PERBARENGAN (SAMENLOOP) DAN PENGULANGAN TINDAK PIDANA (RESIDIVIS)
MutiaJawazMuslim
0 views
23 slides
Oct 15, 2025
Slide 1 of 23
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
About This Presentation
PERBARENGAN (SAMENLOOP) DAN PENGULANGAN TINDAK PIDANA (RESIDIVIS)
Size: 81.94 KB
Language: none
Added: Oct 15, 2025
Slides: 23 pages
Slide Content
PERBARENGAN (SAMENLOOP)
DAN PENGULANGAN TINDAK
PIDANA (RESIDIVIS)
Oleh :
Mutia Jawaz Muslim S.H,M.H.
A. PERBARENGAN/GABUNGAN
TINDAK PIDANA
Samenloop Van Strafbaar feten (Belanda)
Concursus(Latin)
Terjadinya dua atau lebih tindak pidana oleh satu orang dimana tindak pidana yang dilakukan pertama kali belum dijatuhi pidana, atau
antara tindak pidana yang awal dengan tindak pidana berikutnya belum dibatasi oleh suatu keputusan hakim.
Dasar hukum : Ps. 63 – 71 KUHP
Alasan pembentuk UU :
1.Pertimbangan Psikologi
2.Pertimbangan dari segi kesalahan si pembuat
Concursus Idealis
•Ps. 63 KUHP
•Satu perbuatan yang masuk ke dalam lebih dari satu aturan pidana yang tidak dapat dipisah2kan.
•Dikenakan satu saja ketentuan pidana yang pidana pokoknya paling berat.
•Contoh?
•Orang memperkosa perempuan di tempat umum.
•Memperkosa (Ps. 285) 12 tahun penjara.
•Merusak Kesopanan (Ps. 281) 2 tahun 8 bulan.
•Pasal terberat: Memperkosa (Ps. 285)
Perbuatan berlanjut
•Ps. 64 KUHP
•Seseorang melakukan beberapa perbuatan (kejahatan atau pelanggaran), dan perbuatan-perbuatan itu
ada hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.
•Dihukum dengan ancaman pidana tertinggi
Kriteria “Perbuatan
berlanjut”
•Harus ada satu keputusan kehendak
•Masing-masing perbuatan harus sejenis
•Tenggang waktu antara perbuatan-perbuatan itu tidak terlalu lama.
•Contoh?
•Seorang bendaharawan mencuri uang perusahaannya sedikit demi sedikit
setiap bulannya selama bertahun2.
Concursus Realis
•Seseorang melakukan beberapa perbuatan, dan masing-masing perbuatan itu berdiri sendiri sebagai suatu tindak pidana (tidak
perlu sejenis dan tidak perlu berhubungan).
•Belum ada yang dijatuhkan hukuman oleh pengadilan
•Dasar hukum : Pasal 65-66 KUHP
•Hukuman : pidana tertinggi+1/3
Jenis – Jenis Concursus Realis
1.Concursus Realis yang pidana pokoknya sejenis
2.Concursus Realis yang pidana pokoknya tidak sejenis
3.Concursus Realis antara Kejahatan dan Pelanggaran
4.Concursus Realis antara Pelanggaran dan Pelanggaran
5.Concursus realis antara kejahatan-kejahatan ringan
Concursus Realis yang pidana
pokoknya sejenis (Ps 65 KUHP)
•Jumlah maksimum pidana tidak boleh melebihi dari
maksimum terberat ditambah sepertiga.
•Misal A melakukan tiga kejahatan yang masing-masing
diancam pidana penjara 4 tahun, 5 tahun, dan 9 tahun,
maka yang berlaku adalah 9 tahun + (1/3 x 9) tahun = 12
tahun penjara.
•Jika A melakukan dua kejahatan yang diancam dengan
pidana penjara 1 tahun dan 9 tahun, maka berlaku 1
tahun + 9 tahun = 10 tahun penjara.
–Tidak dikenakan 9 tahun + (1/3 x 9) tahun, karena 12
tahun melebihi jumlah maksimum pidana 10 tahun.
Concursus Realis yang pidana
pokoknya tidak sejenis (Ps 66
KUHP)
•Semua jenis ancaman pidana untuk tiap-tiap kejahatan dijatuhkan, tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana
terberat ditambah sepertiga.
•Misalkan A melakukan dua kejahatan yang masing-masing diancam pidana 9 bulan kurungan dan 2 tahun penjara.
•Maka maksimum pidananya adalah 2 tahun + (1/3 x 2 tahun) = 2 tahun 8 bulan.
•Karena semua jenis pidana harus dijatuhkan, maka hakim misalnya memutuskan 2 tahun penjara 8 bulan kurungan.
Concursus Realis antara
Kejahatan dan Pelanggaran
•Menggunakan sistem kumulasi yaitu jumlah
semua pidana yang diancamkan tanpa dikurangi.
Concursus Realis antara
Pelanggaran dan
Pelanggaran
•Pasal 70 KUHP
•Menggunakan sistem kumulasi yaitu jumlah semua pidana yang diancamkan.
•Namun jumlah semua pidana dibatasi sampai maksimum 1 tahun 4 bulan kurungan.
Concursus realis antara
kejahatan-kejahatan ringan
•kejahatan-kejahatan ringan yaitu: Pasal 302 (1) (penganiayaan ringan terhadap hewan), 352
(penganiayaan ringan), 364 (pencurian ringan), 373 (penggelapan ringan), 379 (penipuan ringan), dan
482 (penadahan ringan)
•Berlaku sistem kumulasi maksimum pidana penjara 8 bulan.
B. PENGULANGAN
TINDAK PIDANA
•Residive terjadi apabila seseorang yang melakukan suatu tindak pidana dan telah dijatuhi pidana
dengan putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap, kemudian melakukan tindak pidana lagi.
•Residive menjadi alasan memperberat pidana yang akan dijatuhkan
Sistem Pengulangan Tindak Pidana :
1.Sistem Residive Umum tidak ditentukan jenis tindak pidana dan tidak ada daluarsa
2.Sistem Residive Khusus tidak semua jenis pengulangan merupakan alasan pemberatan pidana. Pemberatan hanya dikenakan
terhadap pengulangan yang dilakukan terhadap jenis tindak pidana tertentu dan yang dilakukan dalam tenggang waktu tertentu
Jenis Residive menurut KUHP
a.Residive Kejahatan Kelompok Sejenis
•Kejahatan yang diulangi harus sama/sejenis
•Sudah ada putusan hakim tetap untuk tindak pidana terdahulu
•Pelaku melakukan kejahatan pada saat menjalankan pencaharian
•Pengulangan tindak pidana dalam tenggang waktu tertentu.
b. Residive Kejahatan Kelompok Jenis
•Pasal 486 tentang kejahatan terhadap harta benda dan pemalsuan (244-48 pemalsuan mata uang,263-264 pemalsuan surat,362-365
pencurian,dll)
•Pasal 487 tentang kejahatan terhadap orang (131,140,141/penyerangan dan makar kepala negara,338-340/pembunuhan)
•Pasal 488 tentang kejahatan penghinaan dan yang berhubungan dengan penerbit/percetakan (483-484/kejahatan penerbit)
Syarat – syarat yang harus dipenuhi :
a.Kejahatan yang diulangi harus termasuk dalam satu kelompok jenis dengan kejahatan terdahulu.
b.Sudah ada putusan hakim tetap
c.Pidana yang pernah dijatuhkan hakim terdahulu berupa pidana penjara.
d.Tenggang waktu melakukan pengulangan tindak pidana adalah belum lewat 5 tahun, belum lewat tenggang waktu kadaluwarsa kewenangan menjalankan
pidana
c. Residive Pelanggaran
•Ada 14 pasal diantaranya (489,492,495,501,512,517,530,536,540,541,544,545,549)
•Pelanggaran yang diulangi harus sama atau sejenis
•Sudah ada putusan hakim yang tetap
•Belum tenggang waktu pengulangannya