ASKEP SIROSIS HEPATIS IDK 2 EDUCATION GOOD

Alfriedo008 0 views 37 slides Sep 18, 2025
Slide 1
Slide 1 of 37
Slide 1
1
Slide 2
2
Slide 3
3
Slide 4
4
Slide 5
5
Slide 6
6
Slide 7
7
Slide 8
8
Slide 9
9
Slide 10
10
Slide 11
11
Slide 12
12
Slide 13
13
Slide 14
14
Slide 15
15
Slide 16
16
Slide 17
17
Slide 18
18
Slide 19
19
Slide 20
20
Slide 21
21
Slide 22
22
Slide 23
23
Slide 24
24
Slide 25
25
Slide 26
26
Slide 27
27
Slide 28
28
Slide 29
29
Slide 30
30
Slide 31
31
Slide 32
32
Slide 33
33
Slide 34
34
Slide 35
35
Slide 36
36
Slide 37
37

About This Presentation

Education


Slide Content

“ASSALAMU’ALAIKUM wr wb”

NAMA KELOMPOK : YOLANDA IVANKA PUTRI (1130019050) NUR HIDAYAT (1123319013) NESTA ADEWATA (1130019096) FITRIANI NURHAYATI (1130019082)

ASKEP SIROSIS HEPATIS

Definisi Sirosis hepatis adalah degenerasi difus dan progresif dengan kerusakan jaringan hati hepatosit dan dengan regenerasi dan pembentukan jaringan fibrosa parut yang luas padat.(Marjorie Beyers, 2014) Sirosis Hepatis adalah penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul  (dr. Pengarapen Tarigan, 2016).

Etiologi Penyebab yang pasti dari Sirosis Hepatis sampai sekarang belum jelas.Adapun  factor predisposisinya: a. Alkohol b. Faktor keturunan dan malnutrisi c. Hepatitis virus d. Obat-obatan hepatotoksik e. Kelainan-kelainan genetik yang diturunkan/diwariskan f. Kolestasis, Atresia bilier

Patofisiologi Hati pada awal perjalanan penyakitnya cenderung membesar dan sel-selnya dipenuhi oleh lemak-lemak. Hati tersebut menjadi keras dan dapat diketahui melalui palpasi. Nyeri abdomen dapat terjadi akibat pembesaran hati yang cepat sehingga menyebabkan regangan pada selubung fibrosa hati (kapsule glissoni). Pada perjalanan penyakit yang lebih lanjut ukuran hati akan mengecil setelah jaringan parut menyebabkan pengerutan jaringan. Apabila dapat dipalpasi maka permukaan hati akan teraba benjol-benjol (Smeltzer, 2002).

Manifestasi Klinis 1. Pembesaran Hati ( hepatomegali ). Pada awal perjalanan sirosis, hati cendrung membesar dan sel-selnya dipenuhi oleh lemak. Hati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi tajam yang dapat diketahui melalui palpasi. Nyeri abdomen dapat terjadi sebagai akibat dari pembesaran hati yang cepat sehingga mengakibatkan regangan pada selubung fibrosa hati (kaosukalisoni). Pada perjalanan penyakit yang lebih lanjut, ukuran hati akan berkurang setelah jaringan parut sehingga menyebabkan pengerutan jaringan hati. 2. O bstruksi Portal dan Asites. 3. V arises Gastroinstestinal. Obstruksi aliran darah lewat hati yang terjadi akibat perubahan fibrotik yang mengakibatkan pembentukan pembuluh darah kolateral dalam sistem gastrolintestinal dan pemintasan (shunting) darah dari pembuluh portal ke dalam pembuluh darah dengan tekanan yang lebih rendah. 4. Edema. 5. D efisiensi Vitamin dan Anemia. Kerena pembentukan, penggunaan, dan penyimpanan vitamin tertentu yang tidak memadai (terutama vitamin A, C, dan K), maka tanda-tanda defisiensi vitamin tersebut sering dijumpai khususnya sebagai fenomena hemoragi yang berkaitan dengan defisiensi vitamin K.

Test Diagnostik a.    Pemeriksaan Laboratorium 1. Pada darah dijumpai HB rendah, anemia normokrom nomosister, hipokrom mikrosister/hipokrom makrosister. 2. Kenaikan kadar enzim transaminase-SGOT, SGPT bukan merupakan petunjuk berat ringannya kerusakan parenkim hati, kenaikan kadar ini timbul dalam serum akibat kebocoran dari sel yang rusak, pemeriksaan billirubin, transaminase dan gamma GT tidak meningkat pada sirosis inaktif. 3. Albumin akan merendah karena kemampuan sel hati yang berkurang, dan juga globulin yang naik merupakan cerminan daya tahan sel hati yang kurang dan menghadapi stress. 4. P emeriksaan CHE (kolinesterasi). Ini penting karena bila kadar CHE turun, kemampuan sel hati turun, tapi bila CHE normal/tambah turun akan menunjukkan prognosis jelek. 5. Kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretic dan pembatasan garam dalam diet, bila ensefalopati, kadar Na turun dari 4 meg/L menunjukkan kemungkinan telah terjadi sindrom hepatorenal. 6. Pemeriksaan marker serologi seperti virus, HbsAg/HbsAb, HbcAg, HcvRNA, untuk menentukan etiologi sirosis hati dan pemeriksaan AFP (Alfa Feto Protein) penting dalam menentukan apakah telah terjadi transformasi ke arah keganasan

b.    Pemeriksaan penunjang lainnya: 1)        Radiologi : dengan barium swallow dapat dilihat adanya varises esophagus untuk konfirmasi hipertensi portal. 2)        Esofagoskopi : dapat dilihat varises esophagus sebagai komplikasi sirosis hati/hipertensi portal. 3)        Ultrasonografi : pada saat pemeriksaan USG sudah mulai dilakukan sebagai alat pemeriksaan rutin pada penyakit hati.

Terapi Terapi dan prognosis sirosis hati tergantung pada derajat komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal. Dengan kontrol pasien yang teratur pada fase dini akan dapat dipertahankan keadaan kompensasi dalam jangka panjang dan kita dapat memperpanjang timbulnya komplikasi. a.    Diet rendah protein diet hati III : Protein 1g/kg bb, 55g protein, 200 kalori), bila ada asites diberikan diet rendah garam II (600-800 mg) atau III (1000-2000 mg). Bila proses tidak aktif, diperlukan diet tinggi kalori (2000-3000) dan tinggi protein (80-125g/hari). b.   Bila ada tanda-tanda prekoma atau koma hepatikum, jumlah protein dalam makanan dihentikan (diet hati I )untuk kemudian diberikan sedikit demi sedikit sesuai toleransi dan kebutuhan tubuh. Pemberian protein yang melebihi kemampuan klien atau meningginya hasil metabolisme protein dalam darah viseral dapat mengakibatkan timbulnya koma hepatikum. Diet yang baik dengan protein yang cukup perlu diperhatikan. c.    Mengatasi infeksi dengan antibiotik, dengan pengunaan obat-obatan yang jelas tidak hepatotoksik. d.   Memperbaiki keadaan gizi, bila perlu dengan memberikan asam aminoesensial berantai cabang dan glukosa. e.    Pemberian robboransia Vitamin B kompleks. (Setya, 201 )

Komplikasi a. Komplikasi menurut Smeltzer (2002) ada dua yaitu: 1)Perdarahan dan hemorargia 2)Ensefalopati hepatic b. Komplikasi menurut Mansjoer (2009) ada dua yaitu: 1)Hematemisis melena 2)Koma hepatikum c. Komplikasi menurut Engram (2009) ada empat yaitu: 1)Encefalo hepatik yang disebabkan oleh peningkatan kadar amonia darah. 2)Asites ruang disebabkan oleh ekstravasase cairan serosa ke dalam rongga peritoneal yang disebabkan oleh peningkatan hipertensi portal, peningkatan reabsorpsi ginjal terhadap natrium dan penurunan albumin serum. 3)Sindrom hepatorenal yang disebabkan oleh dehidrasi atau infeksi. 4)Gangguan endokrin yang disebabkan oleh depresi sekresi gonadotropi.

Prognosis Penderita serosis hepatis kompensata akan menjadi dekompensata dengan angka sebesr 10 % per tahun. Penderita serosis hepatis dekompensata  mempunyai angka ketahanan hidup 5 tahun, hanya sekitar 20 %, ascites adalah tanda awal adanya dekompensata. Penderita serosis hepatis dengan peritonitis bakterial spontan mempunyai angka ketahanan hidup 1 tahun sekitar 30-45 %, dan yang mengalami ensefalopati hepatik angka ketahanan hidup 1 tahun sekitar 40 %.

Kasus Klien bernama Tn. P berusia 37 thn datang kerumah sakit dengan keluhan pasien mengeluh perut terasa mual dan muntah darah sehari sebelum masuk rumah sakit, keluar muntah sebanyak 200cc, nafsu makan menurun, pusing, perut terasa nyeri, BAB berwarna kehitaman, BB menurun. Pada saat pengkajian didapatkan hasil TTV TD 110/70 mmHg, N 100 x/mnt, S 37,5 derajat celcius, RR 20 x/mnt, BB 50 Kg, TB 175 cm. Diperoleh keterangan dari keluarga klien bahwa klien sering mengkonsumsi minuman beralkohol dan klien dulu pernah mengalami sakit hepatitis

A. STATUS KESEHATAN SAAT INI Keluhan utama : pasien mengeluh perut terasa mual dan muntah darah sehari sebelum masuk rumah sakit Lama keluhan : perut mual dan muntah yang dialami pasien sehari sebelum masuk rumah sakit Kualitas keluhan : terus-menerus Faktor pencetus : mengkonsumsi minuman berakohol Faktor pemberat : alkohol Upaya yang dilakukan : berhenti meminum alkohol

B. RIWAYAT KESEHATAN Riwayat kesehatan sekarang Pasien mengeluh perut terasa mual dan muntah darah sehari sebelum masuk ke rumah sakit, keluar muntah sebanyak 200cc, pusing, perut terasa nyeri, BAB berwarna kehitaman, BB menurun. Riwayat kesehatan dahulu Pasien mengatakan pernah sakit hepatitis Alergi : pasien tidak mempunyai riwayat alergi Imunisasi : pasien tidak melakukan imunisasi akhir-akhir ini Merokok/alkohol : pasien mengkonsumsi alkohol  Riwayat kesehatan keluarga Pasien mengatakan keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit Genogram           Tn. P Ny. R .    

  Rumah Rumah sakit Makan/minum 1 kali sehari/1500cc 3 kali sehari/ 1500ml Mandi 2 kali sehari 2 kali sehari Berpakaian/berdandan Mandiri Mandiri Toileting Mandiri Mandiri Mobilitas di tempat tidur Mandiri Mandiri Berpindah Mandiri Mandiri Berjalan Mandiri Mandiri Naik tangga Mandiri Mandiri   Rumah Rumah sakit Pekerjaan Mandiri Bantuan Olah raga rutin Tidak Tidak Alat bantu jalan Tidak Tidak Kemampuan melakukan ROM Mandiri Mandiri C. BASIC PROMOTING PHYSIOLOGY OF HEALTH 1. Aktivitas dan latihan Kemampuan ambulasi dan activity daily living

2. Istirahat tidur Lama tidur : 5 jam Tidur siang :  Ya  Tidak Kesulitan tidur di RS :  Tidak  Ya, alasan: perut terasa nyeri Kesulitan tidur :  Menjelang tidur  Mudah terbangun Tidak segar saat bangun 3. Keamanan dan nyeri Nyeri :  paliatif,  provokatif, nyeri didaerah perut Quality : terus-menerus Region : perut Scale : 4 Time : sewaktu-waktu

4. Nutrisi Frekuensi makan : 1 kali sehari sebelum MRS BB/TB/IMT : 50 kg / 175 cm / 16,3 BB 1 bulan terakhir :  tetap  turun  meningkat Jenis makanan : padat Pantangan/alergi : pasien tidak memiliki pantagan Nafsu makan :  baik  kurang baik Masalah pencernaan :  mual  muntah  stomatitis  nyeri telan Riwayat operasi/trauma : pasien tidak melakukan operasi/ tidak mempunyai trauma Diet RS : pasien tidak melakukan diet RS  habis  ½ porsi  ¾ porsi  tidak habis Kebutuhan pemenuhan makan  mandiri  tergantung  dengan bantuan 5. Cairan, elektrolit, dan asam basa Frekuensi minum : 1500cc Konsumsi air/hari : 7 kali perhari Turgor kulit : Support IV line :  Ya  Tidak Jenis: Rl Dosis: 500ml  

6. Oksigenasi Sesak napas :  Ya  Tidak Frekuensi : normal Kapan terjadinya : tidak ada Faktor pencetus : tidak ada Faktor pemberat : tidak ada Batuk :  Ya  Tidak Sputum :  Ya  Tidak Nyeri dada :  Ya  Tidak   7. Eliminasi Eliminasi alvi Frekuensi : normal Warna/konsistensi : kehitaman/ lunak Penggunaan pencahar :  Ya  Tidak Gangguan eliminasi :  konstipasi  diare  inkontinensia bowel Kebutuhan pemenuhan eliminasi alvi:  mandiri  tergantung  dengan bantuan

8. Eliminasi urin Frekuensi : 1000cc Warna/darah : kuning kegelapan/ tidak ada darah Riwayat penyakit :  penyakit ginjal  trauma Penggunaan kateter :  Ya  Tidak Kebutuhan pemenuhan eliminasi uri:  mandiri  tergantung  dengan bantuan  

D. PEMERIKSAAN FISIK 1. Keadaan umum Paien tampak lemas 2. Tanda vital, tinggi badan, berat badan Suhu : 37,5°C  axilla  rectal  oral Nadi : 100 kali/menit  teratur  tidak teratur  kuat  lemah RR : 20 kali/menit  normal  cyanosis  cheynestoke  kusmaul  teratur  tidak teratur TD : 110/70 mmHg

2. Sistem tubuh B1 ( Breathing ) Hidung : tampak simetris Trakea : tidak terdapat benjolan  nyeri  dyspnea  orthopnea  cyanosis  batuk darah  napas dangkal  retraksi dada  sputum  trakeostomi  respirator Suara napas tambahan  wheezing lokasi : ___________________  ronchi lokasi : ___________________  rales lokasi : ___________________  crackles lokasi : ___________________ Bentuk dada  simetris  tidak simetris  lainnya, ginekomastia  

B2 ( Bleeding )  nyeri dada  pusing  sakit kepala  kram kaki  palpitasi  clubbing finger   Suara jantung  normal  lainnya, Edema  palpebra  anasarka  ekstremitas atas  ascites  ekstremitas bawah  tidak ada  lainnya, Capillary Refill Time = 2 detik  

B3 ( Brain )  composmentis  apatis  somnolen  spoor  koma  gelisah Glasgow Coma Scale E =4 V =5 M =6 Nilai total =15 Mata : Sklera  putih  icterus  merah  perdarahan Konjungtiva  pucat  merah muda Pupil  isokor  anisokor  miosis  midriasis Leher : tidak terdapat benjolan Refleks (spesifik): tidak ada masalah Persepsi sensori Pendengaran : normal Kiri : normal Kanan : normal Penciuman : normal Pengecapan  manis  asin  pahit Penglihatan : normal Kiri : normal Kanan : normal Perabaan  panas  dingin  tekan

B4 ( Bladder ) Produksi urine : 100 ml/hari Frekuensi : 3 kali/hari Warna : kuning kehitaman Bau : sedikit bau  oliguria  poliuri  dysuria  hematuria  nocturia  nyeri  kateter  menetes  panas  sering  inkotinen  retensi  cystotomi  tidak ada masalah  alat bantu, Lainnya,   B5 ( Bowel ) Mulut dan tenggorokan : bibir tampak kering dan pucat   Abdomen (IAPP) : Mengeluh perut terasa mual dan begah., nyeri tekan daerah epigastrum. Rectum : tidak ada maalah BAB : 1 kali/ 1 hari Konsistensi : lunak  diare  konstipasi  feses berdarah  tidak terasa  lavement  kesulitan  melena  colostomy  wasir  pencahar  tidak ada masalah  alat bantu,  diet khusus, ­­­­­­­­­­­

B6 ( Bone ) Kemampuan pergerakan sendi  bebas  terbatas Parese :  ya  tidak Paralise :  ya  tidak Kekuatan otot :   Extremitas atas :  patah tulang  peradangan  perlukaan  tidak ada kelainan Lokasi, ____________________________________ Extremitas bawah:  patah tulang  peradangan  perlukaan  tidak ada kelainan Lokasi, ____________________________________ Tulang belakang: Warna kulit :  ikterik  cyanosis  pucat  kemerahan  pigmentasi Akral :  hangat  panas  dingin basah  dingin kering Turgor :  Baik  cukup  buruk/menurun

Sistem Endokrin Terapi hormon : tidak ada Karakteristik seks sekunder: tidak ada Riwayat pertumbuhan dan perkembangan fisik :  perubahan ukuran kepala, tangan, kaki pada saat dewasa  kekeringan kulit atau rambut  exopthalmus  polidipsi  goiter  poliphagi  hipoglikemia  poliuria  intoleran panas  postural hipotensi  intoleran dingin  kelemahan Sistem Reproduksi Laki – laki Bentuk  normal  tidak normal, Kebersihan  bersih  kotor, Perempuan Payudara  simetris  asimetris  benjolan, Bentuk  normal  tidak normal, Keputihan  tidak  ya, Siklus haid = _________ hari  teratur  tidak teratur

E. PSIKOSOSIAL SPIRITUAL 1. Sosial interaksi  kenal  tidak kenal  lainnya, Dukungan keluarga  aktif  kurang  tidak ada   Dukungan kelompok/teman/masyarakat  aktif  kurang  tidak ada Reaksi saat interaksi  tidak kooperatif  bermusuhan  mudah tersinggung  defensif  curiga  kontak mata  lainnya, Konflik yang terjadi  peran  nilai  lainnya,  

2. Spiritual Konsep tentang penguasaan kehidupan  Allah  Tuhan  Dewa  Lainnya, Sumber kekuatan/harapan saat sakit  Allah  Tuhan  Dewa  Lainnya, Ritual agama yang bermakna saat ini  shalat  baca kitab suci  lainnya, Sarana/peralatan/orang yang diperlukan untuk melaksanakan ritual agama  lewat ibadah  rohaniawan  lainnya, Upaya kesehatan yang bertentangan dengan keyakinan agama  makanan  tindakan  obat  lainnya, tidak ada Keyakinan bahwa Tuhan akan menolong dalam menghadapi situasi saat ini  ya  tidak Keyakinan bahwa penyakit dapat disembuhkan  ya  tidak Persepsi terhadap penyebab penyakit  hukuman  cobaan  peringatan  lainnya,

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium 1. Pemeriksaan darah Hb: 9.0 Hematokrit : 27 Leukosit    : 10.100 Trombosit  : 117.000 MCV          : 84 MCH          : 26 MCHC        : 34 PT             : 18.0 PT Kontrol : 11.7 APTT        : 42.5 APTT control : 36.3 2. Kenaikan kadar SGOT, SGPT 3. Albumin serum menurun 4. Pemanjangan masa protombin 5. Glukosa serum : hipoglikemi 6. Fibrinogen menurun 7. BUN meningkat Pemeriksaan kadar elektrolit : hipokalemia

G. TERAPI MEDIK Pengelompokan Data Data Subjektif: Pasien mengeluh perut terasa mual dan muntah darah sehari sebelum masuk ke rumah sakit, keluar muntah sebanyak 200cc, pusing, perut terasa nyeri,BAB berwarna kehitaman, BB menurun. Data Objektif: Pasien tampak lemah, telapak tngan merah, TD 110/70 mmHg, N 100 x/mnt, S 37,5 derajat celcius, RR 20 x/mnt, BB 50 kg, TB 175 cm.

No Data Etiologi Problem 1. Data Subjektif : Pasien mengeluh perut terasa mual dan muntah darah , BB menurun Data Objektif: BB 60 kg, TB 175 cm, TD 110/70 mmHg, N 100 x/mnt, S 37,5 derajat celcius, RR 20 x/mnt, BB 50 kg, TB, 175 cm.     Fungsi hati terganggu Gangguan pempentukan empedu lemak tidak dapat diemulsikan dan tidak dapat diserap oleh usus halus   Defisit Nutrisi b.d ketidakmampuan mengabsrobsi nutrien d.d berat badan menurun 10% dibawah rentang ideal Defisit Nutrisi         Analisa Data

Daftar prioritas Masalah Keperawatan 1. Defisit Nutrisi b.d ketidakmampuan mengabsrobsi nutrien d.d berat badan menurun 10% dibawah rentang ideal 2. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis d.d mengeluh nyeri

Intervensi Intervensi Keperawatan tgl Tujuan Intervensi Rasional 02-03-2020 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi. Kriteria hasil : a.Porsi makan yang dihabiskan dari 1 (menurun) 5 (meningkat) b.Pengetahuan tentang pilihan minuman yang sehat dari (1) menurun 5 (meningkat) c.Frekuensi makan dari 1 (memburuk) 5 (membaik) d.Nafsu makan dari 1 (menurun) 5 (membaik) Manajemen Nutrisi Observasi: 1. identifikasi indikasi parenteral 2. identifikasi jenis akses parenteral yang diperlukan 3. monitor reaksi alergi pemberian nutrisi parenteral 4. monitor asupan nutrisi Terapeutik: 1. hitung kebutuha kalori 2. berikan nutrisi parenteral, sesuai indikasi Edukasi: 1. jelaskan tujuan dan prosedur pemberian nutrisi parenteral Kolaborasi: 1. kolaborasi pemasangan akses vena sentral, jika perlu 1. memberikan informasi tentang kebutuhan pemasukan. 2. buruknya toleransi terhadap mkanan banyak mungkin berhubungan dengan peningkatan tekanan asites . 3. klien cenderung mengalami luka dan pendarahan gusi dan rasa tidak enak pada mulut dimana menambah anorexia . 4. mungkin sulit untuk menggunakan BB sebagai indikator langsung status nutrisi karena ada gambaran edema/ asites . 5. glukosa menurun karena gangguan glukogenesis, penurunan simpanan glikogen, atau masukan tidak adekuat

Implementasi Tan g gal Implementasi 02-03-2020 Manajemen Nutrisi Observasi: 1. mengidentifikasi indikasi parenteral 2. mengidentifikasi jenis akses parenteral yang diperlukan 3. memonitor reaksi alergi pemberian nutrisi parenteral 4. memonitor asupan nutrisi   Terapeutik: 1. menghitung kebutuha kalori 2. memberikan nutrisi parenteral, sesuai indikasi   Edukasi: 1. menjelaskan tujuan dan prosedur pemberian nutrisi parenteral  

Evaluasi Keperawatan Tanggal Catatan Perkembangan 02-03-2020 S: Pasien mengatakan mual dan muntah berkurang O: BB 60 kg, TB 175 cm, TD 110/70 mmHg, N 100 x/mnt, S 37,5 derajat celcius, RR 20 x/mnt A: Masalah keperawatan teratasi sebagian P: Memonitoring tiap 4 jam

SEKIAN TERIMAKASIH WASSALAMU’ALAIKUM WR WB