunjang yang lebih mendalam untuk melengkapi data pemeriksaan fisik pasien.

A. Pengertian Hiprtensi Kementerian kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2022 menyebutkan bahwa hipertensi Hipertensi adalah suatu kondisi dimana tekanan darah pada tubuh meningkat. Tekanan darah yang diukur terdapat dua jenis yakni tekanan sistolik dan tekanan diastolic. Tekanan sistolik adalah kondisi saat jantung sedang berkontraksi dan tekanan diastolic adalah saat tekanan jantung beristirahat. B. Penyebab Hipertensi 1.Faktor Genetik 2. Pola makan tidak sehat 3. Kurang aktivitas fisik 4. Stres 5. Konsumsi rokok dan alkohol 6. Obesitas 7. Penyakit Penyerta atau Komorbid MATERI PENYULUHAN AHA, 2025

C. Komplikasi Hipertensi Hipertensi menimbulkan kerusakan pada organ-organ sebagai berikut: Otak : Stroke, Ensefalopati Hipertensi Jantung: gagal jantung, penyakit jantung iskemik, diseksi aorta dan aneurism aorta Ginjal gagal ginjal kronis Mata: retinoid hipertensi, perdarahan mata, edema pupil Pembuluh darah : Aterosklerosis MATERI PENYULUHAN Jenis-jenis kepatuha minum obat Kepatuhan Total : pasien mandiri patuh minum obat dan kontrol kondisi kesehatan Kepatuha Tidak Total : pasien tidak mau minum obat/putus obat D. Kepatuhan minum obat perilaku yang penting untuk menjaga kesehatan dan berpengaruh dalam keberhasilan suatu pengobatan. Konsumsi obat hipertensi dengan disertai komplikasi dapat memungkinkan individu mendapatkan obat yang banyak dalam waktu yang bersamaan Manfaat Minum Obat Teratur 1. Membantu istirahat 2. Membantu mengendalikan emosi 3. Membantu mengendalikan perilaku 4. Membantu proses pikir (konsentrasi) 5. Membantu pasien dalam berinteraksi dengan orang lain.

. Dampak Tidak Minum Obat 1. Timbul kekambuhan 2. Timbul komplikasi penyakit lain 3. Timbul gejala terus-menerus 4. Waktu pengobatan jadi bertambah lama Cara meningkatkan kepatuhan minum obat: 1. Berikan informasi kepada pasien akan manfaat dan pentingnya pengobatan. 2. Berikan keyakinan kepada pasien akan efektifitas obat dalam penyembuhan 3. Berikan informasi resiko ketidakpatuhan minum obat 4. Adanya dukungan dari keluarga dan orang terdekat Flipchart MATERI PENYULUHAN MEDIA Poster

KEGIATAN PENYULUHAN

3. Hasil a. Ny. Y dapat menjelaskan kembali tentang pengertian hipertensi dengan bahasa sendiri b. Ny. Y dapat menjelaskan kembali tentang penyebab hipertensi dengan bahasa sendiri c. Ny. Y dapat menjelaskan kembali tentang komplikasi hipertensu dengan bahasa sendiri d. Ny. Y dapat menjelaskan kembali tentang kepatuhan minum obat, manfaat minum obat, dampak tidak minum obat dan cara meningkatkan kepatuhan minum obat bahasa sendiri EVALUASI Struktur Penyuluh memberikan materi penyuluhan dengan baik, menggunakan bahasa sederhana dan jelas sehingga Ny. Y mampu memahami, media penyuluhan tersedia, penyuluhan berjalan sesuai kontrak yang telah disepakat 2. Proses Pelaksanaan sesuai dengan perencanaan waktu, Ny. Y mengikuti dengan aktif kegiatan penyuluhan, Ny. Y menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti pada saat diskusi

Dilakukan dengan memberi soal pilihan ganda untuk mengukur pemahaman peserta tentang definisi hipertensi, penyebab, komplikasi, serta pentingnya kepatuhan minum obat. Evaluasi Kognitif Mencakup pernyataan sikap yang disertai komitmen terkait kepatuhan terhadap pengobatan dan pandangan peserta terhadap risiko hipertensi dan manfaat minum obat. 2. Evaluasi Afektif

DAFTAR PUSTAKA American Heart Association. (2025). 2025 ACC/AHA guideline for the management of high blood pressure in adults. Circulation. Diakses 22 September 2025, dari https://professional.heart.org/en/science-news/2025-high-blood-pressure-guideline/top- things-to-know Ernawati, I., Fandinata , S. S., & Permatasari , S. N. (2020). Kepatuhan konsumsi obat pasien hipertensi : Pengukuran dan cara meningkatkan kepatuhan . Gresik: Penerbit Graniti Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2021). Nursing Interventions Classification (NIC) (8th ed.). Elsevier. Jameson, J. L., Fauci, A. S., Kasper, D. L., Hauser, S. L., Loscalzo, J., & Harrison, T. R. (Eds.). (2022). Harrison’s principles of internal medicine (21st ed.). McGraw-Hill. Kang, S., Amagai, M., Bruckner, A. L., Enk, A. H., Margolis, D. J., McMichael, A. J., & Orringer , J. S. (Eds.). (2023). Fitzpatrick’s dermatology (10th ed.). McGraw-Hill. Kaushansky , K., Prchal, J. T., Levi, M. M., Press, O. W., Burns, L. J., & Linch , D. C. (Eds.). (2021). Williams hematology (10th ed.) . McGraw-Hill. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Pedoman pengendalian hipertensi . Jakarta: Kemenkes RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Mengenal penyakit hipertensi . Diakses 20 September 2025, dari https://upk.kemkes.go.id/new/mengenal-penyakit-hipertensi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI Kumar, V., Abbas, A. K., & Aster, J. C. (2020). Robbins & Cotran : Pathologic basis of disease (10th ed.) . Elsevier.
Tags