Ma’asyiral muslimIn a’azzakumullah
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita
semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa
berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada
Allah subhanahu wata’ala. Dengan menjalankan semua kewajiban
dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah
Hal paling mulia yang Allah anjurkan bagi segenap hamba-Nya
adalah sikap saling berwasiat dalam kebenaran dan saling
menasihati dalam kebaikan.
Oleh karena itu, pada kesempatan yang mulia ini, di bulan yang
dipenuhi dengan kebaikan ini, izinkan kami menyampaikan nasihat
Ramadhan untuk diri kami sendiri dan saudara-saudara semua
dengan satu nasihat yang diajarkan al-Quran dan sunnah baginda
nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pertama: Mohon Pertolongan Allah
Pertama, sesuatu yang dapat menolong kita semua hingga dapat
memastikan diri bahwa setiap ibadah kita diterima oleh
Allah subhanahu wata’ala serta berada dalam posisi yang
diharapkan adalah menghadirkan sikap al-isti’aanah billaahi
ta’ala (memohon pertolongan Allah subhanahu wata’ala).
Selanjutnya, menghadirkan pengetahuan kita yang disertai dengan
keyakinan bahwa ibadah kita, rehat kita, dan rasa tenangnya kita
dalam menjalani hari-hari ini, semua itu dapatlah kita wujudkan
hanya dengan mengembalikan semuanya kepada Allah dengan
disertai permohonan akan pertolongan-Nya.
Paling tidak dengan mengembalikan semua urusan kita kepada Allah
dengan disertai memohon pertolongan-Nya, kita akan mendapatkan
dua pelajaran sekaligus.
Pelajaran pertama, kita mengakui bahwa diri kita lemah di hadapan
Rabb Allah subhanahu wata’ala. Bahkan kita pun lemah untuk dapat
berdiri sendiri dalam melakukan ketaatan.
Pelajaran kedua, hadirnya keyakinan dalam diri, bahwa tidak ada
Dzat yang dapat menolong kita untuk memperoleh kebaikan dalam
urusan agama dan dunia, kecuali Allah ‘azza wajalla.
Jadi, siapa yang Allah tolong, dialah yang betul-betul tertolong, dan
siapa yang Allah hinakan, dialah makhluk yang hina. Wal ‘iyadzu
billah.
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, dalam kitabnya I’lam al
Muwaqqi’in ‘an rabbil ‘alamin (2/123),
ُمُْﻷا َمَدَع ْنَم ْمُهاَقْشَأَو ،ِبْوُلْطَمْلا ىَلِإ ِةَياَدِهْلاَو ِةَناَعِتْسِْﻻاَو ِةَداَبِعْلا ُلْهَأ ِقْلَخلا ُدَعْسَأ ُرْو
.ُةَثَﻼﱠثلا
“Makhluk yang paling bahagia adalah (1) hamba ahli
ibadah,(2) hamba yang senantiasa memohon pertolongan
Allah, dan (3) hamba yang senantiasa memohon hidayah agar
ditunjukkan pada yang diharapkan. Sementara makhluk yang paling
celaka adalah ia yang tidak memenuhi ketiga hal tersebut dalam
dirinya.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Kedua: Ikhlas Karena Allah
Nasihat Ramadhan yang kedua adalah agar kita memastikan diri
bahwa ibadah kita betul-betul bernilai kualitas tinggi, maka hal yang
perlu untuk selalu diikhtiarkan adalah Ikhlaashu ddiin lillaahi ‘azza
wajalla.
Yaitu agar bagaimana ibadah kita ini murni karena dan untuk Allah
semata, tidak untuk yang lainnya.
Terlebih saat kita berada di bulan yang mulia, bulan suci Ramadhan.
Setiap aktivitas yang dilakukan untuk dan karena Allah atau ikhlas,