Pengertian: Dalam bahasa Arab : Sunnah berarti jalan yang lurus dan perilaku yang terbiasa. Terminologi : perkataan, perbuatan dan diamnya Nabi (idzin/persetujuan) SunnaturRasul. Hadis : berita atau catatan tentang perbuatan, perkataan dan peridzinan Nabi.
Sedikit pertanyaan untuk kita pecahkan: Bukankah Al-Qur’an pun disampaikan melalui lisan dan perbuatan Nabi ? Lantas apa bedanya ucapan Nabi yang berupa Al-Qur’an dan ucapan Nabi yang berupa sunnah atau hadis?
Sunnah dibagi menjadi 3 macam: Sunnah Qauliyah: yakni perkataan atau sabda yang beliau sampaikan dalam berbagai kesempetan, baik berupa perintah, larangan, teguran, pujian, penjelasan, dll. Sunnah Fi’liyah: yakni segala perbuatan dan tindakan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, seperti perbuatan beliau dalam melaksanakan Shalat yang lima waktu, dll. Sunnah Taqririyah: sikap membiarkan perbuatan para Sahabat yang berarti beliau mengizinkan dan menyetujuinya.
Sunnah merupakan penjelasan operasional dari nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al-Qur’an , atau kata lain , model pengaktualisasian daripadanya dalam konteks kehidupan nyata. Maka Sunnah merupakan sumber kedua yang merupakan penjelasan rinci dari sumber pertama. Ajaran islam telah final dan secara utuh tertuang pada diri Rasulullah, dan semuanya telah tertuang dalam Sunnah dan Hadisnya. Nabi Muhammad SAW adalah makhluk ideal (baik). Rasulullah mampu berpuasa bukan karena beliau tidak pernah lapar . Rasulullah mampu bertahajjud bukan karena beliau tidak kantuk. Sifat kemanusiaan yang sama seperti kita, maka siapapun sebenarnya mampu meneladani sifat-sifat Rasul tersebut, hanya urusannya pada kemauan diri kita.
Yu kita renungkan boleh jadi secara kontekstual: Selanjutnya, Apakah Sunnah yang harus diikuti itu mencakup budaya kehidupan Rasulullah secara kontekstual di masa itu? Mengenai berbusana misalnya, apakah harus mengikuti mode berpakaian yang dikenakan Rasulullah pada saat itu?
Kaitan Sunnah dengan Al-Qur’an Sunnah sebagai penguat, sunnah menguatkan hukum yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an. Contoh: “Dan ketika Lukman berkata pada anaknya pada waktu ia mengajarnya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kedzaliman yang besar sekali (Q.S.Lukman : 13) “Demikianlah perintah Allah. Barang siapa mengagungkan apa-apa yang patut dihormat disisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya disisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak kecuali yang diterangkan kepadamu haramnya maka jauhilah olehmu berhala-berhala najis itu dan jauhkanlah perkataan dusta.” (Al-Hajj : 30) Dikuatkan oleh hadis: “Perhatikanlah! Saya akan menerangkan kepadamu sekalian sebesar-besar dosa besar (diulang 3 kali). Baiklah hai Rasulullah, sahut kami semua (para Sahabat). Mempersekutukan Allah, menyakiti kedua orang tua. Konon pada saat itu Rasulullah sedang bersandar, lalu duduk dan seraya berkata: Ingat! Perkataan dusta dan persaksian palsu. Rasulullah terus menerus mengulangi itu, sampai kami berkata : mudah-mudahan beliau menghentikannya” (Bukhari dan Muslim)
Lanjutane.. 2. Sunnah memberi penjelasan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. 3. Sunnah menetapkan hukum yang baru yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an.